Bolehkan Aku Menganut Dua Agama?

dua-agama

Sesi Tanya Jawab

Malam itu adalah sesi tanya jawab, semua siswa-siswi yang mengikuti program retret mindfulness diberikan kesempatan untuk bertanya, topiknya seputar latihan atau isu-isu yang berkenaan dengan sekolah, dan spiritual.

Beberapa bhante, samanera, dan samaneri sudah duduk dengan rapi di hadapan mereka. Sebelum mulai sesi itu, kami semua mendengarkan suara lonceng untuk menenangkan diri sejenak, mengamati napas dan mengizinkan seluruh badan jasmani untuk relaks.

Ternyata anak-anak sangat antusias, kami putuskan untuk menampung 5 pertanyaan terlebih dahulu, kemudian baru direspon satu per satu. Ada satu pertanyaan yang mengelitik, begini bunyinya “Bolehkan aku menganut dua agama?”

Saya kontan ketawa, bukan karena absurditas atas pertanyaan itu, namun ini pertanyaan sangat menarik dari seorang anak yang umurnya berkisar 15 tahun-an. Sungguh luar biasa, bagi saya, ini untuk pertama kalinya ada orang Indonesia yang bertanya demikian. Saya memang lama tinggal di Eropa, jadi tidak heran apabila mendapat pengaruh dari sistem pemikiran sana. Tapi anak itu tidak pernah ke luar negeri, lantas darimana ide seperti itu muncul?

Saya sangat takjub dengan pertanyaan itu. Saya menjadi sangat bersemangat untuk merespon pertanyaan itu. Saya cerita ke semua anak-anak bahwa, kalau tampak luar, saya adalah biksu yang beragama Buddha, tapi sisi dalam belum tentu “murni” 100% Buddhis, tahu kenapa? Karena Buddha juga tidak 100% Buddhis. Siddharta mendapat banyak pengaruh dari berbagai ajaran spiritual yang berkembang di India saat itu, saya juga demikian, saya banyak mendapat pengaruh dari agama yang berkembang di Indonesia.

Waktu saya masih SD, tidak ada agama lain yang bisa saya pelajari, jadi saya ikut belajar agama Islam. Waktu itu guru agama sering menceritakan tentang kisah-kisah para nabi, saya termasuk orang yang paling suka mendengar cerita. Tak heran jika saya menyimak dengan seksama semua ceritanya.

Pelajaran agama biasanya disusul oleh waktu istirahat, sang guru akan memberikan pertanyaan kepada semua murid, yang bisa menjawab dengan tepat diperbolehkan istirahat lebih awal. Coba tebak, siapa yang keluar duluan? Ya benar, saya selalu keluar duluan karena bisa menjawab dengan tepat, walaupun tidak selalu nomor 1. Kisah-kisah inspiratif para nabi membuat saya merasa dekat dengan Islam walaupun hanya dari satu sisi saja.

Waktu saya di India juga demikian, saya mencari tahu lebih banyak tentang sistem kasta, tentang Hindu, tentang Bah’ai, dan pemikir-pemikir besar, salah satunya Rabindranath Tagore, apakah Anda tahu tentang dia? Demikian juga Mahatma Gandhi.

Ketika ditanya apakah seseorang boleh menganut dua agama? Respon saya adalah kalau di Indonesia sudah jelas tidak boleh karena ada peraturan yang mengatur dan bahkan bisa dianggap aneh dan janggal, lagipula masing-masing agama memiliki prinsip berbeda-beda berkenaan dengan konteks itu. Ajaran Buddha tampaknya lebih liberal, contohnya kejadian Bhante Sariputra yang berpindah “aliran” dari Sanjaya menjadi murid Buddha, justru Buddha mewajibkan Bhante Sariputra tetap menghormati guru terdahulunya, prinsip-prinsip dari ajaran sebelumnya yang dianggap selarasa dengan ajaran Buddha tentu saja boleh diteruskan.

