Ritus, Ritual, dan Spiritual

Altar Aula Meditasi @PondokSadhanaAmitayus

Semenjak lahir, setiap insan sudah menerima berbagai warisan. Buddhis menyebutkanya warisan karma dari kehidupan sebelumnya. Menerima berarti menyadari bahwa karma bajik dan non bajik eksis dalam diri seseorang sehingga tidak melekat atau menolak salah satunya.

Berbagai upaya dilakukan mengarahkan kehidupan menuju kebajikan, oleh karena itulah muncul berbagai budaya, cara-cara yang dianggap sesuai untuk mencapai tujuan itu. Cara bisa diumpamakan sebagai rakit yang menyeberangkan kita ke pantai seberang. Rakit memang dibutuhkan, namum jangan sampai melekat atau bahkan menolak.

Ritus
Masyarakat dunia telah menciptakan berbagai ritus, pada umumnya ritus berkaitan dengan upacara atau seremoni keagamaan. Sebetulnya tidak hanya terbatas dalam keagamaan saja, namun juga berkaitan dengan budaya secara umum.

Saya yakin ritus memiliki semangat awal atau ide orisinal yang memang memiliki tujuan khusus dalam ritus tersebut. Ketika ritus itu dilakukan berulang-ulang maka akan menjadi ritual. Inilah warisan yang kita peroleh dari leluhur kandung juga leluhur spiritual.

Buddhis mewarisi pendarasan paritta dalam tradisi Theravada, demikian juga salah satu ritual pendarasan sutra dan pujian kepada para Buddha dan bodhisattwa dalam tradisi Mahayana. Berkemungkinan besar sejak zaman Buddha juga sudah ada berbagai ritus namun berbentuk lebih sederhana. Contoh ritus penahbisan monastik baru hanya dilakukan secara sederhana, berbeda dengan penahbisan zaman sekarang lebih kompleks. Saya tidak berbicara mana yang lebih bagus, tapi lebih memandang dari sudut kesesuaian pada zaman ke zaman.

Kanon Pali maupun sanskerta tidak menyebutkan penekanan pada ritual. Buktinya dalam beberapa kesempatan Buddha menegaskan untuk tidak terjebak pada ritual yang sekaligus mengkonfirmasi Buddha juga tidak menolak ritual, sebab ritual memang memiliki makna mendalam.

Ritual
Ritual buddhis tradisi Mahayana sudah jelas merupakan bagian dari upaya terampil. Ritual merupakan metode lain dalam mengembangkan ketenangan, kedamaian, konsentrasi, dan kejernihan batin. Jelas dan teranglah bahwa ritual buddhis memang meditasi. Tradisi Mahayana menyebutkan 念佛 (Pinyin: Nian Fo, Skt: Buddhanusmirti) yaitu berarti merenungkan secara sadar penuh atas kualitas-kualitas Buddha, sehingga kita bisa mencapai kualitas-kualitas Buddha, sesuai dengan tekad Mahayana yaitu membangkitkan bodhicitta untuk mencapai samyaksambodhi.

Buddhanusmirti dalam bahasa pali adalah Buddhanusati. Tradisi Theravada juga memiliki ritual mendaraskan bagian Buddhanusati, Dhammanusati, dan Sanghanusati. Ritual ini untuk membangkitkan atau memproduksikan kualitas-kualitas itu dalam batin setiap orang yang mendaraskannya, dengan demikian meninggalkan jejak kebajikan dalam batin.

Jejak batin ini akan pelan-pelan termanifestasi sebagai kebiasaan atau habit. Sebaliknya, proses ini juga memberikan efek vice-versa, seseorang yang terekspos oleh berbagai kekerasan dari media sosial maka jejak itu akan membekas dalam batin. Hal demikian memperkokoh benih kekerasan yang sudah ada dalam diri seseorang. Jadi tak heran kalau generasi anak muda yang sering terekspos kekerasan juga menunjukkan kecenderungan kekerasan. Apa yang Anda semai itulah yang akan Anda tuai, selaras dengan prinsip yang diajarkan oleh Buddha.

