Apakah Jempol Bisa?

Jempol bisa?

Membaca sepotong judul di atas, barangkali Anda bertanya-tanya, apa maksudnya? Jempol tentu saja bisa melakukan banyak hal. Jempol simbol bagus atau mantap, zaman dahulu jempol digunakan sebagai stempel sah dokumen yang disebut cap jempol. Jempol adalah jari yang terbesar diantara semua jari tangan, jempol bisa digunakan untuk memencet tombol. Bagi mereka yang sering mengetik menggunakan keyboard barangkali tahu persis apa fungsi jempol, iya benar! Jempol kiri dan kanan bertugas menekan spacebar. Satu lagi, jempol juga digunakan untuk mengetik di smartphone Anda, walau ada diantara Anda yang mengetik menggunakan telunjuk atau jari lainnya.

Memperhatikan perkembangan teknologi abad ini, barangkali Anda juga banyak menyadari bahwa sebagian besar waktu kita gunakan untuk mengetik di komputer atau di layar kecil smartphone atau sejenisnya. Porsi waktu mulai semakin banyak dipergunakan untuk bercengkrama dengan touchscreen sambil menundukkan kepala. Sekali-kali Anda bisa melihat ada diantara mereka yang tertawa terbahak-bahak sendirian dan acap kali Anda menyaksikan sendiri ada diantara mereka yang mengeryitkan dahi setelah membaca pesan yang masuk. Ada yang tidak sabar ingin segera membalas pesan tersebut bahkan ada yang bisa menghabiskan 10 menit untuk mengetik suatu pesan panjang, merasa pegal di bahu? Atau jempol pegal?

Sebelum smartphone menyusup masuk ke dunia kehidupan manusia, seseorang harus menempuh jalan jauh untuk saling bertatap muka. Sepanjang jalan terjadi perkembangan, masih ingat ketika manusia mulai menulis surat sebagai media komunikasi. Pernah menonton film-film kungfu? Zaman baheula mereka mengirimkan pesan lewat kurir, dan juga menggunakan elang atau burung. Perkembangan tidak berhenti disitu saja, namun sudah canggih, teknologi telegram dan telepon menggantikannya. Masih ingat SMS? Iya betul Short Message Service, tampaknya teknologi ini sudah mulai tersisihkan, sudah digantikan dengan aplikasi yang menggunakan internet seperti Whatsapp, LINE, BBM, dan sejenisnya.

Surat & Surel

Teknologi surat menyurat zaman dahulu memakan waktu lama. Masih ingat waktu harus mengirim surat dengan fasilitas pos? Anda butuh perangko, memori ini meninggalkan jejak sangat indah bagi kolektor perangko. Surat terkirim dengan susah payah, ditulis dikertas, diamplopkan, kemudian harus ke kantor pos untuk mengirimkannya. Setelah surat itu dicemplungkan ke kotak surat, senyum terbit di wajah dan dengan sabar menanti balasan. Kadang butuh waktu lebih kurang seminggu bahkan lebih untuk mendapatkan balasan. Surat menyurat menjadi kebutuhan. Suatu keinginan untuk saling ter-connect dengan mereka yang ada di tempat lain, sementara masih bisa connect dengan mereka yang ada dihadapan kita.

Warna-warni kehidupan

Warna-warni kehidupan

Anda tahu surel? Kalau saya sebut email, barangkali Anda akan langsung mengerti. Surel adalah singkatan dari Surat Elektronik, demikian juga dengan email yaitu electronic mail. Surel sudah menjadi hal lumrah bagi manusia abad sekarang, sekitar 20 tahun lalu surel belum begitu populer, namun sekarang sudah cukup merata, sudah banyak orang memiliki alamat email, tak heran kalau Anda sudah familiar dengan penyedia layanan email gratisan, sebut saja gmail, yahoo, hotmail, dan sebagainya.

