Napasku Mencairkan Kemarahan dan Kekesalan

Delegasi Plum Village @Shogyoji Temple ( 正行寺) – Fukuoka


Hari itu hari terakhir kami di Fukuoka, sebuah kota yang terletak di pesisir utara pulau Kyushu di Jepang yang berseberangan dengan Selat Korea dari Kota Busan di Korea Selatan.

Kami berempat (Br. Phap Huu, Saya, Sr. Lang Nghiem, dan Sr. Trai Nghiem), delegasi dari Plum Village mengadakan beberapa kegiatan mindfulness dan screening film “Walk With Me” di kota kecil itu. Acara selesai dengan sukses dan kami juga mendapatkan banyak pengalaman baru.

Sore itu, kami menuju bandara untuk terbang ke Tokyo. Perjalanan ke bandara tampak lenggang. Pada umumnya bandara selalu tampak ramai, ternyata bandara Fukuoka tidak demikian. Kami di drop oleh taksi di parkiran kemudian mengambil beberapa kereta dorong untuk bagasi.

Papan petunjuk di Jepang sangatlah jelas, jadi kami berjalan dari area parkiran menuju departure area. Sepanjang jalan kami asyik ngobrol dan tidak sengaja kereta dorongnya meluncur cepat dan hampir saja menabrak beberapa orang yang kebetulan lewat.

Kami refleks menarik kereta dorong itu dan berhasil menghindari insiden kecil. Sebelum kami sempat meminta maaf, malahan mereka duluan meminta maaf. Kami berakhir saling meminta maaf. Menurut pengamatan saya, sebagian besar orang Jepang yang saya ketemui sangatlah ramah dan sopan.

Delegasi Plum Village disambut oleh Kepala Biara Shogyoji – Fukuoka

Saya melihat ada beberapa area bandara yang sedang dalam renovasi. Ada beberapa area yang dipasang garis pembatas agar tidak ada orang melewatinya. Setiba di konter check in, ternyata petugasnya meminta kami menitipkan bagasi di sebelah sana, karena antrian terlalu panjang.

Satu sister tetap mengantri check in dan saya pergi menitipkan bagasi. Dalam hati berguman, “Seharusnya kan bagasi ini untuk check in, kok repot-repot dititipkan terlebih dahulu”. Ternyata nanti mereka akan memberikan tag untuk ditempelkan di koper kemudian dimasukkan ke bagian penanganan koper.

Ada beberapa koper yang tidak check in kami pisahkan, lalu saya menodorong satu kereta yang berisi bagai untuk check in. Setiba di konter penitipan, ternyata antriannya panjang juga. Salah satu ciri kerapian di Jepang adalah segala sesuatu mengantri dengan rapi. Saya berdiri sambil menunggu giliran.

Di pinggir tempat antrian ada tempat yang tampaknya enak buat rebahan, karena merasa sangat lelah saya pikir enak juga bisa merem sebentar. Jadi saya rebahkan badan di situ.

………..

Tak lama kemudian saya membuka mata, saya pikir mungkin sudah giliran saya untuk menitipkan koper, tapi anehnya bandara sepi. Saya kira itu adalah mimpi, jadi saya kucek-kucek mata, wah bandara benar-benar sepi.

Saya sedikit panik, lalu bergegas bangun dan melihat sekitar. Saya melihat brothers dan sisters yang sedang duduk santai di seberang sana. Saya berjalan ke sana lalu bertanya

Loh kalian kok masih santai-santai di sini, memang sudah selesai check in?

Mereka jawab, “Sudah”.

Kalian kok tidak membangunkan saya?

Kami lihat kamu lelah, jadi kami biarkan saja”.

Lalu pesawat kita bagaimana?“.

Sudah terbang” mereka jawab dengan enteng sambil tersenyum.

Hati saya semakin cemas karena saya tertidur hampir seharian di Bandara Fukuoka. Sekarang saya masih di Fukuoka yang seharusnya sudah di Tokyo untuk check in terbang kembali ke Indonesia untuk acara retret berikutnya.

Saya merasa tidak berdaya, ingin marah dan kesal, sementara sudah sadar tiada gunanya. Menyadari tidak bisa berbuat banyak, saya hanya menarik napas panjang berkali-kali dan sambil berlatih yoga mulut alias senyum, izinkan badan untuk relaks, biarkan kemarahan dan kekesalan mencair dan menjadi sejuk oleh napas berkesadaran.

……….

Tiba-tiba, saya tersentak bangun, di kamar saya. Ternyata saya sudah di Indonesia. Loh kejadian di Fukuoka barusan? Ternyata itu hanyalah mimpi! Saya bergegas ke kamar kecil karena merasa agak kebelet buang air kecil.

Setelah selesai dari kamar kecil saya melongok ke jam dinding, ternyata masih pukul 03:56 subuh. Saya kembali ke kamar dan melanjutkan tidur.

Catatan:
Saya bersama delegasi Plum Village memang ke Fukuoka pada akhir April 2018, tapi kami tidak ketinggalan pesawat (smile)

Creative Commons LicenseArtikel ini boleh dikutip sebagian atau seluruhnya dengan tetap mencantumkan nama penulis dan url, tidak dimodifikasi dan non komersial. Karya ini dilindungi oleh lisensi Creative Commons License, kecuali yang tidak disebutkan demikian.

2 comments on “Napasku Mencairkan Kemarahan dan Kekesalan

  1. Karolina May 15, 2018 20:42

    Namo Buddhaya Bhante,

    Apakah dengan berlatih hidup sadar sehari-hari, kita jadi terbiasa, bahkan di dalam tidurpun kita tetap ‘sadar’?

    • nyanabhadra May 15, 2018 22:56

      Dear Karolina,

      Saya tidak tahu persis. Ada kemungkinan demikian. Ada beberapa temuan seperti teknik relaksasi total (meditasi baring) dari tradisi Plum Village juga bisa demikian. Ketika seseorang masuk tidur melalui teknik body scanning (pemindaian tubuh) maka energi kesadaran yang muncul bisa bertahan sekian lama (saya tidak tahu persis berapa lama).
      Saya pernah baca dalam tradisi Mahayana Tibet juga menyebutkan demikian, kekuatan pikiran saat tidur, asal pikiran terlatih maka dalam mimpi juga bisa meditasi dan mencapai tingkat2 spiritual.
      Jadi, menurut saya tidak heran kalau mimpi juga bisa menjadi sebuah meditasi, menjadi sebuah latihan.
      Zaman dahulu sebelum meditasi, pikiran dalam mimpi itu sangat liar. Sekarang walaupun cukup sering liar, namun juga cukup sering jinak dan bisa diarahkan, contoh menjadi meditasi jalan dalam mimpi, meditasi duduk dalam mimpi, membangkitkan metta saat mimpi.
      Saya biasanya sebelum tidur menggunakan teknik relaksasi total, atau kadang membaca mantra agar pikiran stabil dan tidak banyak bergejolak sebelum tidur.

      Ini beberapa pengalaman saya. Semoga bermanfaat.
      B. Nyanabhadra

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.