Mencari Mama yang Hilang

Bunga di Buddha Garden - New Hamlet

Bunga di Buddha Garden – New Hamlet

Sepanjang hidup manusia selalu ada peristiwa yang meninggalkan kesan sangat istimewa, ada tempat yang menjadi kenangan seumur hidup, dan bahkan ada satu atau beberapa orang yang meninggalkan jejak mendalam di hati. Sekali-kali manusia akan terkenang kembali peristiwa itu, tempat itu, dan seseorang atau beberapa orang itu.

Peristiwa yang meninggalkan kesan sangat istimewa adalah ketika saya berkelana ke India untuk mencari tahu apa makna hidup. Saya berumur 29 tahun saat itu, kondisi batin dalam keadaan ombang-ambing tak menentu. Seberkas cahaya hadir memberi petunjuk bahwa India bisa memberikan jawabannya.

Sekitar sepuluh tahun yang lalu (2006), pertama kali menginjakkan kaki ke India. Banyak orang memberitahu saya bagaimana situasi dan kondisi India, namun semua informasi itu tidak memuaskan. Tidak ada pengalaman lebih baik daripada mengalaminya sendiri. Setiap orang boleh memiliki penjelasan masing-masing tentang India, penjelasan itu hanya memberitahu satu sisi saja, masih banyak sisi yang belum tentu bisa dijelaskan.

Horison mata menjadi lebih luas setelah melihat India, baru saya sadari bahwa petualangan itu sangat menyenangkan, pergi ke tempat baru dan melakukan eksplorasi, yakin ada sesuatu yang bisa ditemukan di sana. Penemuan-penemuan itu sering saya kaitkan dengan dunia pengalaman pribadi.

Tempat yang berkesan bagi saya adalah India. Setelah bertualang ke India, ide untuk tinggal di sana lebih lama pun muncul. Saya menemukan Dharamsala, tempat yang telah menjadi area pengasingan dari Tibet dan Yang Mulia Dalai Lama ke-14. Tempat yang indah di daerah pengunungan Himalaya, saya senang dengan aura dan kesejukan penduduk yang ada di sana.

Saya punya hobi membaca, jadi saya pynya kebiasaan untuk berkunjung ke toko-toko buku di sana. Bersyukur dulu banyak belajar bahasa Inggris, jadi banyak buku-buku filsafat buddhis yang berbahasa Inggris yang bisa saya lahap satu persatu. Interaksi dengan budaya Tibet dan budaya India juga semakin banyak, bahkan ada orang yang bilang saya persis seperti orang Tibet, tidak heran jika ada orang yang tiba-tiba menghampiri dan langsung berbahasa Tibet, padahal saya tidak mengerti apa pun.

Pengalaman hidup beberapa tahun di komunitas Tibet-India membantu saya mengerti penderitaan para pengungsi, mereka terpaksa melarikan diri dengan tidak membawa apa pun, hanya baju yang melekat di badannya, menerjang hutan, gunung, dan salju dengan taruhan nyawa! Ada yang selamat sampai di India dan banyak yang tertembak mati atau hilang ditengah-tengah hutan dan salju, ini menjadi satu dari sekian alasan mereka sangat menghargai kehidupan.

Orang yang memberikan kesan sangat mendalam bagiku adalah mama. Namun kesannya hanya begitu singkat, saya masih berumur 4 tahun saat itu, saya melihat mama terbaring di depan mata, di samping kiri dan kanan hanya terdengar mereka yang sedang menangis. Saya tidak menitikkan satu tetes pun air mata, saya yang berumur 4 tahun tidak tahu persis apa yang terjadi.

Saya hanya dengan lugu bertanya kepada paman yang kebetulan duduk di dekat saya, “Paman, kenapa mama tidur lama sekali, kapan mama bangun?” Paman tidak pernah menjawab dengan jelas, nenek yang duduk bersebelahan dengannya menjawab sambil teisak-isak “Mama lelah, dia mau istirahat”. Tetap saja saya tidak mengerti mengapa. Saya hanya terus bermain seperti biasa sementara merasa aneh.

Zaman dahulu, ketika ada anggota keluarga yang meninggal maka anak kandung wajib mengenakan pakaian putih dan pakaian yang terbuat dari karung goni, kemudian pakai topi yang kelihatannya aneh. Saya menolak semua itu, sementara paman dan nenek berusaha membujuk saya untuk memakainya, namun tetap saya menolak. Kakak tertua sudah habis kesabaran dan berang, dia paksa memaikan pakaian aneh itu, saya di dudukan di samping mama dan saya menangis besar!

Setelah sehari kemudian saya sudah terbiasa dengan pakaian itu, dan tidak ada penolakan lagi. Pencarian mama kembali menghantui, pertanyaan yang sama muncul lagi, “Kenapa mama masih tidur?” Zaman dahulu di desa belum ada sistem kremasi, jadi mereka yang meninggal di kubur. Bahkan ketika mama sudah dikubur sekalipun saya masih belum mengerti, begitulah pikiran anak berumur empat tahun, begitulah anak mencari mama, dan sekarang masih mencari mama yang hilang.

Suatu ketika saya menginjak umur belasan, saya tersentak dan tiba-tiba menyadari, kemanakah mamaku pergi? Aku baru sadari bahwa mama telah tiada dan tak kembali lagi, aku baru bisa menitikkan air mata.

Jangan menunggu mama sudah tiada lagi baru menyesal, sayangilah mama ketika dia masih bersamamu, mama bukanlah manusia sempurna, kadang-kadang ada sisi yang kurang baik dalam dirinya, sisi ini akan muncul dari waktu ke waktu. Maafkanlah mama setiap waktu, apakah itu dia mama kandung, mama angkat atau juga mama mertua.

Saat ini, saya masih mencari mama yang hilang, dan ketemukan mama di hati. ketika mama meninggal, dia tidak pergi kemana-mana, dia pergi ke dalam memori saya, dia menetap di sana, di sanalah kutemukan mama.


*Artikel ini saya buat karena terinpirasi oleh video ini, terima kasih yang sudah melakukan subtitle bahasa Indonesia. Jika Anda tahu siapa yang mengerjakan subtitle, mohon beritahu saya untuk men-kredit namanya.


Creative Commons LicenseArtikel ini boleh dikutip sebagian atau seluruhnya dengan tetap mencantumkan nama penulis dan url, tidak dimodifikasi dan non komersial. Karya ini dilindungi oleh lisensi Creative Commons License, kecuali yang tidak disebutkan demikian.

4 comments on “Mencari Mama yang Hilang

  1. Dharma Heart Apr 2, 2016 18:46

    Bhante…
    Thx Bhante for your life story… so touching… Be Happy Bhante -3
    Bhante… thank you so much for your photo of new hamlet garden, I can feel the beautyof spring in new hamlet 🙂
    Be Happy Bhante -3 🙂

  2. martin Apr 3, 2016 21:06

    terima kasih Bhante 🙂

  3. xian cheng Apr 27, 2016 08:37

    Namo Buddhaya,非常感恩您师叔,让我想起爸爸往生留言给我的话.他老人家说:我是让他失望的人。但我不会让爸爸失望,因为我要他知道女儿选这条路是没有错的。我选这条路是我一生最值得,最快乐的。感恩。

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>