Saya Tidak Mau Jadi Biksu Karatan

Summer 2012 @UpperHamlet, Plum Village France

Saya harus jujur, bahwa menjadi rohaniawan buddhis bukanlah rencana, tapi juga bukan bencana! Sewaktu kecil saya terkesima dengan pesawat terbang, tak heran kalau saat kecil bercita-cita menjadi pilot. Terdengar familiar bukan?

Keinginan menjadi pilot kadang hanyalah hiasan dalam pelajaran bahasa Indonesia, yaitu mengarang yang bertajuk cita-citaku. Akhirnya saya sadar bahwa keinginan menjadi pilot seperti awan yang datang dan pergi, bukan itu yang saya cari.

Masa remaja tampaknya menjadi masa emas bagi banyak orang. Ada sebuah dorongan dari dalam diri untuk mengetahui segala sesuatu, bak orang kehausan. Menjadi manusia yang serba tahu dan serba bisa menjadi cita-cita baru saya.

Satu hal yang saya tidak mengerti adalah mengapa manusia harus mati! Kedua orang tua saya meninggal ketika saya masih balita. Banyak orang menyebut itu sebuah malapetaka, sebuah kutukan tragis. Saya justru ingin merubah stigma itu menjadi kekuatan baru, tak mau mengalah pada opini mereka. Tak ada waktu untuk bermanja-manja ria.

Kebiasaan Mandiri
Zaman now, ada orang tua yang abai terhadap anaknya, ada juga orang tua yang sibuk mengawasi anaknya agar mau belajar dan mengerjakan PR. Kadang orang tua bak polisi main kucing-kucingan dengan anaknya. Anak yang harus ujian tapi orang tua yang rempong. Saya termasuk anak proaktif, tidak perlu disuruh-suruh untuk belajar dan mengerjakan PR, syarat saya sederhana, radio harus ON, belajar sambil bersenandung lagu-lagu kesukaan, nikmat rasanya!

Saya termasuk penggemar buku, majalah, dan koran. Semua jenis bacaan yang menarik selalu saya lahap, terutama buku spiritual. Saya selalu berterima kasih kepada hobi saya sejak kecil, membaca! Bayangkan saja kupu-kupu terbang melintasi padang rumput, wonderful! Saya yakin bahwa mereka yang berhenti membaca tak beda dengan orang hidup yang seolah-olah sudah mati.

Bayangkan saja kupu-kupu terbang melintasi padang rumput, wonderful!

Mau ke Mana?
Suatu sore, saya dan kakak sulung nongkrong di atas pagar beton di depan rumah. Kakak adik sedang menikmati pemadangan sore. Tiba-tiba kakak bertanya, “Nanti lulus SMA mau kuliah apa?”. Saya gugup dan tak siap menjawab. Alam bawah sadar saya secara spontan menyebut, “Jadi dokter saja”. Saya tahu bukan itu yang saya mau, karena dokter butuh perjuangan besar.

Beranjak kelas 2 SMA, saya menemukan ketertarikan saya pada bahasa. Nilai pelajaran bahasa Indonesia saya selalu bagus, jadi sering terbesit untuk masuk jurusan bahasa. Dahulu ada jurusan IPA, IPS, dan bahasa, entah sekarang apakah masih demikian? Wali kelas saya berhasil membujuk saya masuk IPA karena nilai mata pelajaran sains saya juga sangat bagus. Akhirnya saya nurut dan cemplung ke dalam dunia sains. Saya tidak pernah menyesalinya.

Sebentar lagi lulus SMA, saya masih belum menentukan pilihan mau kuliah jurusan apa. Ada seorang teman selalu mendenggungkan nama besar ITB. Saya akhirnya menjadi semangat untuk masuk di Institut bergengsi itu, hati mengebu-gebu ingin kuliah di institut yang berlogo ganesha itu. Tapi apa daya, 3 kali kesempatan UMPTN tak pernah jebol, saya harus puas dengan masuk Unpad dan paralel kuliah di IKIP Bandung (sekarang UPI).

Saya berakhir sebagai sarjana sains, berjibaku dengan kode-kode ajaib pemograman di dunia teknologi, tak sengaja masuk dunia pendidikan, dan juga dunia spiritual. Mimpi pilot sudah tiada lagi, spontanitas untuk menjadi dokter juga sudah hilang tak berbekas.