Proses pengirim surel sangatlah cepat, tidak perlu menulis menggunakan kertas dan pulpen, tidak perlu menggunakan perangko, dan tentu saja tidak perlu menunggu berminggu-minggu. Anda cukup mengetik di komputer atau smartphone, dan voila terkirim, dalam beberapa detik sudah tiba di kotak surat sang penerima. Lantas, kalau kita bicara seberapa cepat dibalas? Ini sangatlah tergantung, ada yang bisa langsung balas dalam kurun waktu beberapa menit hingga beberapa jam, ada juga beberapa hari, bahkan ada yang berminggu-minggu dan ada yang sangking banyaknya surel yang masuk sehingga lupa membalas.

Ada perbedaan perlakukan antara surel dan surat yang kita kirim lewat pos. Pengiriman surat tradisional membutuhkan upaya besar, sedangkan surel hanya membutuhkan waktu singkat untuk mengirimkannya, selama ada koneksi internet. Surel menjadi sesuatu yang tidak terlalu penting karena mudah diperoleh dan mudah di hapus, tinggal pencet tombol delete, menguaplah surel tersebut. Surat yang kita kirim lewat pos tidaklah demikian, ada yang bahkan mengumpulkan surat-surat itu menjadikannya sebagai koleksi, sungguh berharga melihat tulisan tangan dari sahabat jauh, dan tampaknya surat seperti itu menjadi bahan langka dan tidak banyak lagi di zaman sekarang ini.

Kebersamaan di Dunia Maya

Masih ingat egroups dan yahoogroups? Mereka yang menggunakan surel secara rutin pasti senang dengan groups surel. Anda hanya perlu membalas group tersebut dan nanti surel tersebut akan terkirim ke semua anggota secara otomatis. Perbincangan banyak terjadi di sana sesuai dengan topik-topik bahkan acap kali terjadi perdebatan yang tak berujung.

Masih ingat dengan MSN Messenger dan Yahoo Messenger? Atau MIRC? Tentu masih ingat, bagaimana komunikasi bisa dilakukan dengan cepat, ada juga group chat dan kamar-kamar khusus bagi mereka untuk berkomunikasi sesuai dengan topik.

Tidak hanya surel saja, sekarang semakin merambah ke kartu ucapan elektronik, voucher elektronik, tagihan berbentuk PDF, bahkan tiket pesawat juga sudah semakin bergeser menjadi tiket elektronik, pernah naik pesawat dengan membawa salinan tiketnya dalam smartphone Anda? Pasti pernah, tidak perlu di cetak lagi, ketika masuk ke pintu keberangkatan cukup mengeluarkan smartphone dan menunjukkan tiket elektronik kepada petugas, Anda sudah bisa masuk dan check in dengan mudah. Belum lagi sekarang bisa check in online, mencengangkan bukan dunia ini?

Pergeseran Drastis

Kembali kepada jempol, apa yang ingin saya sampaikan tentang jempol? Ini berkaitan dengan pergeseran cara berkomunikasi zaman ini. Semua contoh-contoh komunikasi di atas sangatlah menarik untuk ditelusuri. Zaman sekarang sudah ada Whatsapp, LINE, BBM dan sejenisnya, semua begitu instan. Bahkan setelah kirim, sang pengirim bisa melihat apakah pesan tersebut sudah di baca oleh penerima atau belum, ada centang biru dobel, ada logo R yang menyatakan read. Kemudian teknologi terus berkembang hingga bisa tahu bahwa lawan bicara sedang aktif (online) atau sedang mengetik balasan, semua ini terjadi secara realtime.

Manusia sangat menikmati kemudahan ini, merasa terbantu dalam proses komunikasi yang serba instan ini. Namun demikian juga sisi sebaliknya, ada orang yang sudah read tapi tidak membalas, bahkan sampai beberapa hari, ini yang kadang membuat pengirim pesan itu tersinggung atau bahkan naik pitam karena merasa diabaikan alias dicuekin, yang berujung pada sakitnya tuh di sini! Pernah mengalami hal demikian?

