Meditasi Kematian

Kematian dan Kebebasan
Mengerti dan mendiskusikan tentang Empat Kebenaran Mulia sangat penting, mencakup praktisi yang memiliki kapasitas kecil, menengah, dan agung; kapasitas kecil dan menengah fokus pada ajaran Empat Kebenaran Mulia, karena banyak membicarakan ketidakpuasan, ketidak-kekalan (Tib. Mi rtag pa, Skt. Anitya), kematian, ketidakpuasan dalam bentuk kasar yang bisa dilihat dengan jelas, seperti kematian, namun tidak membicarakan secara mendetail tentang proses terjadinya kematian yang perlahan-lahan beserta proses-proses detailnya.

Apabila kita membaca karya-karya agung para guru spiritual, kita akan menemukan, inilah topik-topik yang dipaparkan di awal, manusia terbebas dari berbagai kondisi yang sulit, menikmati berbagai kemudahan, para guru mengingatkan kita berulang kali, tampaknya ini merupakan hal yang cukup signifikan untuk direnungkan baik-baik.

Para guru besar dengan tegas menyatakan bahwa, kita perlu memanfaatkan kesempatan emas ini, inilah kesempatan paling berharga, namun hal apa yang mencegah kita dalam memanfaatkan kesempatan emas ini? Pemikiran yang terdistorsi yang menjadi penghalang, terdapat empat pemikiran terdistorsi.

Mispersepsi
Āryadeva (Tib. ‘phags pa lha) dalam Karyanya 400 Stanza (Tib. bzhi brgya pa, Skt. Catuhsataka), beliau menjelaskan tentang empat pemikiran yang terdistorsi (mispersepsi), apa yang kita anggap sebagai sesuatu yang kekal padahal segala sesuatu tidak kekal, segala sesuatu yang sifat aslinya adalah menyakitkan namun kita anggap sebagai suatu kenikmatan, sesuatu yang tidak murni kita anggap murni, sesuatu yang tidak memiliki kemampuan untuk berdiri sendiri namun kita anggap sebagai sesuatu yang berdiri sendiri.

Inilah empat kesan pemikiran distorsi yang kita punya, dan kesan ini yang dianggap sebagai penghalang paling parah pada saat ini adalah menganggap segala sesuatu itu kekal abadi.

Kapan Saya Mati?
Ketika kita berbicara tentang ketidak-kekalan, maka ada dua tingkat yaitu tingkat yang lebih kasar yang bisa kita observasi dengan jelas yaitu kematian. Persepsi yang kita punya adalah, “Saya tidak akan mati sekarang!”, Kita selalu berasumsi bahwa belum saatnya saya mati. Jadi penting untuk merenungkan kembali tentang kematian yang bisa terjadi kapan saja.

Secara umum, kita tahu bahwa kita akan mati, namun pernahkah kita memikirkan dan merenungkannya secara mendalam? Antara jeda waktu singkat sekarang dan akan datang, kita selalu punya kesimpulan bahwa saya akan tidak akan mati, bahkan saya yakin hari ini saya tidak akan mati. Kesimpulan ini akan berlanjut dan berlanjut hingga detik ketika kita sekarat sekalipun, jadi kemelekatan kuat kita terhadap hidup abadi menjadi sangat besar, jadi kesimpulan kita semakin kokoh menyatakan bahwa, kita tidak akan mati sekarang, daripada kesimpulan kita akan segera mati.

Kesimpulan kita adalah kita tidak akan mati sekarang, oleh karena itu kita punya dalil untuk melakukan segala jenis perbuatan negatif, bagaimana kesimpulan ini membahayakan kita? Bahayanya adalah kita tidak memikirkan masa akan datang dan tidak melakukan persiapan untuk kehidupan akan datang.

