Hanya Pencerahan Sempurna

Hanya Pencerahan Sempurna

Transformasi

Tujuan kita belajar adalah mencoba untuk merubah semua aktivitas ucapan, badan jasmani, dan mental menjadi positif dan sekaligus mengatasi berbagai keterbatasan kita; yang ingin kita lakukan adalah merubah tiga pintu itu menjadi bajik atau positif, tentu saja banyak cara yang bisa dilakukan untuk melakukan transformasi mental, dan ajaran Buddha merupakan metode yang sangat ampuh untuk itu.

Guru besar India, Chandrakirti dalam “Madhyamikavatara” menyatakan bahwa batin memiliki kekuatan dan pemberi dampak sangat besar dalam praktik ajaran Buddha, perlu anda ketahui bahwa hal paling pertama yang harus kita siapkan adalah berkaitan dengan mental dan cara pandang kita yaitu dengan melakukan transformasi cara pandang, dan kemudian hal ini akan mencakup hal-hal berikutnya.

Diantara tiga pintu itu batin (mental) memberi dampak paling besar, walaupun se-intensif apapun anda berlatih, apabila anda tidak melakukan transformasi cara pandang anda, maka latihan kita bagai cangkang kosong. Apabila kita berhasil melakukan transformasi cara pandang kita maka, hal demikian akan memberi dampak besar bagi aktivitas ucapan dan badan jasmani. Inilah yang akan menjadi sumber kehabagiaan karena mental kita akan semakin baik terkendalikan, semakin damai, kemudian keadaan damai ini akan membawa dampak bagi orang di sekitar kita, dengan demikian kita bisa memberikan manfaat kecil kepada orang yang berada dekat dengan kita.

Bagaimana?

Bagaimana seseorang melakukan transformasi cara pandang? Pertama-tama seseorang harus mencari tahu jenis mental bagaimana yang memberi manfaat dan kemajuan; dan jenis mental bagaimana yang berlaku sebaliknya, seseorang harus mencari tahu aksi seperti apa yang positif dan aksi seperti apa yang membawa pengaruh negatif; kemudian simpan baik-baik informasi itu dalam memori anda, inilah fungsinya kewaspadaan, kita harus waspada terhadap jenis-jenis mental yang membawa manfaat dan kemajuan dan jenis mental yang merusak.

Dalam Abhisamayalamkara (The Ornament of Clear Realization), Maitreya dengan jelas menyatakan bahwa tahap pertama adalah menenangkan penderitaan terlebih dahulu, pastikan kita tidak dalam kondisi menderita sakit fisik berat. Pertama-tama kita harus melindungi diri sendiri terlebih dahulu dari derita fisik, hal kedua adalah kita harus memastikan diri keluar dari lingkaran samsara, hal ketiga adalah kita menyukseskan keinginan terbesar diri sendiri dan orang lain, menyempurnakan potensi kita sehingga kita bisa memberi manfaat terbesar bagi semua makhluk, inilah tiga tujuan yang harus menjadi tujuan kita ketika berlatih dalam spiritual.

Jika memang tujuan kita sudah jelas, maka kita harus mulai dengan tidak melekat pada hal-hal baik dalam kehidupan ini, hal yang perlu kita ingat adalah bahwa pada saat ini kita memiliki badan jasmani atau basis untuk bekerja yang sangat mumpuni, kita terbebas dari berbagai bentuk penghalang atau kondisi tidak baik, kita berada dalam kondisi-kondisi baik dan menunjang. Secara internal maupun eksternal sangat baik dan menunjang, karena kita bisa bertemu langsung dengan guru spiritual yang berkualitas, demikian pula guru spiritual mampu menjelaskan ajaran Buddha yang sangat luas dan dalam bahkan sangat detil.

Renungkanlah!

