Aku Ingin Bernapas

Photo by Avery Nielsen-Webb from Pexels

Dahulu, ada seorang master Zen yang menyendiri di gunung. Daerah itu masih asri, pepohonan tumbuh subur, udara juga sangat segar. Barangkali inilah alasan para petapa pada umumnya senang menyendiri di daerah terpencil dan sepi untuk meminimalisasi gangguan. Siddharta juga demikian, menyepi ke hutan.

Tak jauh dari gubuk master Zen itu ada air terjun. Air mengalir deras memercikkan suara indah semesta. Sang master Zen senang duduk di batu besar di pinggir air terjun untuk mempraktikkan meditasi rutinnya setiap hari. Ia seolah-olah menyatu dengan air terjun, menyatu dengan suara gemercik air, menyatu dengan suara kicauan burung.

Master Zen juga punya hobi bercocok tanam untuk mencukupi kebutuhan makanannya setiap hari. Sekali-kali dia pergi ke hutan untuk mencari buah-buahan liar untuk dimakan. Zaman sekarang orang mencari buah di supermarket, lebih tepatnya membeli. Zaman dahulu mereka pergi ke hutan untuk memintanya.

Suatu hari datanglah seorang pemuda dari desa yang tidak jauh dari kaki gunung itu. Pemuda itu mendengar dari masyarakat desa bahwa ada guru meditasi di gunung, maka datanglah dia karena rasa penasarannya. Dia juga sangat senang dengan dunia spiritual, jadi itu kesempatan baik baginya.

Pemuda itu bertemu sang master Zen yang sedang duduk bersila, matanya terpejam menikmati meditasi pagi. Master sudah tahu ada yang datang jadi dia membuka matanya kemudian tersenyum. Sang pemuda itu berlutut, tangan di depan dada membentuk kuncup teratai, lalu bilang “Guru, mohon ajarkan saya cara bermeditasi.

Master Zen bertanya balik, “Mengapa engkau ingin belajar meditasi?” Pemuda itu dengan semangat menjawab, “Saya ingin mencapai Buddha!” Master Zen itu langsung lompat dari batu tempat dia duduk bersila langsung mencekok leher pemuda itu. Langsung master Zen itu menjeburkan kepala pemuda itu ke dalam air.

Belum sempat bereaksi apa pun, pemuda itu tak berdaya. Dia berusaha sekuat tenaga untuk mengangkat kepalanya dari air sambil menyemburkan napas berulang kali, tangannya menepuk-nepuk air seperti orang gila tak keruan, kakinya menendang ke sana sini.

Setelah sekitar satu menit, master Zen menarik kepala pemuda itu. Sambil terbatuk-batuk air keluar dari mulutnya dan cepat-cepat menarik napas. Dia berusaha untuk tetap menenangkan dirinya, sambil terus bernapas masuk dan keluar.

Wajah pemuda itu tertampak begitu kesal, marah, dan bingung sekaligus. Entah mau bicara apa lagi, karena dia sendiri tidak menduga bisa diperlakukan begitu. Seolah-olah akan dibunuh hidup-hidup.

Master Zen bertanya, “Hal apa yang paling kamu inginkan ketika kepalamu di dalam air?” Masih mencoba tetap waras, pemuda itu gugup ngos-ngosan menjawab, “Bernapas, aku ingin bernapas!” Itulah jawaban spontan yang keluar dari mulutnya. Jantung pemuda itu masih berdegup kencang dan wajahnya kemerahan, masih saja terheran-heran.

Master Zen membalas, “Bagus, bagus sekali! Pulanglah kamu sekarang. Kalau keinginanmu mencapai Buddha sudah sebesar keinginan bernapas ketika kepala di dalam air, barulah datang lagi bertemu saya.” Wajah pemuda itu semakin bingung karena belum bisa mengerti maksud kata-kata dari sang master.

Pemuda itu pun kembali dengan tangan kosong, tidak mendapatkan apa pun. Sang master kembali melanjutkan meditasi duduk di atas bongkahan batu besar itu. Ia kembali menikmati duduk, menikmati suara deruh air terjun dan kicauan burung saling bersahutan.

Dalam hidup ini, hal apa yang benar-benar Anda inginkan? Ada hal-hal yang Anda inginkan, tapi itu seperti panas-panas taik ayam. Anda menginginkannya karena lagi trending atau viral. Anda ingin menjadi pusat perhatian netizen, ingin tenar.

Dari hatimu paling dalam, hal apa yang Anda inginkan? Temukan keinginan terdalam dari hati. Lakukan dengan sekuat tenaga untuk mencapainya. Taklukkan dunia ini! Sebelum Anda menaklukkan dunia ini, pertama-tama taklukkanlah dirimu sendiri terlebih dahulu.

Creative Commons LicenseArtikel ini boleh dikutip sebagian atau seluruhnya dengan tetap mencantumkan nama penulis dan url, tidak dimodifikasi dan non komersial. Karya ini dilindungi oleh lisensi Creative Commons License, kecuali yang tidak disebutkan demikian.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.