Menjadi Perfeksionis yang Komplet

Botanical Garden @Singapore; November 2018

Perjalanan ke Surabaya untuk memimpin Hari Berkewawasan memberikan saya wawasan baru atas cara pandang sekelompok masyarakat. Pengertian baru ini tentu saja menarik untuk disimak, namun bukanlah untuk menggeneralisasi sebuah fenomena.

Day of Mindfulness yang sekarang saya sebut sebagai Hari Berkewawasan. Saya sedang memopulerkan istilah baru, mewawas, yang sebetulnya bukanlah istilah baru sama sekali. Mewawas dari istilah dasarnya wawas. Mewawas artinya meneliti; meninjau; memandang; mengamati. Tampaknya cocok untuk menerjemahkan istilah mindful (wawas) dan mindfulness (kewawasan).

Kebijakan Lokal

Setiap rumah memiliki aturannya masing-masing. Sebagaimana idiom klasik Tiongkok, 「國有國法,家有家規」 (guó yǒu guó fǎ, jiā yǒu jiā guī). Setiap negara memiliki hukum negaranya, setiap keluarga juga punya aturannya. Demikian pula dengan wihara, ada kebijakan lokalnya. Contoh ada wihara yang memiliki kebijakan untuk duduk di lantai dengan dialasi dengan bantal duduk, ada juga wihara yang duduk di kursi, tentu saja boleh toh.

Ada sesuatu yang janggal di sebagian besar wihara yang pernah saya kunjungi. Umat cenderung memilih duduk di barisan belakang. Tampaknya ada rasa sungkan untuk duduk di barisan depan. Tak heran jika pemimpin kebaktian selalu meminta umat untuk mengisi baris depan, agar nanti ada yang terlambat bisa mengisi bagian belakang.

Setiap kebaktian minggu di wihara, pada umumnya tempat duduk sudah disusun di sebelah kiri dan kanan. Jika seseorang masuk ke baktisala maka yang pria akan otomatis ke sebelah kanan, dan wanita ke sebelah kiri. Bagi mereka yang rutin ke wihara, maka ke kiri dan kanan sudah menjadi sesuatu yang otomatis pula, atau autopilot, bahkan tidak perlu berpikir lagi.

Mengetes Reaksi

Pada hari berkewawasan barusan, saya sengaja meminta panitia untuk menyusun bantal duduk berbentuk setengah lingkaran atau berbentuk U-shape. Duduk demikian bisa lebih nyaman karena tidak ada kiri dan kanan, juga sekaligus mau mengetahui bagaimana reaksi peserta.

Keesokan harinya, ternyata hampir semua peserta masuk jebakan saya. Mereka sudah terbiasa dengan duduk di sebelah kiri dan kanan. Walaupun alas duduk sudah disusun berbentuk U-shape, mereka tetap memisahkan diri. Wanita sudah otomatis ke kiri dan pria ke kanan.

Lebih celaka lagi, mereka mencoba untuk menggeser alas duduk ke sebelah kiri dan kanan, ternyata mereka takut duduk di tengah, mereka lebih nyaman duduk di pinggir.

Jebakan

Ketika saya masuk ke dalam ruangan, saya bilang, “Anda boleh duduk bebas di kiri ataupun kanan.” Mendengar instruksi saya, mereka masih tertampak ragu. Wajah mereka terlihat mengerut. Kelihatannya bukan sesuatu yang lumrah bagi mereka untuk duduk bebas dalam kegiatan wihara.

Saya bilang, “Saya sengaja mengatur tempat duduk seperti ini. Eh ternyata Anda semua masuk jebakan saya. Susunan alas duduk seperti itu untuk mengetes Anda, mengetes program apa yang sedang berjalan dalam kepalamu, yaitu program otomatis ke kiri dan ke kanan, bahkan lebih celaka lagi Anda menggeser alas duduknya ke pinggir.”

Ini pelajaran non diskriminasi. Ini pembelajaran untuk mengerti bagaimana cara kerja autopilot pikiran. Inilah meditasi, inilah kewaspadaan. Saya tidak bilang duduk di kiri dan kanan itu salah loh. Saya juga bukan meminta Anda untuk duduk sembarangan. Jika minggu depan ke wihara lagi, mohon duduk sesuai dengan kebijakan dan aturan di wihara setempat yah.

Rute Itu

Ada orang yang setiap hari melewati rute yang sama ketika pergi dan pulang ke sekolah atau kantor. Dia sudah merasa nyaman dengan rute itu. Lama kelamaan dia hanya ingin melewati rute itu saja lalu enggan mencoba rute lain. Inilah comfort zone, tidak ada salahnya dengan comfort zone kok, yang menjadi problema adalah ketika ia berkesimpulan bahwa itulah satu-satunya comfort zone. Don’t attached to one comfort zone!

Meditasi membantu manusia menciptakan kondisi pikiran yang lebih jernih. Kejernihan inilah yang menjadi mata sekaligus keberanian untuk keluar dari zona nyaman itu, tidak melekat. Jika Anda berani masuk, maka juga berani keluar. Celakanya ketika sudah nyaman di situ, kita tidak mau keluar lagi, maka terjadilah ketidakseimbangan. Bukan berarti saya suruh Anda pindah-pindah terus loh, ini malah plin-plan.

Perfeksionis Komplet

Ada seorang teman saya, ia terkenal sebagai seorang perfeksionis. Saya bilang, “Perfeksionis kamu tuh belum komplet, karena berat sebelah.” Dia terheran-heran minta klarifikasi. Saya kasih contoh begini, “Anggap saja perfek itu sebagai tangan kanan, dan imperfek adalah tangan kiri. Karena kamu hanya bergerak ke kanan saja, maka lama-lama berat sebelah di kanan. Perfek yang komplet terletak pada keberanian meletakkan (letting go) kanan agar bisa bergerak ke kiri, imperfek. Wahai para perfeksionis, “Beranikah menerima imperfek?

Segala sesuatu yang berat sebelah sering mengakibatkan efek terbalik. Minum itu bagus, jika terlalu banyak minum maka kembung. Makan itu bagus tapi terlalu banyak makan juga bikin perut sesak. Jika sakit, tentu saja Anda ke dokter dan diberikan obat. Makanlah obat itu sesuai dosis, jika Anda terobsesi ingin cepat sembuh dan menegak 10 biji obat pada waktu bersamaan, maka obat itu berubah menjadi racun yang mematikan.

Creative Commons LicenseArtikel ini boleh dikutip sebagian atau seluruhnya dengan tetap mencantumkan nama penulis dan url, tidak dimodifikasi dan non komersial. Karya ini dilindungi oleh lisensi Creative Commons License, kecuali yang tidak disebutkan demikian.

One comment on “Menjadi Perfeksionis yang Komplet

  1. Indi Y. W Dec 5, 2018 16:36

    Terima kasih bhante atas sharing Dhammanya. Orang yg bijaksana akan selalu melihat keadaan sekelilingnya dengan seksama dan selalu menjadikannya bahan pembelajaran serta penambah kebijaksanaan.🙏

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.