Kita mampu mengerti ajaran Buddha dari guru spiritual, dan kita juga mengerti sepenuhnya apa yang patut kita lakukan, kita memiliki kemampuan untuk mengerti ajaran Buddha, kita memiliki berbagai kebebasan dan berkah, kita bisa berlatih dan terbebas dari situasi sulit. Ini merupakan kondisi yang perlu kita renungkan. Walaupun hanya berpikir sejenak saja akan hal-hal yang disebutkan di atas, maka itu sudah cukup bagi kita pada sekarang ini.

Semua kenyamanan, kenikmatan, faktor penunjang, kondisi baik, semua itu tidak stabil, tidak berlangsung lama, semua keadaan selalu berubah setiap waktu. Cukup banyak diantara kita sangat tertarik untuk belajar dan berlatih dalam ajaran Buddha, kita juga ingin berbuat kebajikan bahkan kita selalu mencoba untuk terus berbuat kebajikan, tapi tahukan anda masalah paling besar adalah kebanyakan tindakan kita entah kenapa selalu mengarah ke sesuatu yang ‘hampa’ bagaikan ‘hampa’-nya gelembung air.

Semua kebahagiaan dalam kehidupan ini, kekayaan, kenikmatan hidup ini, prestise, kebanggaan, pujian, inilah yang menjadi fokus utama kita, karena terlalu mementingkan hal-hal demikian saja dalam kehidupan ini saja, maka banyak energi yang dicurahkan tersia-siakan; bahkan kita berlatih dharma juga berharap mendapatkan hal-hal duniawi seperti itu, kita sangat mendambakan hal-hal duniawi seperti itu dan akhirnya kita berlatih dharma demi mendapatkan hal-hal duniawi. Bukan berarti tidak boleh dan tidak bisa, namun berbagai latihan kita bisa membawa hal-hal duniawi datang kepada kita, namun itu menjadi perspektif berpikir yang sangat sempit dan terbatas, karena itu hanya terbatas pada kehidupan ini saja, namun kita hampir tidak pernah berpikir tentang kehidupan akan datang.

Jika memang demikian tujuan praktik spiritual kita, maka kebajikan yang kita hasilkan tidak memiliki kekuatan besar, walaupun kita bisa menikmati semua kenikmatan duniawi, namun tidak memiliki kebajikan berkekuatan besar yang bersumber dari perspektif sempit dan terbatas kita.

Kebajikan v.s Ketidak-bajikan

Ini masalah yang muncul, pertama adalah kebajikan yang kita hasilkan itu sangat lemah karena niat atau motivasi di balik itu yang juga lemah, namun ketika kita berbicara tentang aktivitas negatif, maka kita bisa secara spontan melakukannya setiap saat, lebih celaka lagi kita mampu menyempurnakan semua aktivitas negatif itu, kita juga sangat mahir menciptakan ketidak-bajikan sehingga kita memiliki banyak ketidakbajikan yang memiliki kekuatan besar; dan kita memiliki sedikit kebajikan dan itupun tidak memiliki kekuatan besar.

Jadi kita meletakkan diri pada posisi yang sangat genting dan berbahaya, mengapa? Karena kita membesarkan kekuatan ketidak-bajikan dan terus melemahkan kebajikan, kemudian badan jasmani dan kehidupan kita sangat rapuh bagaikan gelembung, tak ada satu orang pun yang berani menjamin besok dia akan tetap hidup.

Kita berada dalam kondisi genting, kebajikan lemah, ketidakbajikan sangat kuat, kehidupan rapuh, dan kematian cepat menghampiri, maka itu kita perlu melakukan purifikasi dengan menerapkan empat metode penentang, yaitu dengan menyesal atas perbuatan ketidakbajikan itu, berkomitmen untuk tidak melakukan ketidakbajikan itu lagi, berlindung pada triratna, dan membangkitkan bodhicitta. Kemudian menerapkan obat penawar untuk menentang perbuatan tidak bajik, ini satu sisi yang harus kita perhatikan dan sisi lain yang tak kalah penting yang mana perlu kita perhatikan adalah praktik kebajikan betul-betul murni dan tidak dalam perspektif sempit atau terbatas hanya mencari kebahagiaan pada kehidupan ini saja.

