May the Force be with you

Sumber foto: https://filmdaily.co/

Anda tahu Star Wars? Epic saga dunia antariksa yang sudah populer sejak tahun 1977. Tahun segitu saya saja masih belum lahir. Saya mungkin masih berkelana di dunia antah berantah yang tak pernah kuingat hingga saat ini.

Saya sering mendengar betapa bagusnya film ini. Walaupun diproduksi pada tahun jebot itu, namun efek dan teknik pembuatannya sudah dikategorikan film apik! Sepintas lalu, saya tidak tertarik dengan film ini. Jadi tidak heran, bertahun-tahun lamanya tidak pernah saya gubris.

Yoda
Sampai suatu hari, ada seorang brother dari Plum Village bercerita tentang salah satu karakter monumental di Star Wars bernama Yoda. Anda tahu Yoda? Bagi penggemar Star Wars pasti langsung tahu. Jika tidak tahu, silakan bertanya kepada mbah Google. Pikiran saya terpincut seketika. Namun masih belum cukup besar dorongan untuk mencari tahu.

Produser kondang dokumenter, Max Pugh dan Francis merilis dokumenter tentang Plum Village yang barangkali Anda pernah dengar, yaitu “Walk With Me”. Dokumenter yang merupakan potret visual nyata dari kegiatan sehari-hari Plum Village. Ketika shooting dokumenter ini, saya masih di Plum Village Perancis. Saya melihat dengan mata kepala sendiri, tidak ada take one, take two, semuanya alami.

Dokumenter ini ternyata banyak membawa tawa dan tangis kepada mereka yang menontonnya. Komunitas mindfulness menayangkan dokumenter ini dalam suasana latihan, sehingga 1,5 jam tidak terasa panjang. Menikmati dokumenter ini sebagai cara bermeditasi. Itulah pesan Bhante Thich Nhat Hanh ketika beliau menerima kedua produser itu.

Ada satu adegan dalam dokumenter itu kembali menyebutkan Yoda. Akhirnya saya bertanya kepada Wikipedia. Saya baca resensi dan melihat-lihat urutan triloginya, prekuel trilogi, dan sekuel trilogi. Tampaknya filmnya cukup menarik, karena berjalan mundur bahkan tidak berurutan. Saya masih sampai tahap membaca saja.

Aura Zen
Suatu hari, saya tidak sengaja melihat di HBO sedang putar film “The Phantom Menace”. Saya mulai terkesima dengan pasukan Jedi. Melihat bagaimana Jedi Master Qui-Gon Jinn yang menjadi mentor bagi Obi-Wan Kenobi. Serasa ada nuansa dan aura Zen Jepang.

Tidak lama kemudian mereka bertemu dengan Anakin Skywalker. Terus terang, dari sinilah saya merasa ini film memiliki makna mendalam. Ketulusan Anakin Skywalker yang membuat saya merasa ada koneksi dengan kehidupan monastik. Para monastik saya bayangkan seperti pasukan Jedi, namun mereka tidak menggunakan light saber, mereka menggunakan Deep Understanding of insight.

Dunia Zen menyebutnya The Beginners Mind (初心). Ada diantara monastik yang bisa konsisten dengan jalur ini, ada juga yang patah di tengah jalan. Buddha menyebutkan semua orang memiliki berbagai jenis benih dalam dirinya. Benih yang sering disiram yang akan tumbuh besar.

Ada faktor mentor dan lingkungan beserta faktor lainnya yang ikut berkontribusi sehingga Anakin Skywalker yang konon memiliki potensi besar malah menjadi Darth Vader sebagai peran antagonis. Saya pikir tetap perlu memberikan kesempatan kepada semua orang untuk mencoba. Sejahat-jahatnya manusia tetap memiliki benih kebaikan; demikian juga sebaliknya.

Gaya Hidup Jedi
Star Wars termasuk mahakarya dunia perfilman. George Lucas memang brilian dalam hal ini. Alur cerita tentang bagaimana pasukan jedi, aspirasi mereka, gaya hidupnya. Tampaknya elemen-elemen meditasi juga dijadikan bagian dari skripnya.

Saya melihat ada gaya hidup Jedi yang serupa dengan sistem di Plum Village. Setiap novis muda selalu dibimbing oleh seorang senior. Biksu yang sudah menerima transmisi pelita sebagai Dharma Acharya akan mendapat tugas membimbing beberapa samanera dan biksu muda. Demikian juga biksuni senior membimbing samaneri dan biksuni muda.

Sistem ini disebut mentor-mentee. Jedi juga memiliki hal serupa, seorang mentor berpengalaman nyata dalam latihan dan stabilitas mental agar bisa mematangkan stabilitas mental dari mentee yang menjadi tanggung jawab mereka. Tidak semudah mentransfer ilmu, tapi mentransfer sesuatu yang bersifat “tacid”, sulit menggunakan kata-kata atau kalimat untuk menjelaskannya dengan persis.

The Force
Satu hal lagi. Di dalam Star Wars selalu menyebutkan “May the Force be with you”. Menarik sekali kalimat ini. Anda boleh saja bayangkan sendiri apa itu Force. Mendengar dialog dalam Star Wars membuat saya sedikit mengerti dari mana asal usulnya. Bagi saya, Force adalah kekuatan alam semesta yang tersambung ke dalam “hati” setiap makhluk.

