Air Mata Penyembuhan di Bulan Kartika

sepi-ing-pamrih
Anda pernah mendengar istilah Kathina? Kalangan buddhis barangkali sudah lumrah dengan istilah ini. Kathina secara harafiah berarti “solid”, zaman dahulu ketika para umat ingin mempersembahkan kain kathina (yang nantinya akan dijadikan jubah untuk monastik), persiapan awalnya adalah dengan membentangkan kain tersebut ke sebuah bingkai solid agar dapat dirapikan. Inilah asal usul nama Kathina.

Menurut kalender Buddhis, Kathina jatuh pada bulan “Kartika”. Jika kita konversi ke kalendar gregorian maka bulan Kartika berada di antara bulan Oktober-November. Sedangkan penanggalan lunar pada umumnya jatuh pada bulan Oktober untuk perayaan Kathina.

Apakah Anda pernah mengikuti perayaan Kathina? Anda juga sudah melihat berbagai bentuk perayaan Kathina bukan? Semoga tidak mendatangkan kebingungan melihat 1001 wajah bentuk perayaan Kathina. Perlu diketahui bahwa Kathina memiliki hubungan erat dengan Wassa (Pali: Vassa, Sanskerta: Varsa). Satu tahun ada 12 bulan, selama 9 bulan pada umumnya monastik buddhis zaman dahulu selalu berkelana dari satu tempat ke tempat lain, kemudian 3 bulan dipergunakan untuk latihan intensif di satu tempat. Latihan intensif 3 bulan ini yang disebut Wassa.

Mengapa Wassa?
Wassa merupakan tugas wajib bagi monastik buddhis yaitu menetap atau menyepi di satu tempat untuk berlatih lebih intensif. Wassa dipilih pada bulan musim penghujan, karena ada praktisi awam yang menyarankan bahwa pada musim penghujan di India, banyak tumbuh-tumbuhan, makhluk-makhluk kecil yang mulai tumbuh dan berkembang. Jadi sebagai suatu bentuk cinta kasih dan welas asih, maka ada baiknya para monastik tidak berkelana sehingga tidak menginjak atau menyebabkan kematian tumbuhan maupun makhluk-makhluk kecil tersebut. Melalui persetujuan pesamuhan, Buddha kemudian menginstruksikan para muridnya untuk tidak berkelana dalam kurun waktu 3 bulan itu dan mendedikasikan diri untuk latihan lebih intensif.

Kathina merupakan festival sederhana, bermula dari sekelompok biksu yang berada di tempat lain ingin bergabung dengan Buddha untuk ber-wasa bersama. Namun dipertengahan perjalanan ternyata musim hujan telah tiba dan mereka terpaksa menetap di tempat lain. Setelah selesai Wassa mereka segera pergi bertemu dengan Buddha. Ketika ada umat yang mempersembahkan kain untuk Buddha, maka Buddha menginstruksikan untuk memberikan kain tersebut kepada sekelompok monastik yang terlambat itu, karena melihat jubah para monastik banyak yang sudah robek dan compang-camping. Inilah kisah tentang perayaan Kathina. Kini, 2600 tahun kemudian, perayaan yang sederhana sudah mengalami berbagai perubahan dan update, namun masih mengandung esensi yang sama persis.

Serba-serbi Wassa
Perayaan Kathina biasanya dilakukan di lingkungan wihara, pusat latihan meditasi, tempat yang mana para monastik melakukan Wassa. Disebutkan bahwa minimal harus ada 5 orang monastik yang sudah menerima penahbisan penuh untuk melakukan Wassa. Mereka wajib menunaikan wassa penuh selama 3 bulan, izin keluar dari tempat Wassa hanya diberikan kepada mereka yang memiliki tugas penting atau tugas dari Sanggha.

Komposisi lima orang tersebut dalam perayaan Kathina dibagi menjadi empat monastik untuk melakukan prosedur sanghakarman (prosedur penetapan suatu keputusan secara formal), dan satu monastik sebagai perwakilan menerima kain kathina. Walaupun disebutkan bahwa kain tersebut dipersembahkan oleh umat, para monastik kemudian bekerja sama untuk mempersiapkan kain tersebut dari proses pemotongan, menjahit, dan pewarnaan dalam kurun waktu sehari. Namun zaman sekarang sudah tidak demikian lagi, lagipula ini bukan aturan “mati” yang tidak boleh berubah. Jadi zaman sekarang sudah ada jubah yang telah siap dan hanya tinggal dipersembahkan.

Ada hal krusial yang perlu diperhatikan bersama, bahwa umat Buddha yang sangat antusias dalam mempersembahkan jubah mengakibatkan banyaknya jubah tertimbun di gudang wihara. Walaupun secara berkala ada kegiatan pabajja, namun tetap saja overflow jubah tidak bisa dibendung. Oleh karena itu penyelenggara atau panitia bersama para monastik perlu ikut memikirkan solusi yang sekiranya bisa diterima khalayak ramai sehingga tidak terjadi overflow jubah, atau dilakukan pemberian jubah simbolis saja.