Hal paling penting yang perlu kita lakukan adalah bawalah batin dan mentalmu bersatu dalam ajaran Buddha, mengapa penting untuk menyatukan mentalmu dengan ajaran Buddha? Karena apabila kita tidak melakukan seperti demikian, maka kebajikan kita sangat sedikit, ketidakbajikan sangat besar, dan obat penawar tidak digunakan, apabila hal demikian terus berlangsung pada diri kita maka, ketika menjelang ajal tiba maka, kita akan berada pada situasi yang sangat sulit, kita menjadi semakin sulit untuk menghindari berbuat ketidakbajikan, kita akan secara spontan bertindak negatif setiap waktu, dan derita akan menyambar kita terus menerus.

Disiplin Etika

Apabila kita tidak ingin berada dalam situasi seperti itu, maka hal yang perlu kita lakukan adalah mencoba untuk berhenti melakukan perbuatan negatif yang dilakukan oleh badan jasmani, ucapan, dan mental, dengan kata lain kita perlu mempertahankan disiplin yang berkaitan dengan etika. Jadi hal mendasar yang paling awal adalah disiplin yang berkaitan dengan etika, disiplin etika dibutuhkan oleh semua lapisan orang, apakah itu seseorang yang telah ditahbiskan maupun umat biasa, jadi berlatih dalam sila atau disiplin etika sangat penting bagi siapapun.

Guru besar India, Acharya Aryadeva menjelaskan tujuh perbuatan negatif melalui badan jasmani dan ucapan yang mana perbuatan negatif itu secara langsung mencelakakan orang lain, perbuatan negatif itu adalah membunuh, mencuri, perbuatan asusila, tiga ini berkaitan dengan badan jasmani; berbohong, menggunakan kata-kata kasar, dan kata-kata yang memecah-belah, pembicaraan tak berguna, empat ini berkaitan dengan ucapan; semua dari tujuh perbuatan negatif itu secara langsung mencelakakan orang lain; kemudian terdapat 3 jenis keadaan mental yang selalu menjadi basis dari perbuatan negatif yaitu pemikiran yang selalu ingin mencelakakan orang lain, pemikiran yang bernafsu ingin mendapatkan barang milik orang lain, dan pandangan keliru, inilah yang menjadi penyebab kekerasan, yang perlu kita lakukan adalah berusaha menghindari hal-hal demikian. Dengan berlatih menghindari hal-hal demikian berarti kita melakukan hal sebaliknya yaitu berlatih non-kekerasan, inilah makna sesungguhnya dari non-kekerasan yaitu secara aktif menghindari perbuatan-perbuatan negatif itu.

Selain komitmen anggota sangha monastik, terdapat komitmen umat biasa, berlatih dalam komitmen umat biasa berarti menjaga kemurnian disiplin etika, tentu saja umat biasa boleh berlatih disiplin etika tanpa harus ada komitmen, namun dengan mengambil komitmen dan menjaga kemurnian disiplin etika, hidup sesuai dengan disiplin etika, kemudian berlindung kepada Triratna adalah cara untuk memastikan kelahiran manusia yang unggul.

Bertahap menuju Kestabilan

Idealnya adalah kita bisa terlahir ke dalam kondisi baik dan menunjang, dan kemudian terlahir ke dalam kondisi dan keadaan lebih menunjang lagi hingga terbebas dari samsara. Kalau saat ini kita tidak memiliki kelahiran yang baik dan menunjang, bagaimana kita memastikan kehidupan lebih baik di masa akan datang?

Jadi kita membutuhkan kelahiran yang baik dan menunjang agar bisa terus berlatih.

Saat ini kita mendapatkan status tinggi, kehidupan manusia, badan jasmani baik, kondisi dan faktor menunjang, namun tidak akan jaminan kepastian bahwa itu akan berlangsung selamanya, kita masih belum pada posisi yang betul-betul aman, kita belum berpijak pada ‘daratan’ yang aman, setiap saat kita bisa saja terjatuh ke bawah.

