Dari Moda Transportasi, Klakson, Tembok, dan Toilet

Duduk di belakang Auto Rickshaw @India

Pernah ke India? Bagi umat Buddha, sungguh patut untuk berkunjung ke India yang sejak lama memberikan maha inspirasi, bahkan kepada Siddharta Gotama. Kehidupan di India sangatlah menarik, berkunjung selama seminggu atau lebih bisa memberikan gambaran umum tentang keadaan di sana.

Saya pernah menetap di daerah utara India selama beberapa tahun. Pengalaman ini memberi kesempatan lebih banyak untuk mengobservasi satu per satu aspek kehidupan, karakter manusia, serta kebiasan-kebiasaan masyarakat India.

Moda Transportasi
Hal yang paling menarik adalah sistem transportasi di sana. Stasiun kereta api termasuk satu di antara moda transportasi yang kompleks juga bagus, walaupun ada hal-hal yang masih kurang di sana-sini, namun secara umum British meninggalkan sistem yang cukup rapi urusan ini.

Moda transportasi yang paling tradisional juga masih ada, seperti kereta kuda atau kereta kerbau. Becak juga masih berseliweran di berbagai daerah, bahkan ada yang masih ditarik oleh “abang” tukang becak, ada yang menggunakan sepeda, dan yang sedikit lebih modern adalah yang mereka sebut sebagai “Oto” atau “Auto Rickshaw”, kalau di Jakarta mirip dengan bajaj.

Bunyi Klakson
Berbicara kendaraan, saya langsung ingat klakson. Di kawasan negara Asia memang klakson ini menjadi alat penting bagi kendaraan bermotor. Klakson yang sederhana bisa dilihat dari kring sepeda. India memang termasuk negara paling banyak menggunakan klakson, kadang memang bikin pekak telinga. Mengendarai mobil di India tidak membunyikan klakson itu dianggap aneh.

Dunia Eropa sedikit berbeda, justru membunyikan klakson itu melanggar hukum. Lalu, apakah mobil di Eropa tidak ada klakson? Tentu saja ada, namun penggunaan klakson sangat dibatasi, hanya untuk urusan urgen seperti kecelakaan juga dalam kondisi bahaya, serta kondisi-kondisi yang dibutuhkan saja.

Kaca Spion
Hal penting lainnya dalam mengendarakan mobil adalah kaca spion. Sudah jelas spion itu ada di sebelah kiri dan kanan. Kaca spion sangat membantu melihat kiri dan kanan, dan seberapa jarak antara mobil kita dengan kendaraan yang lain. Jika tidak ada spion, Anda bisa ditilang oleh pak polisi.

Di India? Tentu saja tidak, karena ada mobil yang hanya memiliki spion di sebelah kanan saja, namun bukan berarti semua mobil di India hanya berspion sebelah. Pada umumnya mereka hanya membutuhkan kaca spion di sebelah sang supir persis. Jadi, jangan heran kalau melihat ada mobil yang tidak memiliki spion sebelah kiri, karena menurut sebagian orang bahwa itu tidak perlu, cukup melihat spion yang di tengah mobil saja.

Menurut pengamatan personal saya, sistem berkendaraan di India cukup semrawut, but they survived! Satu jalan bisa digunakan ramai-ramai, walaupun kadang aturan telah dibuat, namun acap kali tak selalu berhasil. Menumpak kendaraan umum juga demikian, perlu berlatih kesabaran tingkat tinggi, jika tidak, Anda akan kehabisan napas.

Tembok Toilet
Fenomena menarik lain di India adalah tembok berbau pesing. Tembok seperti ini bisa dengan mudah ditemukan di terminal bis. Jika ada tembok demikian, maka semua orang tahu itulah kesepakatan secara umum bahwa tembok itu adalah “toilet” bersama. Jadi Anda tidak perlu repot-repot mencari toilet.

Jika daerah lebih terpencil, maka lebih gampang lagi. Tinggal mencari pohon, lalu ke belakang pohon itu untuk pipis. Loh, emang ada yah belakang pohon? Bagian mana yang disebut belakang pohon? Ternyata semua sisi pohon adalah belakang pohon, ternyata semua sisi pohon adalah depan pohon. Jadi belakang adalah depan, dan depan adalah belakang. Kontroversial bukan? Serasa sedang menyelami makna Sutra Hati.

Saya pernah protes dengan seorang teman saya dari India. Saya tanya, “Mengapa di India ini susah sekali menemukan toilet?” Dia langsung sergah, “Loh India ini adalah toilet terbesar dunia, kamu bebas mau pee atau poop di mana saja”.

Bumi dan Langit
Setelah di India beberapa tahun, akhirnya juga terbiasa untuk pee dan poop di ruang terbuka. Memang ada kondisi-kondisi memaksa kita untuk mengikuti budaya di situ, dan ketika menemukan toilet juga bagus, jadi sudah bisa menyesuaikan diri apakah di toilet terbesar di dunia atau toilet kecil.

Pepatah yang menyebutkan, “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung” memang benar adanya, kemampuan adaptasi dibutuhkan oleh semua orang. Ketika ke India berupaya untuk mengadaptasi, lalu kembali ke Indonesia? Silakan adaptasi kembali.

Creative Commons LicenseArtikel ini boleh dikutip sebagian atau seluruhnya dengan tetap mencantumkan nama penulis dan url, tidak dimodifikasi dan non komersial. Karya ini dilindungi oleh lisensi Creative Commons License, kecuali yang tidak disebutkan demikian.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>