Kupu-kupu Terbang Melintasi Ladang Sesawi

Ladang Sesawi

Sepuluh tahun sudah taman hijau nan indah itu menemani kami.

Dua puluh tahun sudah sang mentari tak pernah absen menyinari atap jerami kami.

Ibunda tercinta keluar dari rumah memanggilku pulang.

Aku bergegas ke halaman depan dekat dapur untuk mencuci kakiku lalu menghangatkan tanganku di tungku api, seraya menunggu jelang makan malam, sementara gorden malam hari mulai perlahan-lahan menutupi desa kami.

Aku akan selalu tertampak sebagai anak kecil seberapa pun usiaku.

Persis kemarin, aku melihat sekelopok kupu-kupu terbang di atas kebun kami.

Di atas sesawi hijau telah bermekaran bunga-bunga berwarna kuning

Mama dan kakakku, engkau selalu bersamaku.

Angin semilir sore adalah napasmu.

Aku tidak bermimpi hal-hal masa depan.

Aku hanya menyentuh sang angin dan mendengarkan dendangan lagu anggun.

Serasa baru kemarin engkau berkata kepadaku, “Jika suatu hari nanti semua telah hancur, maka carilah aku di dalam lubuk hatimu.”

Aku sudah kembali, ada seseorang sedang bernyanyi.

Tanganku menyentuh gerbang tua itu, lalu bertanya, “Apa yang bisa kubantu?”

Sang angin membalas, “Senyumlah, hidup itu sebuah keajaiban. Jadilah seperti bunga. Kebahagiaan bukan dibangun di atas batu atau bata.”

Aku mengerti. Kita tidak ingin saling melukai. Aku mencarimu siang dan malam. Pepohonan saling berdiri berdampingan dalam hujan badai malam itu.

Halilintar dan guntur meneguhkan mereka bahwa kebersamaan itu penting.

Saudaraku, jadilah bunga di atas tembok.

Jadilah bagian dari keajaiban ini.

Aku bersamamu, tetaplah di sini.

Kampung halaman kita selalu ada dalam hati.

Sebagaimana saat kita masih anak-anak, kita masih bisa bernyanyi bersama.

Pagi ini, Aku terbangun dan menyadari bahwa selama ini aku menjadikan kitab suci sebagai bantalku.

Aku mendengar suara denggungan lebah yang sangat rajin, mereka sedang siap-siap membangun ulang alam semesta ini.

Sahabatku, Pekerjaan pembangunan membutuhkan ribuan kehidupan, tapi sesungguhnya bangunan itu telah komplit sejak lama.

Sang roda terus berputar membawa kita bersamanya.

Genggamlah tanganku wahai kawanku, engkau akan melihat dengan jelas bahwa kita telah bersama ribuan kali dalam setiap kehidupan.

~Thich Nhat Hanh

Creative Commons LicenseArtikel ini boleh dikutip sebagian atau seluruhnya dengan tetap mencantumkan nama penulis dan url, tidak dimodifikasi dan non komersial. Karya ini dilindungi oleh lisensi Creative Commons License, kecuali yang tidak disebutkan demikian.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>