Inilah Beberapa Nasihat Buat Kamu yang Belum bisa Letting Go

Sore itu, ada seorang samaneri datang bertemu saya. Dia agak terlambat, tangannya membawa satu mangkok nasi beserta sayur, kemudian ada satu mangkok kecil yang berisi bihun kuah. Dia bilang barusan selesai membersihkan toilet bersama kelompok tugasnya. Sambil dia makan, saya duduk santai, ruang makan sudah hampir kosong, jadi saya bersama satu orang lagi samaneri duduk menemani dia.

Tampaknya dia sangat menikmati makanannya, saya lihat ada sayur hijau dan pare, dia mengunyah sebagaimana praktik meditasi makan, penuh perhatian. Dahinya agak basah, mungkin karena lelah membersihkan toilet. Di tempat latihan Plum Village, kami selalu dapat tugas rotasi, apakah itu memasak di dapur, kadang bekerja di kebun, membersihkan toilet, menyapu dan mengepel. Tampaknya seperti pekerjaan berat, tapi kami sudah tahu bagaimana menikmati semua itu.

Difficult Question
Tiba-tiba samaneri itu berhenti sebentar, lalu dia bilang, “Brother, I have a lot of questions that I want to ask you.” Saya kontan balas, “Okay, but today you only can ask me one question, one only.” Sambil tersenyum lebar dan dia mengernyitkan dahinya, “Okay, then I will ask the most difficult one.

Dia tanya, Bagaimana melepaskan kekecewaan, kesedihan, dan kekesalan terhadap seseorang, bahkan beberapa kali dia mendapat perlakuan buruk dari seniornya. Dia pernah sekali sedang ketawa lalu dijutekin sama senior itu, disuruh diam. Kata-katanya juga sering menyakitkan. Dia sebagai samaneri junior tidak mau frontal melawan senior, sementara hati juga merasa tertindas.”

Saya terdiam sejenak, dan dia lanjut memasukkan makanan ke mulutnya dan melanjutkan kunyah dengan penuh kesadaran. Saya bilang, “So difficult, I don’t know how to answer you.” Kami duduk diam dan saya gunakan waktu itu untuk berpikir sejenak.

Kado dan Sampah
Ah, tiba-tiba saya ingat ada sebuah kisah tentang orang membawa kado untuk Buddha. Dia bilang belum pernah dengar kisah itu. Jadi saya menceritakan kisah itu kepadanya. Saya tidak ingat persis dari mana sumbernya, kira-kira kejadiannya ada seseorang yang datang membawa kado kepada Buddha, lalu Buddha tidak menerima kado itu, jadi pemilik kado itu terpaksa membawa pulang kadonya. Lalu, kado ini coba diganti menjadi sampah, jadi saya tanya ke dia, “Kalau ada orang bawa sampah untukmu, maukah kamu menerimanya?” Dia geleng-geleng kepala dan matanya berkaca-kaca.

Saya bilang, “I am sorry, maybe this is not a very good story”. Dia balas, “No, no brother, this is a very good story and it hit right to my heart, I know it is very similar to what Buddha says about the second arrow.” Jadi sungguh nyata bahwa, kata-kata jelek, ocehan, nyinyiran dari orang lain itu bak sampah, ucapan seperti itu bahkan tidak bisa melukai rambutmu secuilpun, lalu kenapa harus terlalu dihiraukan? Dia kembali anguk-anguk setuju.

Dia bilang sudah tahu, tapi masih saja belum bisa melepaskan, karena dia harus bertemu orang itu setiap hari, jadi harus bagaimana dong? Waduh, saya juga geleng-geleng kepala, sungguh susah kalau begitu. Lalu saya diam sebentar lagi, dan dia lanjut menyendok dan lanjut makan.

Dodge the Fireball
Ah, saya tiba-tiba saya ada nasihat baru. Saya bilang, “You just need to dodge!” Dia tanya apa itu “dodge”. Saya jelaskan bahwa kalau ada orang yang ngomong jelek, maka kamu menghindar saja itulah “dodge”, permisi atau pamitan untuk pergi. Saya kasih contoh lain, bayangkan ada orang melempar bola api ke kamu, apakah kamu mau menyambut bola api itu? Dia kembali geleng-geleng kepala. “So this is what I called dodge the fireball”.

But, do you know that you have been holding the fireball for so long, it has been burning your hands, your mind, your heart and feeling”. Dia kembali tersentak dan berhenti makan. “I know brother, I have been keeping the fireball for so long, and it hurt me so much, but how do I let it go?

Try This
Waduh, kembali lagi pertanyaan sama. Saya bilang, em, saya balas, “You can practice letting go during your sitting meditation. You start with your in breath and out breath, following your in breath and out breath, aware of body and relaxing your body. You can talk to yourself, that my dear self, I have been holding this fireball that cause so much harm to myself, now I am letting you go.

Saya juga mengajarkan dia untuk melihat bahwa orang yang berkata-kata jelek, sindiran, ejekan, ocehan, omelan, mereka juga sangat menderita, sehingga kepahitan hatinya tumpah keluar lewat ucapan. Jadi saat meditasi, bilanglah pada diri sendiri, beritahu diri sendiri bahwa dia sangat menderita, kasihan sekali, oleh karena itu saya membuka hati untuk memaafkan dia.

Releasing
Air matanya tak tertahankan, akhirnya dia menangis. Dia bilang, “I should have asked you 2 months ago, because I have been suffering so much the last 2 months. Now I have been releasing my pain and suffering a little bit already, and I will work on your advice during my sitting meditation.

Dia menghabiskan sendok terakhir makanannya, dan meminum sup bihunnya. Kita bubar setelah dia selesai makan, dan dia sambil senyum bilang sekali lagi, “Thank you so much brother, and I will always remember your advice.”

I think you have to thank the Buddha, he is the one who shows us the way” begitu saya membalasnya, dia angguk-angguk tanda setuju. Kami pun bejalan pulang.

Creative Commons LicenseArtikel ini boleh dikutip sebagian atau seluruhnya dengan tetap mencantumkan nama penulis dan url, tidak dimodifikasi dan non komersial. Karya ini dilindungi oleh lisensi Creative Commons License, kecuali yang tidak disebutkan demikian.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>