Apabila pertanyaan menganut dua agama ini dibawa ke luar negeri, maka jawabannya bisa sangat berbeda. Masyarakat Eropa dan Amerika tidak mewajibkan warganya beragama, karena agama adalah urusan pribadi masing-masing, jika ada seseorang yang ingin “menganut” dua agama tentu saja itu adalah pilihan masing-masing orang, negara tidak ikut campur.

Hasil obervasi pribadi saya adalah masyarakat Eropa dan Amerika cenderung mengedepankan spiritualisme, bagaimana spiritual bisa membantu mereka mengerti penderitaan, membantu mereka mengurangi stress dan frustasi, bagaimana spiritual bisa membantu mereka menumbuhkan cinta kasih, kesabaran, ketulusan, dan pengertian.

Guru saya sering menasihati sahabat-sahabat di dunia barat untuk tidak pindah agama, karena pindah agama itu seperti mencabut pohon dari tanah dan memotong akarnya. Beliau memberi contoh ada orang yang suka makan buah mangga, maka dia boleh makan mangga setiap hari. Suatu hari dia makan nenas, apakah dia telah mengkhianati mangga? Ada contoh nyata, beberapa praktisi meditasi yang berlatar belakang kristiani menjadi monastik (biku atau bikuni) di Plum Village, tapi mereka masih tetap belajar dan menjadikan alkitab sebagai pedomannya, tentu saja tidak ada larangan.

Meditasi tidak dimonopoli oleh buddhis saja, namun semua orang boleh belajar dan mempraktikkan meditasi tanpa harus menjadi buddhis, karena bagi Plum Village, menjadi buddhis atau tidak, ini sudah tidak relevan lagi pertanyaannya.

Saya banyak belajar dari kearifan Yesus Kristus, saya juga banyak terinspirasi oleh kisah-kisah Nabi, saya juga sangat senang dengan Rumi dan kisah Nashruddin Hoja, saya juga pengagum Ordo Benedict, Santo Francis dari Assisi, kisah heroik Three Kingdom terutama sang ahli strategi Zhugeliang, hingga Raja ternama dari Tibet bernama Songtsen Gampo.

Saya hanya merespon dari sudut pandang pribadi sebagai buddhis dan pemahaman yang ada saat ini, saya percaya bahwa Buddha sendiri juga bukan beragama Buddha kok. Identitas tampak luar saya gundul dan berjubah coklat ala Zen Vietnam Plum Village, namun “isi” di dalam; tak ada yang bisa menjelaskan dengan persis, karena percampuran berbagai aspek. Saya mengakui bahwa saya sebagai biksu buddhis, namun saya tidak terikat pada ajaran Buddha. Demikianlah juga respon dari Zen Master Thich Nhat Hanh, waktu itu beliau sedang memberi wejangan Dharma di Museum New Delhi, beliau bilang “I am a buddhist monk, but I am free from Buddhism”.

Creative Commons LicenseArtikel ini boleh dikutip sebagian atau seluruhnya dengan tetap mencantumkan nama penulis dan url, tidak dimodifikasi dan non komersial. Karya ini dilindungi oleh lisensi Creative Commons License, kecuali yang tidak disebutkan demikian.

10 comments on “Bolehkan Aku Menganut Dua Agama?