Ketika ada sebuah pertemuan, maka masing-masing orang menyediakan waktu untuk hadir dan tatap muka. Falsafah modern ini adalah efektif dan efisien, dan hadir tatap muka menjadi hal yang bukan menjadi prioritas, alasannya macet di jalan, sibuk, lelah, waktu yang tidak memungkinkan, dan berbagai alasan lain. Pertemuan maya juga mulai terjadi di sana sini, teleconference melalui skype, facetime, Google Hangout, dan sebagainya semakin menjamur; kopi darat menjadi hal yang tidak terlalu diprioritaskan. Teknologi canggih sekarang mulai menggunakan group chat, hampir semua aplikasi di android maupun IoS menyediakan layanan tersebut.

Tampaknya ada gejala ramai-ramai pindah ke group chat karena ingin melakukan sesuatu dengan cepat, dan virtual meeting juga sering terjadi di sana. Sang jempol kiri dan kanan juga mulai harus lebih aktif. Group chat bisa mencapai 100 orang anggotanya. Pernah sekali ada seseorang yang mengabarkan kepada saya bahwa bagun pagi tiba-tiba membuka group chat, ternyata sudah ada ratusan baris pesan yang sudah masuk. Bayangkan betapa hectic-nya manusia zaman sekarang, bahkan belum turun dari ranjang saja sudah dibombardir oleh ratusan pesan, kejadian demikian bisa terjadi sepanjang hari, mengingat mengirim pesan begitu mudahnya.

Menjauh atau Mendekat?

Ada yang menghabiskan waktu banyak menunduk dan mengetik, bahkan sebagian besar waktunya bersama smartphone kesayangannya, teman-teman di sekitar terabaikan, dan celakanya teman-teman disekitar juga sama, sibuk dengan smartphone, masing-masing punya dunia maya-nya. Percakapan ramai-ramai di group chat tampaknya sangat seru, banyak orang kecanduan. Namun juga ada yang merasa gerah dengan group chat dan akhirnya memilih untuk keluar. Inilah gejala baru yang disebut “Mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat”.

Mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat!

Mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat!

Manfaat group chat sangatlah banyak, ada hal-hal yang bisa diputuskan dengan cepat, dan juga bisa dengan cepat diganti, memang kadang bisa menimbulkan gejolak emosi, apalagi sang jempol yang mengetik kadang-kadang tidak sesuai dengan maksud hati. Jadi ada gejala jempol menggantikan mulut. Pada sebuah pertemuan tatap muka, kita menggunakan tangan, mimik wajah, senyum, intonasi dan penekanan bicara sehingga pertemuan menjadi hidup. Dalam pertemuan maya di group chat tampaknya elemen ini absen, walaupun ada emoticon yang kadang tidak mewakili perasaan seseorang, karena sang jempol dan pikiran cukup sering bertabrakan atau bahkan ketika sedang kesal tapi emoticon yang dikirim adalah ketawa, kontradiksi bukan?

Komunikasi demikian juga ikut membawa mudarat bagi banyak orang, sudah banyak korban yang berjatuhan karena ketika seseorang mengirimkan suatu pernyataan ke group chat, kemudian dipersepsikan atau dibaca dengan nada masing-masing orang, maka pernyataan ini bisa menuai banyak reaksi. Orang yang sedang santai-santai mungkin merespon dengan santai, mereka yang sedang hektik barangkali bisa merespon dengan keras, karena situasi dirinya sendiri memberi pengaruh besar.

Pernah mendengar istilah saltum? Iya benar salah kostum, ketika seseorang menghadiri acara tertentu dengan kostum yang tidak tepat, suasana demikian sangat memalukan. Pernah mendengar istilah Salmar? Pasti belum, salmar adalah singkatan dari salah kamar, pernah mengirim pesan ke orang yang salah? Nah konten dari pesan itu sangat privat dan dikirim ke orang yang salah, Anda bisa bayangkan sendiri kalau ini berkaitan dengan kisah romantika, dunia serasa runtuh!

