Api, Tulang, dan Kail


Pengalaman manusia meninggalkan begitu banyak jejak dalam batin, begitu banyak hal yang merantai manusia ketika pikiran mandeq di masa lalu, atau terjebak di masa depan. Hidup manusia dipenuhi dengan berbagai nafsu keterikatan, begitu sulit dilepaskan. Hobi jalan-jalan ke masa lalu maupun masa depan membuat pikiran terkurung. Ia hidup seolah-olah mati, ia awas seolah-olah sedang mimpi!

Api Obor
Kemelekatan bagaikan seorang manusia membawa obor, ia bergerak melawan hembusan angin. Api dari obor justru berbalik menjilat tangannya. Api ini seharusnya dipergunakan untuk menerangi jalan, namun malah berbalik mendatangkan mara bahaya.

Manusia berbisnis untuk mendapatkan keuntungan, mengumpulkan dana dengan dalil keagamaan. Ia seolah-olah bak pahlawan yang melayani banyak orang untuk berbuat baik, namun kemelekatan menyergap, ia telan semua dana itu dan berujung mendekam di penjara. Api yang seharusnya menerangi jalan telah berubah menjadi masalah. Dana yang seharusnya sebagai cara untuk beramal telah berbalik arah menjadi malapetaka.

Api tampaknya memiliki sifat alami tidak berat sebelah, namun cara manusia menggunakannya yang menjadikanya bermanfaat atau bermasalah. Jangan menyalahkan api-nya. Uang juga demikian, uang hanyalah alat untuk menilai sesuat, alat kesepakatan bersama. Uang bisa dipergunakan dengan baik atau sebaliknya.

Anjing Menggerogoti Tulang
Kemelekatan bagaikan seekor anjing yang menggerogoti tulang. Lumrah kita ketahui bahwa itulah kebiasaan anjing, walaupun hanya sepotong tulang, ia terus menggerogotinya dengan berpikir pasti ada daging yang tersisa. Tapi apa daya karena sudah menjadi pola bagi sang anjing, karena dia melekat pada pengalaman bahwa sepotong tulang itu bisa membuatnya kenyang, alangkah bodohnya, sampai kapanpun dia tidak akan kenyang, yang ada hanyalah kelelahan bermain-main dengan tulang itu.

Manusia juga demikian, berpikir bahwa harta kekayaan bisa mendatangkan kebahagiaan, tampaknya ada benarnya sampai pada taraf tertentu. Acap kali kita mendengar kabar bahwa orang kaya mengalami depresi, keresahan, dan ketakutan, bahkan ada yang bunuh diri juga. Ia diliputi tasa takut bangkrut dan kehilangan harta kekayaanya, ia begitu melekat pada kekayaannya.

Hari demi hari selalu berpikir bahwa hanya uang yang bisa membelikannya kebahagiaan. Ia begitu kelelahan akibat berpikir untuk mendapat uang lebih banyak lagi. Ia kelelahan melindungi harta kekayaannya. Ia melupakan ternyata di dunia ini banyak faktor lain yang bisa menjadi sumber kebahagiaan.

Demikian juga mereka yang serba kekurangan dalam urusan finansial, ada diantara mereka juga merasa sangat frustasi. Namun di celah-celah itu, banyak diantara mereka merasakan kebahagiaan dan menemukan hati yang berkecukupan. Mereka sampai pada titik pengertian bahwa kebahagiaan bisa berasal dari dalam hati, tak selalu harus bergantung pada materi. Mereka bisa saja miskin secara materi tapi kaya secara hati.

Umpan di Kail
Kemelekatan bagaikan umpan di kail. Ikan melihat umpan, tak berpikir panjang langsung melahapnya. Rasanya enak, tapi tiba-tiba kail merobek mulutnya, dan dia tiba-tiba terangkat dari air. Ia meronta kesakitan, jangan berpikir ikan tidak merasa sakit, justru kesakitan luar biasa karena penderitaan kail merobek mulutnya, ketakutan luar biasa karena ia keluar dari habitat airnya.

Ada orang yang hobi memancing, sungguh menikmati memancing ikan, bahkan bahagia ketika berhasil memperdaya ikan tersebut. Manusia menikmati kesenangan di atas penderitaan makhluk lain, apakah itu benar kesenangan? Bagi Anda yang masih suka memancing, berhentilah sekarang juga, tak layak bersenang di atas penderitaan ikan.

Zaman sekarang malah lebih canggih, ada umpan palsu, dan ikan hanya mengikuti polanya, langsung menyergap umpan itu, setelah disergap, kail tajam sudah siap menunggu untuk merobek mulutnya dan bahkan setelah itu dicabik-cabik untuk dijadikan pemuas lidah dan perut.

Manusia ingin memperbesar bisnisnya dengan berbagai cara, contoh melalui kredit atau meminjam uang dari seseorang atau institusi. Syukur-syukur kalau bisnisnya lancar, tapi kalau sebaliknya yang terjadi? Ia harus meminjam lebih banyak lagi, gali lubang tutup lubang. Bebas dari utang adalah sebuah kebahagiaan, jika Anda ada hutang, cepat-cepatlah melunasinya!

Pengalaman manusia sangatlah luar biasa ketika seseorang bisa menggunakan kekuatan pikiran heningnya. Jangalah sampai jatuh ke dalam jurang kemelekatan yang diumpamakan sebagai api obor, anjing menggerogoti tulang, dan umpan di kail. Jika tidak hati-hati, Anda bisa saja terperangkap di dalamnya, ada kalanya susah keluar dari situ.

Creative Commons LicenseArtikel ini boleh dikutip sebagian atau seluruhnya dengan tetap mencantumkan nama penulis dan url, tidak dimodifikasi dan non komersial. Karya ini dilindungi oleh lisensi Creative Commons License, kecuali yang tidak disebutkan demikian.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>