Saya ingat ada kisah orang yang mempraktikkan pendarasan nama Buddha Amitabha, namanya Trung. Setiap pagi ritualnya adalah mendaraskan nama Buddha Amitabha bahkan sampai ribuan atau puluhan ribu kali. Dia percaya bahwa dengan mendaraskan nama Buddha Amitabha lalu dia akan terlahir ke tanah suci Sukhavati. Suatu hari ada seorang tetangganya ingin mencari tahu apakah praktik pendarasan Trung membuat dirinya semakin sabar atau tidak?

Spiritual
Jadi, suatu pagi sang tetangga menggedor-gedor pintu saat Trung sedang mendaraskan nama Buddha Amitabha. Pada awalnya Trung masih bisa tetap berkonsentrasi. Dia masih terus menggedor-gedor, sampai akhirnya Trung sudah tidak sabar lagi, langsung ia membuka pintu dan “menyemprot” tetangganya itu. Tetangganya dengan santai membalas, “Tuan Trung, saya baru memanggil namamu beberapa kali saja kok kamu sudah marah? Kamu sudah memanggil nama Buddha Amitabha beribu kali apakah dia juga marah?” Tuan Trung akhirnya mengerti.

Mengembalikan semangat awal ritual memang sangatlah penting, bukan sekedar hanya melakukan saja tanpa ada maknanya. Jika begitu, maka Itu mirip dengan burung beo atau robot, ritual yang dilakukan tidak memiliki kekuatan, tidak memiliki spirit, tidak memiliki kekuatan kesadaran. Penting untuk mengembalikan ritual ke spirit awalnya sehingga ritual bisa selalu menjadi spiritual.

Spiritual berkenaan langsung dengan kesadaran, kewaspadaan, dan konsentrasi. Ritual bisa menjadi tidak bernyawa ketika kehilangan spiritnya, apalagi sudah terbiasa melakukannya setiap hari. Sebut saja menggosok gigi adalah ritual banyak orang setiap pagi, ketika dilakukan hanya sebagai ritual saja maka manfaat yang kita peroleh tidaklah terlalu banyak, mungkin gigi tidak terlalu bersih atau mungkin saja bisa bersih.

Di Plum Village kita menjadikan ritual gosok gigi setiap hari sebagai latihan membangkitkan kesadaran, sehingga gosok gigi bisa menjadi sesuatu yang mengandung nuansa spiritual. Seseorang mengetahui bahwa ia sedang menggosok gigi, pikiran kesadaran diletakkan pada proses gosok, merasakan pasta gigi, merasakan bagaimana sikat gigi bersentuhan dengan gigi. Pikiran hadir di sini dan saat ini, inilah spiritual. Jika sambil gosok gigi lalu memikirkan tentang nasi goreng di meja makan, maka yang sedang Anda gosok itu bukanlah gigi, tapi Anda sedang gosok nasi goreng.

Ritus diciptakan karena memiliki semangat awal atau tujuannya. Ritus yang dilakukan berulang-ulang menjadi ritual. Gejala ritual yang kehilangan spiritnya tak ada bedanya dengan robot, yang disebutkan tidak memiliki “nyawa”. Jadi saya pikir penting untuk mengembalikan ritual menjadi praktik spiritual dengan menghadirkan kesadaran dan kewaspadaan (smrti dan samprajana), dalam istilah jawa menyebutkan eling lan waspodo.

Ritus menjadi ritual tidak akan ada masalah, karena selalu dilandasi dengan semangat awal yang tepat, menghadirkan spirit terdalamnya, sehingga menjadi praktik spiritual.

Creative Commons LicenseArtikel ini boleh dikutip sebagian atau seluruhnya dengan tetap mencantumkan nama penulis dan url, tidak dimodifikasi dan non komersial. Karya ini dilindungi oleh lisensi Creative Commons License, kecuali yang tidak disebutkan demikian.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>