Bertemu Buddha di Tanah Suci, Saat Ini, Di Sini, dan Di Hati

Memori manusia mencatat banyak informasi. Ada tempat yang memberi kesan mendalam, terutama negara yang pernah dikunjungi. Sampai detik ini, India merupakan negara yang meninggalkan kesan sangat mendalam bagi saya. Rentang corak kehidupan di sana sangat bervariasi adanya. Kondisi seperti masih ada keserupaan dengan ribuan tahun lalu.

Saya pertama kali menginjakkan kaki di India pada 2006. Itu adalah perjalanan yang sangat berkesan sepanjang masa hingga detik ini. Kehidupan saya mengalami kulminasi pada pertengahan tahun sebelumnya. Saya mengalami efek U-turn yang cukup drastis dalam kehidupan, ada sebuah keyakinan bahwa spiritual akan menjadi jawaban dari duka nyata itu.

Para Arya
Tanah para arya, itulah cara mereka menyebut India. Hatiku bergetar mendengar istilah itu. Memang benar bahwa India adalah tanah yang melahirkan begitu banyak aliran spiritual di dunia. Sederet orang yang telah tercerahkan berasal dari sana. Sebut saja, Buddha dan para murid-muridnya. Saya merasa inilah kesempatan untuk menggali lebih dalam ke lubuk hati dan India akan menjadi tempat yang tepat.

Akhir 2006 saya berhenti kerja. India adalah destinasi selanjutnya, sebuah destinasi yang tampaknya abu-abu, namun serasa ada sebuah misteri yang perlu dipecahkan. Saya membiarkan hati tetap terbuka untuk mengobservasi misteri itu, biarkan dia pelan-pelan terkuak, dengan kesiapan hati untuk menerimanya.

U-Turn Kehidupan
Beberapa bulan di India mematangkan banyak benih spiritual. Saya memutuskan untuk terjun sepenuhnya ke dalam dunia spiritual. Awal Jauari 2007 juga menjadi U-turn berikutnya. Saya memutuskan untuk masuk dunia monastik dengan menerima penahbisan samanera di Wihara Ekayana. Saya kembali lagi ke India untuk melanjutkan perjalanan spiritual.

Filsafat mahayana menjadi topik yang sangat menarik, namun saya perlu belajar bahasa Tibet terlebih dahulu. Berkelana dari Library of Tibetan Works and Archives menuju Institute Thosamling, kemudian ke Institute of Buddhist Dialectic. Tinggal di Dharamsala menjadi berkah tersendiri karena sering bertemu dengan Yang Mulia Dalai Lama dan menerima wejangan Dharma langsung dari beliau secara berkala. Awal tahun 2008 saya menerima penahbisan ulang sramanera dari beliau.

Kata Hati
Institute of Buddhist Dialectic menjadi pusat pembelajaran yang cukup bergengsi di sana. Setahun lebih studi di situ. Saya juga sempat mampir ke Hanoi untuk mengikuti retret yang dibimbing oleh Thay dan monastik Plum Village.

Transformasi dari retret di Hanoi tampaknya baru mulai. Kata hati membisikkan bahwa Thay dan komunitasnya memiliki kekuatan alamiah. Awal tahun 2009 saya memutuskan untuk berhenti kelas bahasa Tibet dan filsafat untuk hijrah ke Plum Village Perancis. Saya menetap di Perancis beberapa tahun hinggga penahbisan biksu.

Suatu ketika, saat masih di Plum Village Perancis, hati saya merasa tidak menentu, lalu saya bertanya kepada Thay, “Thay, saya ingin kembali ke India lagi.” Thay tidak menjawab, lalu pergi. Setelah beberapa langkah menjauh, Thay berhenti lalu membalikkan badannya, menatap saya dengan mata tajam lalu bilang, “Here is India, and India is here” sambil menujukkan jarinya ke bawah sebagai penegasannya.

Redanya Kekeruhan Hati
Saya mengikuti arahan Thay, dan sejak saat itu saya tidak pernah berpikir untuk kembali ke India lagi. Tampaknya saya ingin melarikan diri untuk bersembunyi di India. Ucapan “Here is India, and India is here” menjadi Koan bagi saya.

India sebetulnya non-lokatif, bisa ditemukan di mana-mana. Namun India secara fisik merupakan batas-batas wilayah yang menjadi kesepakatan. Kekalutan dan kekeruhan hati membuat saya tidak bisa merasakan India di sini dan saat ini. Para Zen Master selalu punya cara untuk membantu muridnya lewat cara berbeda-beda.

Saya sudah damai kembali, menikmati India di setiap momen. Saya terus menetap di Plum Village Perancis hingga menerima transmisi pelita menjadi Dharmacharya. Pemahaman saya tiba pada pergi ke India atau tidak, sudah tidak masalah lagi, saya tak perlu berlari lagi.

Aku Kembali
Sekarang tahun 2018, ternyata sudah hampir 10 tahun lalu saya meninggalkan India. Saya kembali menginjakkan kaki di India. Saya datang dengan hati yang damai. Mataku segar dan baru, seolah-olah inilah pertama kali tiba di India, melihat India dengan mata yang tidak sama persis, juga tidak terlalu berbeda. Sapi masih berkeliaran, duka nestapa rakyat miskin dan kasta rendah masih begitu ketara. Semua duka tidak membuat hatiku berat, justru karuna-lah yang lahir.

Ada beberapa orang bertanya, “Mengapa bhante tidak berkunjung ke tempat-tempat suci Buddha?” Saya balas, “Saya bertemu Buddha di setiap langkah, dan saya menemukan Buddha di setiap jengkal tanah India, lalu kenapa harus ke tempat-tempat suci lagi?”

Semoga Anda juga bisa menemukan Buddha di hatimu, tak usah jauh-jauh ke India. Namun, apabila Anda tetap mau ke tempat-tempat suci di India, tentu saja bagus. Semoga Anda menemukan Buddha di saat ini dan di sini, menemukan Buddha di tempat suci, juga menemukan Buddha di hati.

Aku telah tiba, dan aku sudah di India. Inilah yang ingin saya sampaikan kepada Thay untuk menjawab Koan dari beliau.

Creative Commons LicenseArtikel ini boleh dikutip sebagian atau seluruhnya dengan tetap mencantumkan nama penulis dan url, tidak dimodifikasi dan non komersial. Karya ini dilindungi oleh lisensi Creative Commons License, kecuali yang tidak disebutkan demikian.

2 comments on “Bertemu Buddha di Tanah Suci, Saat Ini, Di Sini, dan Di Hati

  1. Cen Feb 4, 2018 11:39 pm

    Terimakasih Bhante. Sungguh indah tulisannya

  2. William Francis Feb 5, 2018 12:34 am

    inspiring bhante, semoga bhante dan semua mahluk selalu berbahagia…

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>