Pilihan saya akhirnya jatuh pada dunia spiritual, menjadi monastik. Saya yakin kapasitas saya bisa melebihi sekedar kerja kemudian menikah dan berkeluarga. Tampaknya boring siklus demikian, saya ingin mencari sesuatu yang lain, ada potensi lain yang bisa dikembangkan menjadi sedalam samudra dan seluas angkasa.

Saya yakin kapasitas saya bisa melebihi sekedar kerja kemudian menikah dan berkeluarga

Membangun Budaya Baru
Rute hidup saya berputar arah ketika di India. Saya merasakan penderitaan terdalam yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Saya tak akan melupakan itu, ini juga menjadi salah satu bahan bakar saya terjun full time di dunia spiritual. Penderitaan itu tak berujung, makhluk juga tak terhitung jumlahnya, butuh seluruh jiwa dan raga untuk menyeberangkan mereka.

Perubahan dunia tak perlu kita tangisi, namun banyak orang yang enggan move on. Saya punya keyakinan bahwa perlu membangun budaya baru agar bisa berselancar di atas ombak besar, agar kita tidak terhanyut oleh budaya konsumerisme, hedonisme, kecanduan gawai, kehilangan jati diri!

Kegagalan move on yang membuat Dharma gagal ditransmisikan ke generasa baru. Manusia zaman modern perlu cara modern juga, tak bisa pakai pendekatan yang sudah usang lagi. Manusia sudah mencuci dengan mesin cuci, sementara ada orang yang masih belum bisa move on, dia memaksa untuk tetap mencuci pakai sabun batangan dan papan cuci, Alas, kok berpikir mundur?

Penderitaan itu tak berujung, makhluk juga tak terhitung jumlahnya, butuh seluruh jiwa dan raga untuk menyeberangkan mereka.

Karir Buddha
Ada yang berpikir bahwa menjadi monastik adalah “kegagalan” hidup, inilah mereka yang gagal paham, Buddha telah sukses mencerahkan banyak orang, dan para monastik masih melanjutkan karir Buddha hingga saat ini, inilah kesuksesan terbesar yang bisa dipersembahkan kepada manusia di muka bumi ini.

Anak muda yang mau meneruskan karir Buddha, ayo bergabung dalam monastik! Anda tetap menjadi dirimu, menjadi monastik era baru yang dinamis, bukan tiba-tiba harus menjadi “tua”, tidak boleh main bola basket lagi, bukan berarti harus jalan pelan-pelan seperti orang sakit, apalagi bicara dengan gaya orang tua.

Semua itu boleh dilakukan sesuai kebutuhan dan norma kesesuaian. Bukan berarti membuka keran sampai lost, bukan juga menutup rapat hingga airnya tidak mengocor sama sekali. Saya mau tetap muda dalam spirit. Saya tetap ingin sehat fisik dan mental, bukan menjadikan badan ini menjadi sarang penyakit!

Ada yang berpikir bahwa menjadi monastik adalah “kegagalan” hidup, inilah mereka yang gagal paham, Buddha telah sukses mencerahkan banyak orang.

Homo Conscious
Zaman dahulu Buddha mengajar langsung, zaman ini masih ada yang tetap menggunakan cara yang serupa. Ada juga yang mengajar menggunakan alat-alat bantu seperti proyektor, software presentasi, ada audio maupun video. Inilah cara mentransmisikan Dharma kontemporer kepada anak-anak zaman kekinian ini.

Sebagai cucu cicit murid dari Buddha, kita perlu melanjutkan karir Buddha yang belum selesai ini. Jangan mau menjadi monastik hanya untuk menumpang hidup alias menjadi passenger saja, TAPI monastik justru perlu berani menjadi driver! Membawa kendaraan ini menuju pencerahan.

Saya menjadi monastik bukan sekedar berleha-leha. Kita sudah punya homo erectus, kemudian menjadi homo sapiens. Kita butuh homo yang baru, yaitu homo conscious, homo yang eling dan terus menerus membangun keheningan internal lewat semadi, oleh karena itulah saya tidak mau jadi biksu karatan!

Creative Commons LicenseArtikel ini boleh dikutip sebagian atau seluruhnya dengan tetap mencantumkan nama penulis dan url, tidak dimodifikasi dan non komersial. Karya ini dilindungi oleh lisensi Creative Commons License, kecuali yang tidak disebutkan demikian.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>