Di penghujung Wassa ada sebuah tradisi indah yang disebut Pavarana, yaitu para monastik junior datang berkunjung ke monastik senior untuk menerima nasihat berkaitan dengan latihan mereka selama 3 bulan. Pada umumnya berkaitan dengan meditasi, pelaksanaan Winaya, sikap, ucapan, dan sebagainya. Dengan demikian monastik junior punya kesempatan untuk memperbaiki dirinya dan lebih maju lagi dalam latihan.

Masih banyak yang dapat ditulis tentang Kathina, dilihat dari prosedur dan beberapa aspeknya. Namun saya tidak akan masuk terlalu dalam tentang prosedurnya, nanti tulisan ini bisa berubah menjadi karya ilmiah, padahal hanya berbagi cerita saja.

air-mata-penyembuhanPerayaan Kathina di Kampus
Barusan saya mengikuti acara Kathina yang diselenggarakan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa Kerohanian Buddha Dhammasenna Trisakti. Tampaknya acara demikian kurang tepat disebut sebagai perayaan Kathina. Barangkali boleh disebut sebagai Sanggha Dana dalam rangka Kathina, yaitu Dana yang dipersembahkan kepada komunitas monastik biksu dan biksuni, bukan kepada personal seseorang saja. Contoh nyata, saya, sebagai perwakilan dari Wihara Ekayana, mewakili monastik Ekayana menerima dana tersebut yang kemudian diserahkan kepada petugas monastik Ekayana untuk nantinya digunakan sesuai dengan keputusan dan kebutuhan.

Sanggha Dana
Sanggha Dana yang diselenggarakan kampus-kampus merupakan wujud ikut serta dalam peningkatan spiritualitas banyak orang, wujud keterbukaan dengan mengundang sanggha monastik dari beberapa tradisi berbeda. Walaupun secara historis sanggha monastik buddhis memang satu adanya, namun dalam perjalanan panjangnya terjadi perbedaan pandangan sehingga terjadilah pengelompokkan-pengelompokkan. Tetapi usaha unifikasi tentu saja perlu diupayakan. Walaupun belum menjadi kenyataan, tampaknya atmosfir saling menghormati dan menghargai telah semakin meningkat.

Penyelenggaraan Sanggha Dana di kampus tentu saja perlu dikonsultasikan dengan beberapa monastik yang paham tentang hal-hal esensial, sehingga acara tersebut lebih nyaman bagi berbagai tradisi buddhis. Para mahasiswa hendaknya berani melangkah lebih jauh menuju semangat inklusif, tidak terjebak pada bentuk-bentuk luar yang sudah menjadi kebiasaan. Orang bilang old habits die hard! Kita perlu melihat dengan jelas, mana yang merupakan budaya maupun tradisi dari negara tertentu, dan mana yang merupakan esensi ajaran Buddha.

Salah satu contoh konkrit adalah tentang pindapatta dan mencuci kaki monastik. Barangkali boleh direnungkan kembali proses pelaksanannya sehingga tidak membuat suasana menjadi kikuk. Kenapa? Karena saya pakai kaos kaki dan alas kaki. Sebagian orang akan berkata, “Aneh juga yah pindapatta pakai alas kaki”, lalu ada lagi orang yang berkata “Tidak apa-apa, yang penting kan pindapattanya, bukan alas kakinya”, dan masih banyak lagi. Kalau kita merujuk kepada semangat aslinya, pindapatta merupakan wujud keterkaitan antara sanggha monastik dan praktisi umat biasa, sehingga urusan alas kaki tidak lagi menjadi topik debat siapa yang benar atau salah.

Makan Siang
Hal lain yang ingin saya tuliskan adalah sebuah pengalaman yang mengharukan ketika menghadiri Sanggha Dana di Trisakti barusan, yaitu dana makan siang untuk sanggha monastik. Makan siang kita sederhana sekali, saya menyukai yang sederhana daripada yang merepotkan. Kami diberikan nasi kotak yang berisi sayur kacang panjang dan beberapa potong “daging-dagingan”. Wajah panitia terlihat panik, tapi saya terima dengan senyum untuk sedikit meredakan kekhawatiran panitia. Sebelum saya menyantap makanan tersebut saya meminta panitia untuk memisahkan semua “daging-dagingan”. Bukan karena saya sombong tidak menerima pemberian apa adanya, namun perut saya tampaknya kurang bersahabat dengan “daging -dagingan”, apalagi yang terbuat dari gluten, kalau jamur atau sejenisnya masih lebih baik.