Saya lebih nyaman menyebutkan force sebagai energi kesadaran penuh (mindfulness). Energi ini yang menjadi energi kesadaran penuh seorang Buddha. Membangkitkan energi kesadaran bersama menjadi sebuah energi kolektif besar.

Plum Village menitik beratkan pada kebersamaan, together we are one. Saya mulai melihat benang merah di sana-sini, seperti jaringan laba-laba. Sebagaimana konsep interbeing yang sudah lama dipopulerkan oleh Bhante Thich Nhat Hanh. Segala sesuatu saling berkaitan, interconnected, tidak ada yang bisa berdiri sendiri secara tunggal. Segala sesuatu selalu berkaitan dengan elemen lain.

The Buddha
Seorang ketua keluarga mahasiswa buddhis barusan kontak saya. Saya diminta untuk terus menjadi spiritual advisor yang juga telah saya lakukan pada periode sebelumnya. Keluarga Mahasiswa harus bisa terus menjadikan semangat spiritual berlandaskan Buddhadharma sebagai “nyawa” utamanya.

Saya bilang ke mereka, namanya “keluarga” jadi kamu sebagai kepala keluarga. Dalam keluarga umumnya, kepala keluarga adalah Ayah. Keluarga mahasiswa buddhis itu unik, no gender discrimination, siapa pun bisa jadi kepala keluarga.

Jika posisi itu bisa ikut memberikan arah pergerakan spiritual, tentu saja saya berkenan. Lagipula saya sebagai alumni, tentu saja ingin membawa energi pembaharuan, energi sadar, energi spiritual, dan membawa “force” kepada mereka.

May the Force be with you. Itu yang saya bilang kepada ketua (kepala keluarga) barunya. I will do my best in my power to support all of you. The Force adalah kekuatan kesadaran penuh, kekuatan yang dimiliki oleh setiap manusia. The Force is the Buddha.

Creative Commons LicenseArtikel ini boleh dikutip sebagian atau seluruhnya dengan tetap mencantumkan nama penulis dan url, tidak dimodifikasi dan non komersial. Karya ini dilindungi oleh lisensi Creative Commons License, kecuali yang tidak disebutkan demikian.

5 comments on “May the Force be with you

  1. Elizabeth Jun 28, 2018 20:53

    🙏🙏🙏

  2. Stephanie S Jul 16, 2018 14:16

    Halo bhante,
    Saya barusan baca artikel ini. Ngomong2 ttg the force, saya jadi teringat buku you are the universe (author deepak chophra). Bhante apa sudah pernah baca bukunya?

    • nyanabhadra Jul 16, 2018 16:23

      Buku itu belum saya baca. Ada yang menarik? Boleh berbagi di sini? Terima kasih

      • Stephanie S Jul 17, 2018 00:29

        Sama-sama, dengan senang hati 😁
        Sebelumnya terima kasih bhante bersedia baca komen ini (initial alert: ini panjang dan kl dijelaskan rinci sbnrny lbh panjang lg hehe).

        Jd dr kecil ada bbrp hal berkaitan dgn semesta yg tdk sy pahami & selalu saya cari tahu jawabannya; mulai dr membaca, browsing internet, bertanya ke guru, ortu, teman, dll tp blm pernah dpt jawaban memuaskan.

        Bbrp bln lalu saya ketemu buku ini [authored by deepak chopra (advokat pengobatan alternatif) & co-authored by menas kafatos (fisikawan)] yg scr kebetulan bahas hal yg selama ini sy cari tahu, misal namun tdk terbatas spt: what happened before big bang? Why does the universe fit together so perfectly? they said that god created men, then who created god? What is space/dimension? Dll

        Dan stlh baca buku ini, awalnya saya bingung ini buku apaan ya kok tdk ada jwbn pastinya. Stlh saya pahami lg, menurut saya ini buku bagus (dari saya ratenya 9/10) krn jawabannya semua open ended, jd pengarang tdk menyuratkan pandangannya kpd pembaca, tp kita dituntun dgn fakta & data u/menyimpulkan sendiri jawabannya sejauh pemahaman kita

        Ada dua Insight yg saya ambil dr buku tsb: 1. segala sesuatunya pasti punya dua sisi.
        Hal ini dikarenakan selalu ada oposisi dr setiap statement (seluruh objek di semesta ini selain memiliki sifat gelombang memiliki sifat partikel jg. Gravitational force vs electromagnetic force. Coincidence vs on purpose. Dlm diri setiap org ada sisi introvert dan ada ekstrovertnya juga, dll)
        2. semesta ini beyond words, ternyata saya gali sedalam apapun juga ttp tdk bs dipahami. Setau saya Buddha sendiri tdk menjelaskan byk hal ttg semesta, krn diluar jangkauan pemikiran kita, jd lebih fokus pd hal lain yg essential.

        Kira-kira begitu. Semoga bisa tersampaikan jelas ya. Dan mungkin bhante ada pendapat?
        Ohya Bhante biasanya baca ebook atau buku fisik?

      • Stephanie S Jul 17, 2018 08:17

        *sedikit tambahan u/insight kedua yg belum tertulis.
        ….hal lain yg essential (misalnya melatih diri menjalankan sila, menjalankan dhamma, dll) krn diri kita ternyata merupakan cerminan semesta. Jadi kalau kita mencari jawaban di luar diri kita tdk akan ketemu, namun bila mencari dalam diri sendiri semua jawaban sudah ada disana. Terdengar paradoksikal namun kelihatannya semua berjalan spt itu.

        Terima kasih 🙏🏻

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.