Demi meluruskan pemikiran distorsi ini, kita perlu merenungkan tentang kematian yang bisa diobservasi dengan jelas, merenungkan bahwa kematian bisa terjadi kapan saja. Selama kita terjebak dalam kesimpulan dan pemikiran distorsi itu, kita tidak akan menaruh minat pada kesejahteraan kehidupan akan datang, kita juga tidak menaruh komitmen pada melepaskan diri dari perbuatan-perbuatan negatif yang dipicu oleh Emosi-emosi penganggu yang merupakan sumber akar yang melempar kita berulang kali berputar dalam siklus kehidupan rendah, dan kita sama sekali tidak punya minat untuk merealisasi pencerahan sempurna, keadaan yang terlepas dari duniawi juga terlepas dari pembebasan total pribadi saja.

Praktik Spiritual Otentik
Berdasarkan sudut pandang buddhis, apabila kita tidak memikirkan tentang kehidupan akan datang, praktik kita tidak bisa dianggap sebagai praktik spiritual yang otentik, paling minimal kita perlu memikirkan bagaimana untuk memperoleh kelahiran yang baik di masa akan datang, kemudian memikirkan bagaimana merealisasi pembebasan total, dan bagaimana merealisasi pencerahan sempurna demi kesejahteraan semua makhluk.

Sementara kita tidak berpikir dengan tepat, dan demikian pula kita hanya sibuk dengan kehidupan ini saja, maka proses belajar, mendengarkan, memeditasikan ajaran dharma akan semakin lemah dan lemah, karena semua semua aktivitas kita hanya demi kehidupan ini saja dan demi kehidupan duniawi saja, demi ketenaran, penghargaan, pujian, untuk umur panjang, memperoleh sesuatu yang kita inginkan, dengan fokus demikian sangat sulit untuk menghindari tindakan-tindakan negatif, dan semua tindakan negatif kita akan mencemari semua hal duniawi itu.

Ada orang yang belajar, berlatih, meditasi, mempraktikkan ajaran dharma, namun hanya untuk kehidupan ini saja, maka itu bukanlah praktisi dharma yang otentik. Jadi, persiapan akan kehidupan masa akan datang sangat penting dalam praktik dharma, inilah bahan pertimbangan yang diberikan ajaran Buddha.

Meditasi Kematian
Guru-guru besar zaman dahulu berkali-kali mengingatkan akan hal demikian, ini menunjukkan betapa pentingnya untuk merenungkan proses kematian yang bisa terlihat jelas, bahwa kematian bisa terjadi kapan saja. Kita bisa menemukan pembahasan tentang kematian dalam berbagai karya besar para guru spiritual, karya yang membahas tentang tahap-tahap jalur pembebasan, kemudian ada pula karya yang membahas dengan detil semua proses kematian natural.

Meditasi kematian perlu dimulai dari merenungkan bahwa mati itu pasti, namun waktu mati tidak pasti karena bisa terjadi kapan saja, ketika kita sedang sekarat, hanya praktik spiritual-lah yang bisa membantu. Mengertilah, ketika sedang sekarat, semua kekayaan dan hak miliki kita tidak sedikitpun bisa menolong, bahkan orang yang paling kita cintai juga tidak sanggup berbuat apa pun, mereka tidak bisa mencegah proses kematian, badan jasmani yang kita rawat sejak dahulu kala juga tak mau mendegarkan kita, badan jasmani terus melemah dan tak bedaya sama sekali. Segala sesuatu yang merupakan milik kita tidak sanggup berbuat apa pun.

Tidak hanya merenungkan tentang kepastian akan kematian, namun perlu merenungkan waktu kematian tidak pasti, perlu untuk direnungkan baik-baik, walaupun kita sudah menaruh minat pada kesejahteraan kehidupan akan datang, atau bahkan kita sudah punya rencana untuk merealisasi pembebasan total, namun karena kurang pemahaman tentang ketidakpastian waktu kematian, maka kita cenderung untuk menunda-nunda, karena kita akan kembali lagi pada pemikiran distorsi bahwa, saya tidak akan mati sekarang, kita semakin membiarkan diri ini malas, dan dikuasai oleh kemalasan, kita semakin tertarik pada makanan, hal-hal yang menyenangkan dan kenyamanan dalam kehidupan, kita tidak merasa urjen untuk praktik dharma. Kita terus menunda dan menunda akhirnya mati datang duluan sebelum kita belajar maupun mempraktikkan dharma.

