Untukmu Kawan Para Praktisi Vegetarian

vegetarian

Beberapa potong roti ini merupakan kedubes dari cakrawala

Saya selalu merasa bersyukur karena dengan niat sendiri memilih untuk berlatih vegetarian sejak tahun 2006. Sebetulnya, sudah sejak lama saya berusaha untuk tidak makan daging. Eits, jangan salah sangka tentang daging, karena ikan juga termasuk daging. Waktu kuliah di Bandung saya sering makan di warteg. Faktanya, memang lebih hemat jika saya hanya memilih menu sayur-sayuran, apalagi dengan kondisi di Bandung tersedia banyak lalapan. Sekarang, setelah menjadi monastik lebih menunjang latihan ini dan memang dalam Winaya (aturan biksu) versi revisi yang saya terima juga menyebutkan demikian.

Sejak kecil saya juga tidak begitu doyan makan daging, namun tetap makan sedikit. Acap kali saudara dan nenek saya dengan sengaja menambahkan daging ke mangkuk makan saya. Mereka tahu saya kurang senang makan daging, maka itu “memaksa” saya tetap makan daging.

Ada Alasannya
Saya yakin segala sesuatu selalu ada alasannya. Meditasi membawa saya melihat lebih jelas alasan dibalik itu, dan akhirnya membawa saya teringat kembali pada sebuah kisah semasa kecil.

Masyarakat tempat saya tinggal cukup banyak yang berternak ayam, termasuk keluarga kami. Ayam dibiarkan berkeliaran bebas dan saat sore hari mereka kembali ke kandangnya masing-masing. Saya sangat senang melihat induk ayam bersama anak-anaknya mengais-ngais sana-sini untuk mencari makanan. Terkadang, saya jahil dan mengejar mereka. Walaupun demikian, saya merasa ada sebuah persahabatan yang tercipta antara saya dengan mereka.

Keluarga saya sangat sarat dengan tradisi leluhur dari Tiongkok sehingga setiap tahunnya kami melakukan acara sembahyang leluhur. Anda pasti tahu bahwa acara seperti itu selalu dibarengi dengan menyembelih ayam, itik, atau bahkan babi. Pernah suatu kali saat “cheng beng”, nenek saya hendak menyembelih ayam dan kebetulan saat itu saya diminta untuk membantunya. Awalnya saya menolak karena ketakutan, tapi justru berakhir dengan dimarahi bahwa anak lelaki, kok takut!

Saya ingat ketika itu saya diminta untuk memegang bagian kepala ayam dan nenek dengan cepat menggorok leher ayam tersebut. Saya tidak berani melihat bahkan memalingkan kepala. Coba Anda bayangkan, betapa seramnya waktu itu bagi anak kecil melihat pembunuhan seperti itu. Lalu, darah ayam itu diteteskan ke mangkuk yang akan dipersembahkan kepada para dewa. Ritual demikian merupakan bagian dari warisan turun-temurun para leluhur.

Hati saya sangat sedih, ayam yang telah menjadi sahabat saya tiba-tiba berakhir menjadi persembahan di altar. Jika daging ayam itu disajikan di meja makan, saya sungguh tidak tega memakannya, bisa ditebak bahwa selera makan saya juga amblas.

Sejak saat itu saya menolak untuk makan daging ayam, itik, dan babi. Saat itu saya masih makan daging ikan, namun beberapa tahun kemudian juga mulai mengurangi daging ikan. Hal ini dikarenakan saya pernah beberapa kali melihat bagaimana cara pelayan restoran seafood menghantam kepala ikan sampai mati demi dijadikan hidangan lezat bagi pelanggan. Saya dapat merasakan betapa banyak ikan yang merintih kesakitan ketika diperlakukan demikian.

Hati saya sangat sedih, ayam yang telah menjadi sahabat saya tiba-tiba berakhir menjadi persembahan di altar

Kepuasan Lidah dan Kesehatan
Semua orang punya alasan vegetarian, itu bagus! Apalagi didukung oleh berbagai penelitian bahwa industri daging berkontribusi besar atas efek rumah kaca dan climate change (perubahan iklim). Belum lagi jika kita melihat pada sistem produksi masal daging yang sangat mengenaskan. Ayam dikurung di tempat yang kecil sehingga tidak bisa bergerak. Manusia menggunakan rekayasa cahaya untuk menipu ayam bahwa satu hari telah berlalu, agar ayam dapat memproduksi telur lebih banyak. Terkadang, ayam juga disuntik dengan berbagai cairan untuk memperbesar bagian-bagian paha dan sayapnya. Demi memenuhi kebutuhan daging, manusia tega melakukan itu semua.

