Kerbauku Kabur

Lepaskan Kerbaumu

Suatu hari seorang petani lingak-linguk, lari ke sana ke sini, sampai dihadapan Buddha yang sedang bersama para muridnya, Buddha barusan saja selesai makan siang penuh kesadaran bersama murid-muridnya.

Sang petani sangat sedih dan bertanya, “Oh Bhante, apakah engkau melihat kerbauku lewat sini? Aku punya 5 ekor kerbau, entah kenapa tadi pagi semuanya kabur, aku punya 2 hektar sawah, tapi tahun ini hasil panen diserang serangga dan hama, semuanya ludes! Aku sudah tidak kuat lagi hidup, mungkin bunuh diri saja lebih baik karena aku tak punya apa pun lagi

Buddha dengan tatapan penuh welas asih menjawab, “Sahabatku yang baik, kami dari tadi duduk di sini tidak melihat ada kerbau yang lewat.”

Petani itu kemudian bersedu-sedan terisak-isak, “Kerbauku kabur, hasil panenku gagal, pupuslah hidupku, sungguh perih hidup ini.”

Buddha mencoba menenangkan petani itu dengan berkata, “Wahai petani, coba engkau pergi ke arah sana untuk mencari”, Buddha sambil menunjuk ke arah kirinya. Petani itupun pergi dengan tergopoh-gopoh sambil mengusap air matanya.

Setelah petani itu jauh menghilang, Buddha menatap muridnya, tersenyum lembut dan bilang, “Wahai sahabatku, engkau sungguh beruntung; karena tak punya kerbau!


Kerbau di sini adalah gagasanmu. Jadi, latihan kita adalah belajar untuk melepaskan kerbau. Duduk dengan tenang dan damai, bernapas dengan penuh kesadaran dan konsentrasi, cari tahu kerbau apa saja yang telah engkau miliki, panggil kerbau-kerbaumu dengan nama-nama aslinya [call your cows by their true names], kemudian lihatlah apakah engkau punya kemampuan untuk melepaskan kerbau-kerbau itu! Semakin banyak engkau melepaskannya maka engkau semakin bahagia. Jadi melepaskan kerbau adalah salah satu seni berlatih!

Gagasan tentang kebahagiaan merupakan kerbau tangguh, perlu pengertian mendalam dan keberanian untuk melepaskannya.

Melepas adalah kebahagiaan, kita tidak bahagia karena tidak bisa melepas, kita selalu mencari-cari kebahagiaan dengan cara memperoleh kekayaan dan kenikmatan panca indra, kemudian kita genggam erat-erat seluruh kekayaan dan kenikmatan itu, kita tidak sadar bahwa benih kebahagiaan sudah ada dalam diri kita, tinggal kita siram dengan air agar tumbuh menjadi bunga kebahagiaan.

Zaman sekarang banyak diantara mereka sangat hedonis, mereka mencari cara pelarian melalui menonton televisi atau bioskop, internet, main game, makan berlebihan, minum wine, narkoba, beli ini dan itu, baca novel, dan sebagainya.

Creative Commons LicenseArtikel ini boleh dikutip sebagian atau seluruhnya dengan tetap mencantumkan nama penulis dan url, tidak dimodifikasi dan non komersial. Karya ini dilindungi oleh lisensi Creative Commons License, kecuali yang tidak disebutkan demikian.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>