Prinsip Geser: Analogi Baru Untuk The Middle Way

Walking in the middle of Khao Yai Winery

Waktu saya masih bocah, ada suatu ketika saya diserang sejenis alergi di bagian lekukan tangan kiri. Gatalnya setengah mati, bentol-bentol berwarna merah. Jari-jari tak ayal ingin menggaruk terus. Semakin digaruk semakin parah.

Ama (nenek) saya termasuk orang yang mahir dalam obat-obatan tradisional. Dia pergi ke hutan mencabut beberapa tumbuhan liar dan daun-daun yang berwarna kemerah-merahan. Saya diminta untuk merebus daun-daun itu beserta batangnya, kemudian menyirami bagian alergi itu dengan air hangat rebusan tadi.

Perdukunan

Tak lama kemudian memang sembuh! Aneh bin ajaib. Namun selang beberapa lama kemudian, penyakit sama datang lagi. Saya mengulangi resep tradisional Ama, kali ini saya yang pergi sendiri mencabut tumbuhan itu lagi, walhasil sembuh lagi. Ketika penyakit sama menyerang lagi untuk ke-3 kalinya, Ama langsung membawa saya ke dukun terdekat. Iya dukun, bukan dokter, karena dokter tidak laku di desa kecil saat tahun 80an.

Saya masih bocah, tidak begitu mengerti urusan perdukunan. Saya cuma lihat Ama berkonsultasi dengan “orang pintar” alias dukun itu, kemudian mendapat resep kertas kuning (baca: Hu). Caranya gampang, kertas kuning itu dibakar kemudian dicemplungkan ke dalam air, lalu minum! Percaya atau tidak percaya, saya sembuh! Dan Penyakit sama tidak pernah mengunjungi saya lagi.

Sebetulnya saya lebih suka dengan cara pengobatan tradisional daripada harus ke dukun, disembuhkan oleh tumbuh-tumbuhan, disembuhkan oleh alam. Zaman sekarang tentu saja lebih laris dokter daripada dukun. Tapi entahlah apakah desa-desa kecil masih mengandalkan dukun seperti itu. Ternyata dokter zaman sekarang juga memberikan “Hu”, cuma “Hu” dokter itu berwarna putih dan perlu ditebus di apotek.

Dosis Tepat

Dokter akan menakar sesuai dosis kebutuhan pasien. Ketika Anda makan sesuai petunjuk dokter, tentu saja penyakit akan berangsur-angsur sembuh. Jika tidak sembuh? Cari Dokter lagi. Namun ada saja manusia sok pintar ingin cepat sembuh, jadi dia menelan 10 biji obatnya sekaligus, alih-alih sembuh malah berakibat fatal, overdosis, dan parahnya bisa game over.

Saya sering menggunakan istilah “dosis” untuk menjelaskan cara pandang buddhis tentang Jalan Tengah (The Middle Way). Segala sesuatu yang overdosis akan memberikan efek terbalik. Obat yang diberikan untuk menyembuhkan, apabila tidak dimakan sesuai dosis maka obat berubah fungsi menjadi racun.

Kenapa demikian? Karena obat memiliki potensi berubah menjadi racun, demikian juga sebaliknya. Ada tabib Tiongkok yang bisa meracik racun, misalnya bisa ular, menjadi obat penyembuh penyakit, namun perlu keahlian dan pengetahuan untuk menakar dosisnya agar sesuai.

Analogi Baru

Belakangan saya menemukan analogi baru untuk menjelaskan Jalan Tengah. Saya mendapat inspirasi ketika sedang duduk di samping pak sopir. Kemampuan mengendarai mobil sang sopir sangat piawai, sehingga saya merasa nyaman di dalam mobil. Saya punya kebiasaan memperhatikan napas masuk dan keluar, mengamati sepanjang napas masuk dan keluar lalu relaksasi seluruh badan, tak lupa sambil senyum kecil.

Kesempatan itulah yang melahirkan inspirasi baru! Pak sopir perlu terjaga dan wawas, agar mobil tetap berada di jalurnya. Jalan tol pada umumnya memiliki garis putih pemisah satu jalur dengan jalur lain. Pak sopir akan secara alamiah menggerakkan setir mobil agar terus meluncur di tengah, tidak terlalu ke kiri juga tidak terlalu ke kanan.

Itulah Jalan Tengah. Ketika mobil terlalu ke kiri, maka dia akan mengarahkan setir ke sebelah kanan agar tidak menyerobot jalur orang lain. Dengan demikian posisi mobil akan berada di posisi tengah lagi. Demikian juga sebaliknya, jika mobil terlalu ke kanan maka pak sopir perlu mengarahkan setirnya ke kiri. Jadi boleh ke kiri dan ke kanan sesuai dengan kebutuhan.

Pindah Jalur

Kiri maupun kanan tidak ada yang salah atau benar. Kita membutuhkan dua-duanya. Menyetir kendaraan dengan cara demikian akan memastikan keamanan. Namun jika ingin pindah jalur boleh? Tentu saja boleh, jangan lupa menyalakan lampu sein yah. Setelah pindah jalur, Anda tetap menggunakan prinsip geser ke kiri dan kanan demi keseimbangan, demi tetap berada di jalur tengah.

Bagaimana pak sopir bisa mengetahui dia masih di jalur tengah? Tentu saja dia memiliki energi kewawasan (mindfulness), dia memiliki kejernihan mata untuk melihat jalur dan garis, agar dia bisa tetap meluncur di jalan tengah.

Manusia membutuhkan kewawasan agar tetap bisa meluncur di jalan tengah. Jika makan berlebihan, maka saatnya menguranginya. Jika terlalu banyak lihat layar sentuh HP, maka sudah saatnya dikurangi. Jika terlalu banyak minum yang manis-manis, maka saatnya menguranginya.

Prinsip Geser

Dalam Buddhis, seseorang boleh memilih bagaimana melakoni kehidupannya. Pada umumnya umat Buddha memilih untuk menikah, ini jalur berumah-tangga. Jalur ini juga perlu kewawasan agar bisa tetap meluncur di Jalan Tengah. Lalu, jika ingin pindah jalur ke monastik bagaimana? Tentu saja boleh, jika situasi dan kondisi memungkinkan serta mendukung.

Namun ingat, prinsip geser kiri dan kanan tetap diperlukan, sehingga sebagai monastik juga tetap bisa terus meluncur di Jalur Tengah sesuai dengan tata aturan dan komitmen monastik. Perlu juga kita mengingat bahwa mereka yang sudah meluncur di jalur monastik juga banyak yang pindah kembali ke jalur perumah-tangga lagi kok.

Fenomena mana yang lebih banyak? Berpindah dari jalur perumah tangga ke monastik, atau perpindahan dari jalur monastik ke perumah tangga? Saya serahkan kepada Anda untuk menjawabnya masing-masing.

Creative Commons LicenseArtikel ini boleh dikutip sebagian atau seluruhnya dengan tetap mencantumkan nama penulis dan url, tidak dimodifikasi dan non komersial. Karya ini dilindungi oleh lisensi Creative Commons License, kecuali yang tidak disebutkan demikian.

One comment on “Prinsip Geser: Analogi Baru Untuk The Middle Way

  1. Mellykiong Jan 13, 2019 05:29

    Anumodana Bhante sangat bijak jalan tengahnya

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.