Sementara itu, beberapa dokter justru menyarankan pasiennya yang terserang penyakit tertentu untuk tidak mengonsumsi daging merah. Hal ini tentu saja sesuai dengan pemeriksaan klinis. Banyak orang demi alasan kesehatan juga menghindari berbagai jenis daging.

Namun, ironi di dunia ini tidak pernah berakhir. Mereka menghindari daging tetapi menciptakan daging palsu untuk memuaskan lidahnya. Daging palsu dibuat sedemikian rupa dari tepung dan sebagainya sehingga menyerupai daging. Banyak yang berpendapat bawha justru sistem pencernaan manusia mengalami kesulitan dalam mencerna daging palsu itu. Lantas, mengapa kita masih mau membohongi lidah kita sendiri?

Apakah Buddha Vegetarian?
Saya tahu banyak orang yang bahkan jatuh ke dalam ke-fanatikan vegetarian. Mereka mengumpulkan berbagai bukti-bukti, hasil riset, bahkan kitab-kitab Buddhis yang menyatakan bahwa vegetarian diwajibkan dalam ajaran Buddha. Saya bukan termasuk orang yang terlalu percaya dengan kitab-kitab suci yang ada, jadi tidak terlalu risau tentang kebenaran Buddha vegetarian atau tidak.

Sementara ini saya dibimbing oleh kearifan dan kebijaksanaan yang akan terus berkembang dari hasil meditasi. Tentu saja, informasi hasil riset dan kitab suci bagus adanya. Namun, jika informasi ini digunakan untuk “memaksa” teman-teman lain ikut menjadi vegetarian maka hanya akan membuat persahabatan menjadi runyam, bahkan kawan baik bisa berbalik menjadi lawan.

Perlu diketahui bahwa pada zaman Buddha, para biksu memperoleh makanan dari pindapatta (mengumpulkan makanan dari rumah ke rumah di pagi hari). Tradisi memberi makanan kepada para petapa merupakan tradisi yang lumrah bagi masyarakat India. Apa pun makanan yang diberikan akan dimakan oleh Buddha. Oleh karena itu, jika memang ada yang memasukkan daging ke dalam mangkuk Buddha, saya yakin akan dimakan juga.

Menelusuri budaya dan kultur India, tampaknya banyak masyarakat desa dan dusun di India yang juga merupakan praktisi vegetarian. Bahkan hingga saat ini banyak warga India yang vegetarian. Namun, pergeseran tentu saja terjadi, dan saat ini ada kecenderungan jumlah pemakan daging juga semakin meningkat di India.

Pada satu waktu, ada kalanya Buddha diundang oleh raja untuk menghadiri acara dana makan di Istana. Saya yakin sekali bahwa Buddha adalah manusia bijaksana. Saya yakin Buddha akan memberikan nasihat kepada raja untuk menyediakan makanan yang sederhana, bukan karena ingin menjamu Buddha lalu mengakibatkan derita baru bagi hewan yang disembelih. Walaupun saya belum menemukan sumber tertulis, tapi inilah yang saya yakini saat ini.

Jangan Mengonversi
Wahai engkau yang berlatih vegetarian, janganlah “memaksa” orang lain untuk ikut vegetarian. Inti berlatih vegetarian adalah menyadari akan kepedihan hewan itu, cara produksi masal yang sangat tidak wajar, efek-efek yang ditimbulkan proses peternakan hingga distribusinya, dan bagi saya sebagai Buddhis, saya memilih untuk vegetarian karena ingin mengembangkan karuna dalam diri saya. Jika ada orang lain yang terinspirasi untuk ikut mempraktikkan vegetarian, saya ucapkan syukur. Apabila mereka tetap memilih untuk mengonsumsi daging, saya hormati keputusan mereka.

Intinya, saya tidak mau kepo dan sibuk dengan berbagai jurus untuk mengonversi orang lain menjadi vegetarian juga. Jangan punya agenda untuk menjadikan seluruh manusia vegetarian, juga jangan karena keegoisan pribadi atas vegetarian justru memunculkan keributan baru.

janganlah “memaksa” orang lain untuk ikut vegetarian

Ada orang tua yang sangat khawatir dan menentang apabila anaknya memutuskan untuk berlatih vegetarian. Dalil mereka adalah kurang gizi dan sebagainya. Memang ini cukup sulit untuk dibuktikan secara aktual. Namun, saya sendiri menjadi salah satu contoh. Saya sehat hingga saat ini walaupun sudah mengikuti diet vegetarian 10 tahun lebih.