Saya beberapa kali membantu meredakan pertengkaran di group chat yang akhirnya membawa hujan air mata. Setelah mereka berinisiatif bertatap muka, menyampaikan secara langsung, mengklarifikasi pernyataan-pernyataan di group chat, akhirnya mendatangkan pengertian dan bisa saling memaafkan. Ini proses panjang, tidak selalu bisa diselesaikan dengan baik, apalagi kalau sudah sakitnya tuh di sini, maka tatap muka juga terasa pahit. Jadi banyak orang memilih kehilangan teman daripada kehilangan ego.

Joyfully Together

Joyfully Together

Istirahatkan Jempol Anda!

Saya bukanlah menyuruh Anda semua keluar dari group chat, namun menantang Anda untuk melihat kembali apa fungsi dari group chat, kadang ada cerita-cerita lucu, kadang ada cerita-cerita pembangkit semangat dan nasihat-nasihat baik, kadang ngalor ngidul tak jelas, dan kadang membawa petaka, bahkan ada yang keluar dari group chat karena kesal dengan orang tertentu, itu semuanya lumrah.

Sesuatu yang berkaitan dengan perasaan, penjelasan, komunikasi yang lebih intens, tampaknya perlu dilakukan melalui tatap muka, janganlah mencoba untuk menugaskan kedua jempol untuk mengetikkan semua perasaan Anda, karena jempol, perasaan, dan pikiran sering disconnect, apa yang dipikirkan ternyata beda setelah diketikkan, dan kadang mau merevisi juga sudah terlambat; kondisi bisa lebih parah dengan mis-persepsi, dan benang yang kusut kadang menjadi lebih kusut, kita sedang mempertaruhkan persahabatan kita, seperti menaruh telur di ujung tanduk, yang setiap saat bisa jatuh dan pecah!

Ada waktunya untuk berlatih noble silent (hening bening), dan ada waktunya untuk take a break dari group chat. Istirahatkan jempol Anda, istirahatkan mata Anda, istirahatkan pikiran Anda, dan jangan biarkan mereka bekerja keras sepanjang hari. Inisiatif bertemu tatap muka dan bebaskan dari gawai, saling hadir untuk saling disconnect untuk connect!

Creative Commons LicenseArtikel ini boleh dikutip sebagian atau seluruhnya dengan tetap mencantumkan nama penulis dan url, tidak dimodifikasi dan non komersial. Karya ini dilindungi oleh lisensi Creative Commons License, kecuali yang tidak disebutkan demikian.

2 comments on “Apakah Jempol Bisa?

  1. xian cheng Sep 2, 2015 9:01 am

    Bagus sekali buat saya untuk lebih banyak membaca dan merenung.saya hanya ingin berbagi apa yang saya dapat setelah menbaca apakah jempol Bisa?sekarang ini,kebanyakan dari kita selalu memegang hp untuk berkomunikasi dengan teman kita melalui chatting,whastap,line,juga bbm untuk mempermudah komunikasi dengan orang2 lain.tetapi seberapa hebatnya eletronik ataupun alat2 canggih,tidak akan mampu menggungkap perasaan hati terhadap seseorang yang kita sayangi ataupun keluarga,juga teman lewat line,bbm dsbnya.tapi kita disuruh untuk brhenti melihat lebih dalam kalau ada terjadi kesalahpahaman antar pihak,cara komunikasi yang benar adalah dengan bertemu,berbicara melihat wajah muka sesorang baru kita bisa mengetahui,merasakannya, juga bagaimana caranya menyampaikan maksud kita ,tapi bukan lewat line,bbm,dan whatsp,karena apa yang Kita ingin sampaikan belum tentu benar ataupun penggunaan kata kata yang mungKin tidak bermaksud begini begitu,menjadi salah paham ataupun salah ketik,membuat semuanya jadi kacau.semua ini, kita harus belajar untuk menghadapi masalah dengan bertemu untuk menyelaesaikan Bukan lewat line,bbm dan dsbnya dengan perantara jempol untuk bantu kita mengetik.tidak selamanya komunikasi lewat bbm,line dsbnya membawa manfaat buat kita semua.
    mungkin ini yang bisa saya berbagi.tq

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>