  1. xian cheng Apr 25, 2016 15:10

    Namo Buddhaya, 非常棒,我从来没想过要有两个宗教。为什么要两个宗教?
    非常感谢这些孩子们,让我从孩们的身上学到很多东西。

  2. Anwar Apr 27, 2016 14:31

    Saya sedikit banyak mengalami hidup dalam 2 Alam begini, saya merasa kultur ini lebih tepat di budaya Barat sedangkan di Timur tidak semudah itu menerapkannya, belajar dari dua Guru Agung atau Lebih terserah saja, asalkan Mampu (Sabar, Kritis, Jujur, Berani dll), jangan sampai stress kewalahan kecampur aduk malah tersasar, apalagi Guru Agungnya secara duniawi sudah tidak ada dan tentu ada sedikit banyak distorsi dalam Ajaran yg disampaikan sampai sekarang, saran saya ambil satu sebagai yg utama, yg lainnya untuk kita bercermin dan mengasah terus menuju Kesempurnaan, ibarat orang belajar Kuntauw, pilih dengan hati cocok aliran Taiji, BaGua, Siauwlim, WingChun dll, tapi belajar juga aliran yg lain ataupun diluar aliran seperti Aikido, MuayThai, Silat dll hingga pada akhirnya sampai Tingkat Sempurna, cuma perlu Satu Sentuhan biasa untuk menjatuhkan Lawan tanpa embel2 jurus aliran apa, (dalam dunia IT jg berlaku hal yg sama rasanya hehe) jadi mohon berhati-hatilah dalam berbicara mengenai kebebasan dalam soal ini, ini hanya sharing sy seorang pemula entah apa menurut para ahli

  3. Hong Jun 15, 2016 12:04

    Namo buddhaya Bhante, menurut saya tidak boleh menganut dua agama. Karena kita jadi tidak dapat fokus untuk mempelajari atau memperdalam agama yang kita anut. Kisah Nabi, Yesus Kristus, Sidharta Gautama menyadarkan manusia dengan kisah masing-masing. Kita pasti bingung jika kita harus menerima dari dua agama. 5etiap agama itu sama hny berbeda cara penyampaiannya. Ini hny sharing dari saya sebagai pemula yang baru mau belajar agama Budha. Terimakasih , Amitofo Bhante

    • nyanabhadra Jun 15, 2016 12:20

      Agama di dunia ini ada bagian yang serupa ada bagian yang berbeda, jadi tidak bisa bilang bahwa setiap agama itu sama. Karena memang ada sama ada beda, dua elemen itu eksis.
      Saya melihat ada beberapa bagian ajaran kristus yang mirip dengan ajaran Buddha, tapi saya tidak harus menganut Kristiani. Saya juga melihat ada bagian-bagian ajaran Islam yang senada dengan Buddhis. Saya juga melihat ada elemen-elemen dari ajaran Kongfusius yang juga memiliki kemiripian dan buddhis, Ini pandangan pribadi dari sudut pandangn personal, tapi pada ujungnya secara formal saya tetaplah masih sebagai biksu buddhis yang berlandaskan ajaran Buddha.
      Itu saja sudah membuat saya bahagia bahwa sesama agama memiliki irisan-irisan yang serupa, kita perlu mencari tahu dan mengerti irisan tersebut karena akan menjadi sumber pemersatu, jika ada bagian yang berbeda maka kita mengerti dan menghormati perbedaan itu.

      • Hong Jun 15, 2016 12:33

        Namo Buddhaya Bhante, menurut saya setiap agama itu sama karena setiap agama maksudnya baik buat umatnya. Ajaran setiap agama itu supaya manusia berada di jalan yang benar. Amitofo Bhante

  4. Hong Jun 15, 2016 12:50

    Namo buddhaya Bhante, amitofo. Benar menurut Bhante. Bhante menurut saya agama itu sama karena setiap ajaran dari beberapa agama itu mengajarkan manusia untuk berada di jalan yang benar, untuk manusia tidak melanggarnya. Setiap kesalahan ada dosanya atau karmanya ( untuk agama budha ) .. Jadi memang benar kita bisa menerima ajarannya tetapi tidak menganut agama tersebut.

    • Hong Jun 15, 2016 12:57

      Bhante, saya dapat artikel ini di perkenalkan samaneri Xian Cheng. Terima kasih bimbingan Bhante atas waktunya. Sekarang saya baru mau memulai agama buddha. jadi masih banyak yang saya belum ketahui,saya minta bimbingan dari Bhante dan Samaneri Xian Cheng. Terimakasih Bhante.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.