Si Dia Yang Nyasar Bikin Ngakak

Pohon besar yang rindang

Agama Buddha memiliki sebuah tradisi indah. Dari waktu ke waktu umat mengundang para bhante makan di rumahnya. Paling seru kalau di daerah-daerah, karena mereka mempersiapkan dengan penuh kebahagiaan, membeli sayur dan memasak.

Tradisi ini diwariskan oleh leluhur kita sejak dahulu. Namun di kota kadang sedikit berbeda, karena kesibukan dari masing-masing keluarga, kadang mereka mengundang makan di restoran vegetarian. Iya benar vegetarian. Di Jakarta juga sudah mulai banyak restoran vegetarian dan saya juga banyak menemukan restoran non-vegetarian tapi juga menyediakan makanan tanpa daging.

Komunitas Mindfulness
Barusan saya berkunjung ke jambi di akhir Februari 2018. Ada serangkaian program Dharmaclass dan juga ada latihan bersama dengan komunitas mindfulness Jambi di Wihara Sakyakirti. Komunitas-komunitas mindfulness semakin hari semakin banyak, ini berita baik karena semakin banyak yang sadar betapa pentingnya latihan seperti ini.

Latihan meditasi memang perlu lebih disesuaikan dengan zaman, perlu disadari bahwa manusia era kekinian bukanlah yogi yang hobi duduk lama-lama. Manusia zaman kekinian paling hobi duduk lama-lama di depan komputer browsing dan bahkan main game.

Guru saya, Bhante Thich Nhat Hanh yang akrab di sapa Thay mereformasi meditasi menjadi sesuatu yang bisa dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari dengan tanpa meninggalkan esensi mindfulness.

Undangan
Ada seorang teman saya yang sedang kerja di Jakarta, namun dalam suasana imlek, dia pulang ke Jambi. Kami saling kontak-kontak dan akhirnya dia menginisiatif untuk mengundang saya dan beberapa bhante untuk hadir ke rumahnya untuk menerima dana makanan.

Tibalah pada hari H, kami pun dijemput dari wihara. Rumahnya ternyata letaknya tidak terlalu jauh dari wihara, jadi sebentar saja sudah tiba. Ini pertama kali saya mengunjungi rumahnya, jadi dia membawa kita tur rumahnya. Di Depan rumahnya ada sebuah pohon sangat besar, rindang, saya langsung jatuh cinta sama pohon besar ini.

Maklum, kalau melihat pohon besar, serasa rindang di bawahnya. Pohon ini sejenis beringin, tapi tidak persis, jika dilihat-lihat juga mirip dengan pohon Bodhi juga. Ketika saya naik ke lantai 2 rumahnya, saya bisa menyentuh daun dari pohon besar ini. Sungguh bahagia di kota masih ada pohon besar dan rimbun seperti itu.

Kami juga berjalan sampai lantai paling atas dan keluar di ruang terbuka. Ternyata ayahnya punya hobi berkebon, bukan hanya berkebon tapi seperti hutan mini di atas rumah, walaupun, maaf sedikit berantakan penyusunan pot-potnya. Kami ada lihat tanaman lidah buaya yang tumbuh subur, ada juga lengkeng, kemudian jambu klutuk (atau kadang saya sebut jambu batu), beserta tanaman lainnya.

Home Cooking
Selesai tur rumah, waktu sudah menunjukkan pukul 12:00an, jadi kita diundang untuk makan. Tradisi buddhis, sebelum makan kita melakukan perenungan kemudian membacakan doa pelimpahan jasa untuk keluarga yang mendanakan makanan.

Mamanya bilang, maaf bhante makanan sederhana, tidak ada apa-apa. Kami membalas, justru ini makanan sehat karena home cooking. Ada tauge cah cabe, ada sayur capcai, ada tahu, dan yang paling menggiurkan adalah petai. Serius home cooking is always the best.

Kami bertiga mulai menyantap makanan. Pada umumnya saya meluangkan waktu sekitar 5 sampai 10 menit untuk makan dengan hening, lalu sembari ngobrol-ngobrol ringan dengan bhante yang lainnya. Saya sudah terbiasa mengunyah makanan sekitar 20 sampai 30 kali, mulut saya juga sudah otomatis melakukannya, jadi tidak perlu diperintah lagi, jadi setiap makan adalah sesi meditasi makan bagi saya.

Apa itu?
Sembari ngobrol-ngorol singkat, saya meneruskan mengunyah dan mengunyah, setelah ditelan, saya lanjutkan lagi dengan sendok berikutnya. Tiba-tiba saya merasa ada sesuatu yang kenyal-kenyal dalam mulut saya, tapi saya abaikan saja, terus dengan moda konsentrasi mengunyah dan mengunyah. Anehnya itu yang kenyal-kenyal kok tidak hancur-hancur, lalu saya penasaran. Saya semakin semangat mengunyahnya, sampai satu titik saya menyerah.

Saya jadi penasaran, lalu memasukkan jari ke dalam mulut dan mengambil yang kenyal-kenyal itu dan saya tarik keluar dari mulut. Coba tebak apa itu? Ternyata eh ternyata, itu adalah karet gelang berwarna merah. Saya tunjukkan kepada bhante-bhante yang duduk di depan saya, mereka langsung ketawa ngakak.

Karet gelang merah

Loh itu barang kok bisa lolos masuk ke dalam mulut?” kata seorang bhante. Saya jawab, “Justru saya tidak tahu!” Sambil ketawa ngakak juga, saya melanjutkan, “Untung saja tidak ketelan“.

Kebiasaan Mengunyah
Berkat kebiasaan mengunyah pelan dan banyak kali, sehingga saya selamat dari karet itu. Jadi manfaat mengunyah itu sangat banyak sekali, itulah manfaat yang saya rasakan barusan. Kami sepakat untuk menyembunyikan karet itu agar tidak ketahuan tuan rumah, kok si karet bisa nyasar ke dalam makanan.

Kami akhiri makan siang dengan penuh rasa syukur dan bahagia. Tuan rumah yang mengundang juga bahagia, kita sempat ngobrol-ngobrol santai di ruang tamu, dan tak lupa berfoto bersama. Kami pulang kembali ke Wihara setelah itu, demikian kisah ngakaknya.

Creative Commons LicenseArtikel ini boleh dikutip sebagian atau seluruhnya dengan tetap mencantumkan nama penulis dan url, tidak dimodifikasi dan non komersial. Karya ini dilindungi oleh lisensi Creative Commons License, kecuali yang tidak disebutkan demikian.

One comment on “Si Dia Yang Nyasar Bikin Ngakak

  1. nn Mar 22, 2018 22:25

    Hallo bhante, Namo Buddhaya 🙏
    Saya juga pernah lagi makan mie dan karetnya warna kuning, makin ga bisa ngenalin la ituuu karena warnanya mirip 😂😂

Leave a Reply