Ada satu Bhante Theravada dan beberapa “Suhu” Mahayana, kami duduk bersama dan berdialog bagaikan satu keluarga. Walaupun saya berjubah Mahayana, tapi hati saya mengandung filosofis Theravada dan Vajrayana. Ini yang disebut Anatta (segala sesuatu itu majemuk dan terbentuk dari elemen-elemen lain, tidak ada elemen yang bisa berdiri sendiri). Oleh karena itu kadang saya menyebut diri saya penganut Mahayana namun elemen pembentuknya berasal dari elemen non-Mahayana.

Kami sama-sama memanjatkan gatha persembahan dan pelimpahan jasa, serta rasa syukur atas makanan yang kami terima. Saya menikmati makan nasi dan kacang panjang, tidak lupa setiap sendok saya kunyah sebanyak 30 kali. Kami juga makan dengan hening, inilah yang membuat saya bahagia.

Berlinang Air Mata
Makan siang berlanjut dalam suasana hening. Tidak lama kemudian, ketika piring kami sudah hampir kosong, tiba-tiba panitia dan beberapa orang datang membawa banyak makanan. Ternyata ada umat yang sudah berjanji hendak berdana makanan kepada anggota sanggha monastik, namun terlambat karena tersesat jalan. Saya juga melihat ada seorang “cici” berambut panjang mendampingi panitia, perasaan bersalah terpancar dari wajahnya. Melihat matanya berkaca-kaca, saya bertanya pada panitia, “Apakah cici ini yang berdana makanan?” Panitia hanya menganguk-anguk saja. Melihat cici tersebut sedih, saya hanya membalas, “Tidak apa-apa ci, kita terima makanan ini”.

Setelah meletakkan makanan di atas meja, beberapa panitia pun menemani cici itu keluar ruangan. Saya merasa heran dan bertanya kepada panitia, “Yang berdana barusan mau kemana?” Panitia jawab, “Pulang Bhante.” Saya langsung menyambung, “Loh, kok pulang? Kan belum pelimpahan jasa. Ayo kamu cepat ke sana minta cicinya tunggu sebentar, para bhante akan mencicipi makanan yang sudah dibawakan ini, dan setelah itu kami akan membacakan syair pelimpahan jasa.” Salah satu panitia pun segera mencegat cici itu yang kebetulan masih menunggu lift. Setelah berbicara beberapa saat saya melihat cici itu menganguk-anguk, tampaknya dia bersedia menunggu kami selesai.

Kami mencicipi sedikit makanan yang sudah didanakan, lalu 15 menit kemudian ketika kami semua sudah selesai, saya memanggil cici itu untuk masuk lagi. Setelah dia sudah berada di hadapan para sanggha, saya minta dia berlutut dan beranjali. Saya pun dengan natural memulai:

“Pada hari ini, Anda telah mempersembahkan makanan kepada sanggha. Ini merupakan suatu kebajikan mulia. Kami para Bhante yang hadir di sini merasa bersyukur atas jerih payahnya. Semoga makanan ini memberikan kekuatan bagi kami semua untuk terus rajin belajar dan berlatih sehingga nanti kami bisa membantu lebih banyak orang lagi. Terima kasih kepada pendana yang sudah menyediakan waktu, tenaga, dan energi untuk memasak dan mempersiapkan makanan ini. Semoga Anda diberkahi kesehatan, kebahagiaan, kecantikan, sukacita, umur panjang, dan terhindar dari malapetaka.”

Kami sama-sama membacakan mantra dan pelimpahan jasa. Setelah selesai membacakan pelimpahan jasa, saya melirik ke cici itu. Pemandangan haru lahir, saya melihat wajahnya sudah berlinang air mata dan terisak-isak. Saya terkejut, walaupun diliputi keheranan saya tetap senyum dan berkata “Pelimpahan jasa sudah selesai Ci.” Namun dia masih belum mau bangkit, dan sambil terisak dia berkata “Bhante, terima kasih sudah memberikan saya kesempatan untuk berdana. Saya yang seharusnya mengucapkan terima kasih atas kesempatan ini.” Dia tetap berlutut sampai panitia membantu dia bangkit.

Saya segera sodorkan tisu kepada panitia agar diberikan kepada cici itu untuk mengusap air matanya. Saya mengerti itu adalah air mata kebahagiaan, air mata ketenangan, dan air mata penyembuhan. Saya merasa cici itu sangat tulus dalam memberi, dan semoga kesulitan-kesulitan dalam hatinya bisa menjadi lebih ringan setelah meneteskan air mata penyembuhan itu. Saya merasa sangat beruntung bisa merasakan ketulusannya dalam memberi, ini memberikan saya kekuatan baru untuk terus belajar dan berlatih, serta memberikan apa pun yang saya dapatkan kepada semua. Sadhu, sadhu, sadhu!

Creative Commons LicenseArtikel ini boleh dikutip sebagian atau seluruhnya dengan tetap mencantumkan nama penulis dan url, tidak dimodifikasi dan non komersial. Karya ini dilindungi oleh lisensi Creative Commons License, kecuali yang tidak disebutkan demikian.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>