Mengapa Meditasi

Mengapa Meditasi?

Belajar, membaca, dan mendengar dharma bertujuan untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, tentu saja kita menginginkan suatu perubahan. Dari dulu hingga detik ini, kita selalu dikendalikan oleh batin, dan demikian pula batin kita dikendalikan oleh faktor mental pengganggu (Tib. nyon mongs, Skt. Kleśa), seperti nafsu keinginan, kemelekatan, rasa penolakan, marah, dan kehilangan akal, semua faktor mental pengganggu inilah yang menuntun kita melakukan perbuatan-perbuatan negatif, ujung-ujungnya perbuatan itulah yang membawa dampak buruk bagi diri kita sendiri dan orang lain; oleh karena itu, kita ingin merubah keadaan ini.

Lalu, apa yang akan kita lakukan untuk merubah keadaan tersebut? Kita belajar, berlatih, dan meditasi; semua tindakan ditujukan kepada pengendalian batin, dengan keadaan batin terkendali, kita bisa mengarahkan pikiran kita ke arah yang diinginkan, demikian pula ketika pikiran terkendali, kita bisa mengganti objek konsentrasi sesuai keinginan kita, dengan demikian kita menginginkan suatu keadaan mental yang terkendali.

Tugas ini merupakan tugas berkesinambungan, kita perlu berupaya untuk merubah faktor mental pengganggu, jangan membiarkan faktor mental pengganggu mendominasi batin, sangat penting untuk bertindak tanpa didominasi oleh faktor mental pengganggu, kita perlu menyetir batin kita ke arah kebajikan, dan bertindak sesuai dengan sikap kebajikan, dengan demikian kita bisa menciptakan kondisi yang mana tiga pintu (pikiran, ucapan, dan badan jasmani) terjaga dengan baik, ketika kita sudah dapat mengendalikan pikiran, maka mental pun bisa dikendalikan, dan kemudian badan jasmani dan ucapan juga mulai pelan-pelan bisa dikendalikan, dengan demikian kita bisa semakin bahagia dan juga mereka yang berada di sekeliling kita.

Inilah seharusnya alasan paling tepat di balik melakukan meditasi.

Persiapan
Ketika memulai meditasi, banyak hal penting yang perlu diperhatikan, seperti persiapan, meditasi, dan penutupan.

Ketika ingin memulai meditasi, sungguh penting untuk memulai dari suatu keinginan yang luhur, kemudian duduk dalam posisi atau postur meditasi yang tepat, demikian pula kita perlu meletakkan batin kita pada posisi yang tepat pula.

Sebelum mulai meditasi, penting untuk mempersiapkan tempat terlebih dahulu, membersihkan tempat meditasi, kemudian mempersiapkan simbol-simbol ucapan, badan jasmani, dan batin dari Buddha (Tib. sku gsung thugs) di atas altar, meletakkan persembahan dengan rapi, kemudian kita duduk di bantal duduk yang nyaman dan mulai meletakkan pikiran pada posisi yang tepat.

Ada sebuah tradisi yang menyebutkan untuk melukiskan sebuah swastika yang searah dengan jarum jam di bawah tempat duduk meditasi, bisa menggunakan kapur, swastika sebagai simbol stabilitas.

Kemudian, di atas swastika itu boleh diletakkan rumput kusa, sebelum Siddharta merealisasi pencerahan sempurna di Bodhgaya, beliau mempersiapkan sendiri tempat duduk meditasinya, yang ditemukan disekeliling hanya rumput kusa, dan tempat duduk inilah yang menjadi penyokong beliau menuju pencerahan sempurna.

Rumput kusa juga memiliki makna lain, kalau kita perhatikan rumput kusa baik-baik, maka ketahuan bahwa rumput kusa tidak mudah kusut, dengan demikian kita juga menginginkan batin kita tidak mudah kusut, kemudian boleh meletakkan rumput yang panjang dengan membentuk lingkaran sebagai simbol umur panjang, kita perlu umur panjang untuk berlatih dalam kurun waktu lama.

Makna lain dari rumput secara umum adalah kesederhanaan, jadi kita perlu mengingatkan diri atas kesederhanaan dalam hidup.

Mempersiapkan tempat duduk, meletakkan rumput, mengingatkan kita atas persiapan yang dilakukan oleh Siddharta.

Kesibukan Mental
Ketika kita memutuskan untuk melakukan meditasi, penting sekali untuk menjauhkan diri dari kesibukan, terutama kesibukan secara fisik, dan kita juga perlu mengisolasikan batin dari kesibukan mental. Apabila kita tidak pernah merasa puas, punya banyak keinginan, ingin ini dan itu; tentu saja itu akan membuat batin sangat sibuk, kemudian secara alami menyebabkan badan jasmani juga ikutan sibuk, akhirnya kita tidak bisa melakukan meditasi dengan baik.

Kita tidak akan bisa melakukan meditasi dengan baik, kecuali kita meletakkan semua kesibukan mental dan kesibukan badan jasmani, semua aliran buddhis sependapat atas hal demikian.

Bantal Duduk
Ada tradisi buddhis yang menyatakan untuk meletakkan bantalan duduk secukupnya, dan bantalan duduk juga punya aturan meletakkannya yang disebut bantalan duduk konsentrasi jadi, dalam kondisi apapun bantalan duduknya, ada baiknya bagian belakang sedikit lebih tinggi daripada bagian depan.

Mengapa bagian bantalan belakang perlu lebih tinggi? Karena membantu meluruskan tulang bagian belakang, ketika tulang bagian belakang kita lurus, maka energi bisa mengalir dengan lancar, ketika energi bisa mengalir dengan lancar, maka memberi efek selaras kepada batin.

Berbagai latihan meditasi berbicara tentang tiga saluran, ketika tulang belakang lurus, maka saluran sentral dan dua saluran lainnya juga berada dalam posisi optimum, dan energi mengalir lancar, dan ini memberi efek damai kepada batin, mengurangi gangguan lain, kita tahu bahwa terdapat koneksi sangat dekat antara badan jasmani dan batin.

Elemen
Disebutkan bahwa mereka yang memiliki banyak energi (Tib. rlung, Skt. Prāṇa) berlebihan sehingga menimbulkan gangguan, ada baiknya mereka jangan berhadapan dengan objek-objek yang terang, namun sebaiknya berhadapan dengan objek yang rada gelap, sebaliknya mereka boleh berhadapan dengan objek-objek yang terang.

Tubuh bagian atas mengandung elemen udara, maka bersifat panas, jika tubuh bagian atas tegang maka, elemen itu menjadi tidak seimbang, jadi perlu menjaga agar tubuh bagian atas tidak tegang dan pertahankan posisi rileks; tubuh bagian bawah mengandung elemen air, maka bersifat dingin, maka penting untuk mempertahankan tubuh bagian bawah tetap rapat, maka itu dianjurkan untuk duduk dalam posisi teratai penuh. Jadi tubuh bagian atas dan bawah membantu batin menjadi semakin tenang.

Creative Commons LicenseArtikel ini boleh dikutip sebagian atau seluruhnya dengan tetap mencantumkan nama penulis dan url, tidak dimodifikasi dan non komersial. Karya ini dilindungi oleh lisensi Creative Commons License, kecuali yang tidak disebutkan demikian.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>