Sang Maling dan Zen Master


Sore itu, Zen Master Shichiri Kojun sedang mendaras sutra sendirian di rumahnya, mendadak seorang maling melompat masuk sambil menodongkan sebilah pedang ke lehernya, lalu menuntut dengan nada paksa, “Kau pilih uang atau nyawa?”

Zen master itu tak bergeming sama sekali—justru merasa terusik. “Engkau bikin ribut saja di sini!” Ia membentak, “Uang ada di laci sebelah sana.” Sambil menujuk ke konter di pojok ruangan itu. “Sana, ambil sendiri saja,” tukas sang zen master seraya melanjutkan pendarasannya.

Sang maling ngesot dengan santai ke konter itu, menarik laci itu dan mengeluarkan lembaran demi lembaran uang. Tiba-tiba zen master menyerempet, “Jangan kau ambil semua uang itu! Sisakan sedikit, aku mau bayar pajak besok.”

Maling itu tercenggang dan berhenti sejenak. Itu permintaan tanpa basa-basi. Akhirnya sang maling menyisakan sedikit uang, menutup kembali laci itu dan secepat kilat melesat ke pintu keluar. Ketika dia melewati pintu lengkung itu, sang zen master berteriak lagi, kali ini lebih keras suaranya: “Hei kamu! Sudah ambil duitku kok tidak mengucapkan terima kasih? Itu tidak sopan tau.”

Sekejap itu, sang maling memutar balik badannya, mencoba menatap sang zen master dengan perasaan bercampur antara khawatir dan kekalutan. Seberkas angin bertiup mengenai rambutnya dan pakaiannya bergoyang sembari berdiri di ambang pintu dalam dan dunia luar. Cengkeraman tangannya pada pedang semakin kencang.

Shichiri melotot balik sang maling yang sedang membeku di dekat pintu, tatapannya sangat dramatis, posturnya sigap.

Setelah beberapa momen, sang maling membalas dengan datar: “Terima kasih” dan langsung menghilang tanpa menunggu balasan. Sang maling itu pernah menceritakan kisah itu kepada temannya, sambil berkelakar dia bilang sebetulnya dia lebih takut pada guru tua zen master itu daripada sebaliknya.

Beberapa minggu kemudian, sang maling tertangkap ketika sedang mencuri di tempat lain. Dia dikurung di kantor kepolisian daerah sana dan sedang di-interogasi semua detail pencuriannya. Diantara berbagai aksinya, rumah zen master Shichiri Kojun juga termasuk. Setelah pemeriksaan sekian lama, akhirnya sang maling di sidang.

Ketika Shichiri dihadirkan sebagai saksi, dan diminta untuk menceritakan insiden pencurian di rumahnya, Shichiri bilang: “Sebetulnya, orang ini tidak mencuri apa pun dari rumah saya, justru saya-lah yang memberikan uang itu kepadanya.” Shichiri melotot sang maling itu dengan mata berbinar, “Dia bahkan mengucapkan terima kasih kepadaku.”

Walaupun demikian, sang maling tetap dihukum penjara, namun hukumannya menjadi sedikit lebih ringan. Selama di penjara, ia selalu ingat zen master itu, bahkan mendapat tempat khusus di hatinya.

Beberapa tahun kemudian, ada yang mengetuk pintu rumah sang zen master. Dia membuka pintu lalu melihat sang maling berdiri di depan, ia barusan keluar dari penjara, sebuah kantong bergelantungan dipunggungnya, wajahnya juga terlihat agak kusam.

“Nah, sudah kuduga kau kemari,” Shichiri berdecak lepas. Pintu dibuka lebar dan meyambut kedatangan sang kriminal yang pernah menodongkan sebilah pedang ke lehernya, sekali lagi ia datang ke rumahnya, “Mari, silakan masuk.”

Sumber: Wisdom Pills

Creative Commons LicenseArtikel ini boleh dikutip sebagian atau seluruhnya dengan tetap mencantumkan nama penulis dan url, tidak dimodifikasi dan non komersial. Karya ini dilindungi oleh lisensi Creative Commons License, kecuali yang tidak disebutkan demikian.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>