Dengan logika sederhana, kita sangat perlu menggunakan dengan baik kesempatan sekarang ini, ketika saat ini kita masih memiliki berbagai faktor penunjang, badan jasmani, banyak kebebasan, dengan semua kondisi baik itu kita ingin mencapai ‘daratan’ yang lebih stabil lagi yaitu pembebasan.

Sebagaimana yang kita sadari bahwa kita perlu kelahiran yang baik dan menunjang, selama kita terlahir kembali atas kekuatan pendorong karma negatif kita yang berasal dari faktor mental penganggu (kilesa), maka kita masih berada dalam lilitan masalah.

Aryadeva menyatakan bahwa selama kita terjepit oleh karma negatif yang berasal dari faktor mental penganggu, apakah itu kita berada di atas langit, di bawah tanah, atau di atas tanah, apakah itu alam berbentuk, alam tanpa bentuk, alam tinggi, atau alam rendah, selama kita masih tercengkeram oleh faktor mental penganggu dan akibat yang dihasilkannya maka, kita berada dalam bahaya. Apabila kita terlahir ke alam binatang, alam neraka, alam setan kelaparan, maka kita akan disuguhkan berbagai macam penderitaan dan masalah, bahkan alam manusia yang disebut sebagai alam tinggi juga mengandung banyak potensi penderitaan dan masalah, namun kehidupan manusia adalah alam paling baik dibandingkan dengan alam-alam rendah maupun alam tinggi lainnya.

Derita oh……. Derita

Perhatikanlah penderitaan sederhana yang sudah kita alami, penderitaan karena kelahiran, penuaan, penyakit, kematian, bertemu dengan hal-hal yang tak di-inginkan, dan berpisah dengan hal-hal yang di-senangi, dan ketika menginginkan sesuatu kemudian mencari-cari ke segala penjuru namun tidak menemukannya, dan masih banyak lagi penderitaan-penderitaan lain, selalu saja ada yang tidak beres, apakah itu keadaan fisik, mental, selalu saja ada yang tak beres.

Beginilah situasi buruk yang menimpa kita akibat dilemparkan oleh aktivitas-aktivitas negatif kita yang dimotori oleh faktor mental penganggu. Kita tidak mampu mencegah kehadiran situasi buruk itu, bahkan tak mampu menolaknya.

Walaupun pada waktu tertentu kita tidak berada dalam situasi buruk, walaupun kita berada dalam keadaan batin mental netral, namun badan jasmani kita ini seperti magnet yang memiliki kekuatan menarik penderitaan, cepat atau lambat penderitaan akan datang. Kita seperti berbaring disebuah batu tidak rata, berbolak-balik dengan posisi apapun tidak akan memberikan kenyamanan; oleh karena itu kita harus mencari pembebasan dari kunkungan dari akibat tindakan buruk yang digerak oleh faktor mental penganggu.

Jadi kita perlu untuk menyadari dan mengakui kondisi-kondisi yang terjadi pada kita pada saat ini, apakah ada hal yang tak benar pada kondisi kita saat ini, tariklah benang merah bahwa kondisi-kondisi sekarang ini adalah akibat dari aktivitas buruk kita yang digerak oleh faktor mental penganggu, faktor mental penganggu ini meluncur dari ketidaktahuan dasar atas bagaimana berbagai segala sesuatu eksis. Satu-satunya cara untuk mengobati diri kita adalah kita berusah mengikis ketidaktahuan dasar itu.

Kita tidak memiliki rasa takut secukupnya atas penderitaan yang mendera sekarang ini, maka kita akan buru-buru mencari keadaan yang mana kita bisa terbebas dari penderitaan-penderitaan itu, rasa takut bisa menjadi daya dorong bagi diri kita untuk mencari pembebasan atau paling minimal melakukan sesuatu untuk menjadikan keadaan lebih baik.