Kakak kandung saya termasuk orang yang gemar makan seafood. Pengetahuan Dharma mereka tidak begitu dalam. Waktu saya baru ditahbiskan menjadi samanera, saya mengunjungi mereka dan diajak makan ke restoran seafood. Saya ikut saja dan pesan kwetiaw polos tanpa daging. Kakak saya terkejut dan bertanya, “Kok tidak pakai daging?” Akhirnya, saya jelaskan tentang praktik vegetarian.

Dalam lubuk hati saya, saya ingin keluarga saya juga ikut vegetarian, tetapi saya tidak boleh memaksa. Kemudian, tercetus ide untuk menganjurkan mereka makan vegetarian sebulan dua kali yaitu setiap penanggalan lunar 1 dan 15. Dia menyanggupinya, dan bahkan dengan bahagia mengikuti nasihat saya untuk tidak makan daging-dagingan. Terkadang, kita perlu upaya mahir dalam memberikan nasihat dan jangan pakai sistem paksa. Jika sudah terbiasa dengan sebulan 2 kali praktik vegetarian, maka boleh diperpendek durasinya, contoh seminggu sekali.

Ada keuntungannya ketika berlatih sebagai monastik dan saya sendiri mempraktikkan vegetarian, lalu mengajak saudara kandung juga melakukannya. Tentunya disertai dengan penjelasan yang logis dan bermakna, serta tidak mendadak memaksa mereka menghentikan konsumsi semua jenis daging.

Bawang dan Telur
Beberapa aliran dari Tiongkok atau Taiwan menganut paham lebih ketat tentang beberapa jenis bawang. Bagi saya, itu tidaklah memberi efek terlalu besar karena toh bawang disajikan dalam porsi yang kecil sesuai kebutuhan memasak. Lagipula bawang termasuk bagian dari tumbuh-tumbuhan. Tentu saja kalau makan bawang-bawangan dalam porsi yang berlebihan juga tidak bagus. Sebagai contoh, pada zaman Buddha ada biku yang suka makan bawang putih mentah, lalu diprotes karena napasnya menimbulkan aroma tidak sedap. Saat itu, Buddha menasihati muridnya untuk tidak konsumsi bawang putih berlebihan, tetapi selalu sesuaikan dengan porsinya.

Ada diantara mereka yang memilih untuk vegan yaitu dengan tidak mengonsumsi dairy product. Hal ini tentu saja bagus adanya karena sistem produksi susu sapi juga tampaknya membuat hati terhenyuh. Beberapa penelitian masih terus dilakukan, dan ada beberapa kesimpulan tentatif yang menyatakan bahwa susu sapi cocok untuk anak sapi saja. Tampaknya susu sapi tidak begitu cocok untuk manusia, walaupun kalau mau dicocok-cocokkan sebetulnya juga bisa. Namun, saya tidak tahu persis bagian ini. Anda bebas untuk memaknai sendiri informasi itu dan barangkali dapat menggali lebih dalam tentang hal itu.

Banyak orang suka telur, termasuk saya. Ada yang bertanya apakah telur termasuk dalam kategori vegetarian? Bagi saya, telur yang tidak dibuahi tentu saja aman, bukan telur kampung. Saya sendiri berusaha untuk menghindari telur, demikian juga dengan susu. Saya bahkan sudah tidak bisa minum susu lagi karena ada penolakan alami respon badan.

Janganlah Fanatik
Fanatik merupakan hal yang perlu kita sadari. Kadang mereka yang praktik vegetarian agak over dosis, mereka tidak mau makan dari kuali yang pernah dipakai untuk memasak daging. Sungguh lucu bin ajaib. Ada lagi yang menjadi kerepotan setiap kali harus pergi makan bersama teman-temannya.

Sesungguhnya, kita perlu kreatif dan tetap fleksibel, banyak makanan yang bisa kita order lalu kita meminta mereka memasaknya tidak memakai daging. Sebagai contoh bubur ayam, kita dapat order bubur polos saja, dan masalah selesai. Think simple dan jangan membuat suasana menjadi repot, kecuali Anda mau ikut saya menjadi monastik karena wihara tempat saya tinggal memang wajib praktik makanan vegetarian.

Kadang mereka yang praktik vegetarian agak over dosis

Apabila ada kondisi tertentu yang menyebabkan kita harus mengonsumsi daging, maka makan saja, tidak perlu risau. Ada yang percaya bahwa kesucian bisa dicapai lewat vegetarian, ini cukup naif. Kalau memang bisa menjadi suci lewat vegetarian maka kambing dan sapi yang akan suci terlebih dahulu, karena mereka vegetarian! Saya pernah mengalami kondisi itu, dan saya tetap menghabiskan makanan itu dan berupaya untuk hati-hati lain kali. Ada yang lebih ekstrem bahkan membuang makanan yang mengandung daging, bagi saya tindakan itu sama saja dengan menyia-nyiakan makanan. Seharusnya Anda bisa memberikan kepada orang lain, atau Anda sendiri yang habiskan makanan itu.