Hidup Abadi dan Faktor Mental Pengganggu: Suatu Kolaborasi
Tidak hanya itu saja, apabila kesimpulan bahwa kita akan hidup sekian lama lagi, maka faktor mental pengganggu akan muncul sangat kuat, maka secara alami kita akan sibuk dengan tempat tinggal yang mewah, hidup yang nyaman, dan yang muncul kemudian adalah kemelekatan; tentu saja ketika sudah mendapatkan apa yang kita inginkan, mendapatkan yang lain lagi, kemudian keinginan untuk mendapatkan yang lain lagi dan demikian seterusnya, yang muncul adalah rasa tidak pernah puas. Jadi semua faktor mental pengganggu muncul dan muncul lagi, semakin kuat dan kuat lagi.

Terlihat jelas bagaimana dekat hubungan kemelekatan dan nafsu keinginan kaitannya dengan kesimpulan terdistorsi yang mengatakan bahwa saya akan hidup sekian lama lagi, kemelekatan sudah semakin besar terhadap semua kenikmatan duniawi, nafsu juga semakin membesar, ketika ada sesuatu yang menghalangi nafsu keinginan kita untuk memperoleh kenikmatan lebih besar lagi, maka yang muncul adalah kemarahan dan rasa sangat tidak senang, demikianlah faktor mental pengganggu muncul satu per satu.

Kegelapan batin yang membuat semuanya menjadi gelap, dan kita tidak sadar akan hadirnya faktor mental pengganggu, kita tidak merasa ada yang salah dengan munculnya kemelekatan, kemarahan, nafsu keinginan, kemudian yang ikutan muncul adalah rasa sombong, iri hati, dengki dan sejenisnya.

Sekarang, faktor mental pengganggu sudah menjadi raja, dia menguasai seluruh badan jasmani, ucapan, dan batinmu; apa yang bisa engkau lakukan? Kemudian emosi muncul dalam wujud tindakan badan jasmani, ucapan negatif, mental negatif seperti niat jahat, serakah, pandangan salah, dan sebagainya.

Semua tindakan negatif tadi membawa kita terlahir ke alam rendah, jadi sudahkah anda melihat betapa berbahaya memiliki pandangan terdistorsi bahwa segala sesuatu itu kekal abadi, bagaimana pandangan ini membahayakan kita? Baguskah kita memeditasikan hal demikian? Apakah bisa membantu kita?

Kira-kira demikianlah yang Buddha sampaikan, dan beliau dengan jelas menyampaikan, inilah kebenaran tentang ketidakpuasan, badan dan batin yang terkontaminasi oleh faktor mental pengganggu inilah menjadi sumber ketidakpuasan dan penderitaan, inilah alasan utama kita tidak pernah merasa puas dan menderita. Ketika kita memiliki badan jasmani dan batin seperti demikian kita tidak merasa puas dan menderita, berasal dari manakah badan jasmani dan batin ini? Semuanya berasal dari perbuatan-perbuatan yang berlandaskan faktor mental pengganggu sebelumnya.

Lihatlah Realitas Sejati
Untuk memahami kondisi kita sesungguhnya, perlu untuk merenungkan tentang ketidak-kekalan, kepedihan, shunyata, dan tanpa-aku. Buddha telah mengajarkan tentang realitas, mengajarkan segala sesuatu apa adanya sesuai dengan realitas sejati, inilah yang perlu kita pahami.

Kapan kita bisa mengerti segala sesuatu sebagaimana adanya sesuai dengan realitas sejati? Ketika mispersepsi kita perlahan-lahan berkurang, dengan demikian merenungkan tentang Empat Kebenaran Mulia dianggap sangat penting.

Penjelasan ini bertujuan untuk dimeditasikan, mau memeditasikannya atau tidak, itu menjadi pilihan anda sepenuhnya.

Creative Commons LicenseArtikel ini boleh dikutip sebagian atau seluruhnya dengan tetap mencantumkan nama penulis dan url, tidak dimodifikasi dan non komersial. Karya ini dilindungi oleh lisensi Creative Commons License, kecuali yang tidak disebutkan demikian.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>