Manusia seperti kita ini cukup pintar, menikmati berbagai kebahagiaan, kondisi yang menunjang, memiliki kemampuan untuk mengerti hal-hal demikian, dan berkat potensi yang dimiliki manusia maka, ajaran kebaikan dapat kita terapkan.

Selama berada dalam samsara, kita selalu merasakan hal demikian, mendera berbagai jenis penderitaan, terjebak dalam situasi demikian, namun bukan hanya kita saja, tetapi semua makhluk hidup mendera berbagai jenis penderitaan juga, mereka juga berada dalam situasi yang sama dengan kita.

Pengorbanan para ibu-ibuku

Banyak makhluk telah melakukan berbagai jenis perbuatan buruk demi melindungi kita, padahal mereka berkesempatan untuk berbuat baik namun belum sempat mereka lakukan, karena mereka mencurahkan sepenuhnya untuk menjaga kita. Bahkan mereka sudah banyak kali mengorbankan nyawa mereka demi melindungi kita, ketika kita menjadi anak mereka, seorang ibu membesarkan kita, menjaga kita, semua ini bisa kita renungkan melalui logika sederhana.

Ibu-ibu kita telah berusaha demi memastikan kita berada keadaan baik dan sehat, melindungi kita dari mara bahaya, sekarang lihatlah situasi mereka, semua menderita, renungkanlah derita-derita mereka dan renungkan koneksi kita dengan mereka, maka perasaan welas asih akan muncul, demikianlah kita harus mulai berlatih yaitu membangkitkan perasaan welas asih terhadap orang lain. Kita juga harus memunculkan suatu rasa tanggung jawab bahwa kita yang seharusnya bertanggung jawab untuk memastikan kebahagiaan mereka dan juga membebaskan mereka dari derita nestapa.

Kondisi kita saat ini, apakah kita sudah mampu melakukan hal demikian?

Hanya Pencearahan Sempurna

Banyak manusia yang memiliki kekuasaan dan kekuatan, memiliki pengaruh besar di dunia, apakah mereka mampu melakukan hal seperti yang dideskripsikan barusan? Masalahnya juga bahwa mereka yang memiliki kekuasaan juga tercengkeram oleh akibat perbuatan buruk mereka sendiri yang dimotori oleh faktor mental penganggu, jadi kesimpulannya mereka juga tidak berada dalam posisi untuk membantu semua orang.

Seseorang yang mampu membantu orang lain adalah dia yang telah terbebas dari segala keterbatasan, menyempurnakan semua jenis kualitas sampai pada tahap tertinggi, dia-lah yang mampu membantu banyak orang.

Hanya mereka yang telah tercerahkan-lah yang betul-betul berada dalam posisi efektif dalam membantu semua makhluk dari penderitaan dan ketakutan, kemudian kita juga harus berpikir demikian bahwa “Aku juga ingin mencapai pencerahan!” ketika kita mendengar, belajar, dan menerapkan ajaran Buddha maka kita harus mengintegrasikan dengan pencapaian pencerahan; apabila semua tidak tanduk kita dan proses belajar dan penerapan ajaran Buddha demi mencapai pencerahan sempurna demi kebaikan semua makhluk, maka kita sungguh melakukan sesuatu dengan motivasi dan niat sempurna.

Jika memang mencapai pencerahan sempurna merupakan tujuan kita, maka kita tidak perlu terlalu menghiraukan kelahiran baik atau buruk, apakah itu lepas dari samsara atau yang lainnya, kita tidak perlu merisaukannya karena dalam jalur menuju pencerahan semua ini telah tercakup di dalamnya.

Inilah yang ingin saya katakan hari ini, bagus sekali jika kita mampu mengarahkan tujuan kita pada pencapaian pencerahan sempurna.

Creative Commons LicenseArtikel ini boleh dikutip sebagian atau seluruhnya dengan tetap mencantumkan nama penulis dan url, tidak dimodifikasi dan non komersial. Karya ini dilindungi oleh lisensi Creative Commons License, kecuali yang tidak disebutkan demikian.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.