Saya praktik makan berkesadaran, sadar makanan vegetarian yang di hadapan saya ini tidak 100% murni, dan bukan kemurnian yang saya cari. Tapi unsur latihan yang terkandung di balik itu. Ketika menanam sayur atau padi, mungkin saja ada binatang yang dibunuh atau terbunuh. Makanlah agar tetap bisa memperkuat badan untuk menunjang kita terus berbuat kebaikan, membantu sesama, dan menjernihkan hati dan pikiran menuju emansipasi!

Tulisan ini saya buat sebagai rangkuman respon terhadap pertanyaan salah satu peserta dalam Yobanna Dhamma Samaya; 3-6 Okt 2016; di Hotel Puri Asri @Magelang.

Creative Commons LicenseArtikel ini boleh dikutip sebagian atau seluruhnya dengan tetap mencantumkan nama penulis dan url, tidak dimodifikasi dan non komersial. Karya ini dilindungi oleh lisensi Creative Commons License, kecuali yang tidak disebutkan demikian.

8 comments on “Untukmu Kawan Para Praktisi Vegetarian

  1. Vera Oct 6, 2016 10:35 am

    ijin share di facebook, suhu

  2. Hong Oct 8, 2016 5:07 am

    Namo Buddhaya Bhante, bila ingin vegetarian tapi di larang keluarga gimana cara menghadapinya ya. . Maksud dari keluarga sangat sederhana, anak2 saya belum vegetarian, sementara saya harus menyiapkan makanan utk anak2 saya.

    • nyanabhadra Oct 8, 2016 5:35 am

      Namo Buddhaya,
      Sudah bhante sampaikan di atas, coba aja baca lagi. Ada waktunya kamu makan di luar, maka ini bisa menjadi kesempatan praktik vegetarian.
      Praktik vegetarian jangan ekstrem, tapi mulai kurangi porsinya, artinya tetap makan daging namun porsinya mulai dikurangi, jadi orang tua tahu kamu masih makan daging.
      Anak-anak juga tidak perlu disediakan daging setiap hari, Anda boleh kreatif dan bijak dalam menyajikan makanan. Contoh tanggal lunar 1 dan 15 boleh terapkan “no meat day”, bagus juga. Anak-anak zaman sekarang perlu dikasih pengertian tapi jangan pakai sistem paksa, lakukan sesuatu setahap demi setahap, jangan tiba-tiba vegetarian, itu akan menjadi shock bagi keluarga.
      Semoga sedikit membantu, dan kalau ada teman-teman lain ada pengalaman dan nasihat tambahan, dipersilakan sampaikan di sini.

      • Hong Oct 8, 2016 6:23 am

        Ok Bhante, saya mengerti maksud Bhante. Terimakasih Bhante.

  3. xian cheng Oct 9, 2016 11:12 am

    Namo Buddhaya Sucek, xian cheng setuju untuk tidak memaksakan orang lain untuk bervegetarian. xian cheng ingin berbagi.Minggu yang lalu, saya nonton video dari facebook tentang membuat nugget ayam. Saya kaget sekali cara memotong ayam. Semua ayam kecil yang masih hidup (puluhan ayam) dimasukkin ke mesin pemotong, sekali tekan ON, semua ayam kecil mati, tinggal dagingnya saja. Saya merasa kalau saya adalah salah satu ayam kecil yang berada di mesin pemotong itu, ngimana perasaan tersebut dalam diri saya saat itu? Sama dengan ayam kecil tersebut. Setelah dua hari kemudian, biasanya kami ada kebaktian pagi, tiba tiba muncul gambaran ayam kecil yang dipotong hidup hidup dengan mesin pemotong. Yang saya lakukan habis kebaktian, melimpahkan jasa kepada ayam kecil itu yang bisa saya lakukan. saya sambil ketik, tangan saya gemetaran.

  4. NN Nov 19, 2016 6:17 pm

    Namo Buddhaya Bhante _/\_
    ini salah satu tulisan Bhante di blog yang saya baca berulang-ulang.menyenangkan,bahasanya ringan tapi bisa jadi inspirasi ^^
    terus berbagi lewat tulisan di blog ya bhante,bagi saya terutama yang jarang bisa mendengarkan ceramah,dgn adanya blog ini sangat membantu. saya selalu menunggu updatean dari blog bhante .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>