Seribu Langkah

Seribu langkah @Amitayus

Bayi baru lahir, tentu saja belum bisa berjalan. Jika bisa berjalan, itu namanya bayi ajaib; atau hoax. Belum pernah tuh saya ketemukan, kecuali catatan kelahiran Siddharta, itupun saya tidak begitu yakin kebenarannya. Catatan sejarah yang bisa saja dikurang-tambahkan, diberi bumbu merica, cengek (Bird’s eye chili), sambel, dan kawan-kawannya.

Oyah, jika Anda tetap mau percaya, boleh kok, jika itu bermanfaat buat Anda. Urusan percaya atau tidak percaya, itu sangatlah tergantung pribadi masing-masing. Prinsip penting sih jangan memaksa orang lain untuk percaya, apalagi memaksa orang lain tidak percaya.

Saya pernah bilang bahwa saya kurang yakin dengan kisah bayi Siddharta, saya langsung kena “protes”! Dia bilang, “Bhante kok bikin pernyataan kontroversial”. Bagi saya itu bukanlah kontroversial, kisah kelahiran bodhisatwa itu sangatlah indah dan menginspirasi. Apalagi berjalan dan tumbuh teratai. Bagi saya, itu adalah catatan historis.

Saya pikir, urusan percaya atau tidak percaya adalah ranah pribadi. Silakan saja, lagipula agama Buddha ada Ehipassiko (can come and see), tak pernah Buddha bilang harus percaya begitu saja. Walaupun saya kurang yakin dengan catatan historis itu, namun tidak mengurangi keyakinan saya terahadap ajaran Buddha.

Saya memilih untuk terinspirasi oleh kisah-kisah seperti itu, lalu saya juga memilih untuk tidak percaya sepenuhnya, membuka diri terhadap kemungkinan lain. Saya memilih untuk memisahkan antara catatan historis dan catatan Dharma. Contoh nyata, kisah kelahiran Siddharta adalah catatan historis. Segala sesuatu di dunia ini tidak ada yang kekal abadi (anicca, 無常) adalah catatan Dharma.

Tertatih-tatih

Berbicara urusan berjalan, menarik bagi seorang ibu melihat anaknya mulai merangkak dan berjalan. Awalnya sang anak tak berdaya, sekarang sudah mulai bisa membalikkan badannya. Tak lama kemudian sudah bisa merangkak, lalu mulai bisa berdiri, lanjut mencoba-coba berjalan tertatih-tatih sambil terjatuh-jatuh, kadang kejeduk kepalanya sampai benjol.

Ketika seorang anak kecil mulai belajar berjalan, kelihatannya dia ingin berjalan secepat-cepatnya, barangkali dia takut jatuh? Kalaupun jatuh dan kejeduk berkali-kali, bahkan benjol berkali-kali, sang anak tampaknya pantang menyerah, terus saja mencoba dan mencoba. Itulah semangat yang dimiliki semua orang.

Lantas, kok banyak orang kehilangan semangat itu yah? Cukup banyak orang yang baru kena sedikit masalah langsung down. Kita butuh program untuk membantu mereka menemukan kembali nyali untuk mencoba dan pantang menyerah! Tentu saja mencoba dengan realistis, do your best not to become the best.

Ingin kebut

Kebiasaan berjalan cepat masih kental dalam diri saya. Setiap kali berjalan, saya selalu ingin berjalan secepat-cepatnya, ingin kebut biar segera tiba di tujuan. Mirip dengan bayi yang baru belajar berjalan tadi, ternyata bayi itu masih ada dalam diri saya.

Setibanya di titik tujuan, saya kembali lagi ingin kebut ke tempat lain, tidak pernah menikmati berjalan. Demikianlah kaki saya memerintahkan otak, atau otak saya memerintahkan kaki? Atau saling memerintahkan? Yang jelas hobinya kebut-kebutan terus (s-nya 10).

Semenjak mempraktikkan meditasi jalan, saya bersahabat dengan habit kebut-kebutan itu. Saya sering mengulang kalimat ini, “Hey slow down, enjoy the walk” sambil tersenyum mengayunkan kaki dengan penuh perhatian. Itulah mantra meditasi jalan saya. Itulah yang membantu saya hadir seutuhnya di sini dan saat ini, menikmati setiap langkah.

Suatu ketika, saya terbang dari New Delhi ke Medan. Pesawatnya transit di Kuala Lumpur (KL). Setibanya di KL, ternyata pesawatnya delay. Saya sudah berada di ruang tunggu, namun karena tempat duduknya sudah cukup penuh, jadi saya duduk di kursi pinggiran.

Ruang Tunggu L5 @KLIA

Merem sebentar

Kelopak mata terasa sangat berat. Jadi saya memutuskan untuk merem sejenak. Apa yang terjadi? Saya seperti komputer yang shut down! Tak lama kemudian, saya tersentak bangun, teringat harus boarding. Melihat sekeliling kok sepi. Kaki saya seperti kena setrum langsung bergegas lari ke dalam, gate sudah dikunci, koper saya juga sudah di-unload. Oh, malangnya saya terjebak dalam lumpur!

Saya disarankan untuk segera ke bagian transfer desk. Saya bergegas lari ke sana, jaraknya lumayan jauh. Kaki saya seolah-olah kehilangan akalnya, kaki saya seperti melayang tidak menginjak lantai. Satu-satunya keinginan saya adalah segera tiba, bila perlu satu langkah menjadi seribu langkah. Saya seperti bayi yang baru belajar berjalan tadi, kebut bak tokoh superhero The Flash.

Setengah perjalanan, entah bagaimana mantra meditasi jalan muncul. “Hey slow down, enjoy the walk”. Tiba-tiba kaki saya menuruti kata hati, mantra itu manjur! Langkah saya mulai melambat dan sedikit lebih relaks, bahkan tersenyum kecil, walaupun barusan ketinggalan pesawat.

Merem paling mahal

Kisah akhirnya, saya harus keluar, cap passpor di bagian imigrasi, ambil bagasi di lost and found, kemudian beli tiket baru lagi. Bagian konter check in bilang, bahwa pesawat transit tidak ada fasilitas untuk dipindahkan ke pesawat berikutnya. Jadi, saya beli tiket baru lagi untuk ke Medan.

Seribu langkah, bahkan sejuta langkah juga tidak bisa menyelesaikan masalah, lalu kenapa harus terburu-buru? Maka itu saya menikmati setiap langkah, relaks, senyum, dan hadir sepenuhnya dan seutuhnya di sini dan saat ini. Kawan saya bilang, “Suhu, itu merem paling mahal”. Lain kali kudu pasang alarm, biar tidak bablas lagi kalau mau merem.

Creative Commons LicenseArtikel ini boleh dikutip sebagian atau seluruhnya dengan tetap mencantumkan nama penulis dan url, tidak dimodifikasi dan non komersial. Karya ini dilindungi oleh lisensi Creative Commons License, kecuali yang tidak disebutkan demikian.

5 comments on “Seribu Langkah

  1. Grant Gloria Jan 30, 2020 18:35

    Kalau langkah seribu gimana, Bhante? Boleh nggak?

    • nyanabhadra Jan 30, 2020 19:27

      Bayangkan saja setiap langkah adalah langkah seribu……
      Boleh ga? Boleh saja…….:D

    • nyanabhadra Feb 6, 2020 22:33

      Masih berlanjut, sedikit demi sedikit yah.
      Seharusnya bisa beres sebentar lagi.

      smiles,

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.