Waisak Setiap Hari

waisak-setiap-hari

Borobodur, Bulan Sabit, dan Bintang

 

The path of return continues the journey ~ Thich Nhat Hanh

Masih segar dalam pikiran kita tentang kisah kelahiran bodhisattwa ke dunia ini. Ratu Mahamaya dinyatakan hamil setelah mimpi seekor gajah putih yang masuk ke perutnya bagian kiri, kemudian penafsiran kehamilan dikaitkan dengan mimpi tersebut. Demikianlah cerita dibungkus dengan indah sehingga ada hal-hal yang dianggap tabu justru dikubur dalam-dalam, hal demikian juga tidak pernah tercatat dalam kisah klasik kehidupan Siddharta.

Zaman dahulu kala masih sangat kental dengan tradisi ramalan, tidak heran kalau Raja Suddhodana meminta para peramal ulung untuk meneropong makna mimpi tersebut, alhasil semua peramal se-iya se-kata bahwa sang ratu telah hamil. Zaman sekarang para peramal sudah digantikan oleh ‘sihir’ medis yang bisa meneropong semua itu. Kabar bahagia itu pun tersebar dengan cepat, suasana kebahagiaan, sukacita meluap di seluruh sudut istana Kerajaan Sakya.

Tradisi melahirkan di rumah orang tua tampaknya menjadi hal yang penting, inilah alasan Ratu Mahamaya bersama sekelompok dayang-dayang menempuh perjalanan kembali ke orangtuanya. Di pertengahan perjalanan pulang, tampaknya sang bayi sudah tidak bisa menunggu ketibaan di rumah kakek dan neneknya, bayi itu lahir di taman yang indah yang kita kenal dengan Taman Lumbini. Beberapa sutra mencatat bahwa ratu tidak mengalami kesulitan atau kepedihan ketika melahirkan sang bayi. Bayangkan melahirkan bayi zaman dahulu dan zaman sekarang, perbedaan sudah sangat jauh, barangkali teknik Caesar (baca: sesar) belum ada pada zaman itu.

Ratu tidak meneruskan perjalanan kembali ke rumah orangtuanya, namun mereka kembali ke Kerajaan Sakya. Raja sangat gembira, kemudian mengadakan pesta untuk menyambut kedatangan putranya yang pertama. Raja mengundang para ahli peramal untuk meneropong masa depan putranya, namun ada beberapa peramal menyimpulkan bahwa bayi tersebut akan menjadi raja dunia, bukan raja pemangku takhta kerajaan, namun Raja Suddhodana bersikeras bahwa anaknya-lah yang akan menggantikan dirinya untuk memangku takhta kerajaan. Lihatlah bahwa zaman India kuno juga sangat sarat dengan dunia ramal-meramal. Akhir dari pesta itu sang bayi memperoleh nama Siddharta yang berarti segala cita-cita tercapai.

Rasa takut raja semakin hari semakin besar, apalagi melihat kenyataan bahwa putranya tidak terlalu tertarik pada dunia politik dan sistem tatanan kerajaan, malahan banyak menaruh perhatian pada dimensi spiritual dan pencarian makna hidup. Raja tidak kehabisan akal, rencana pernikahan pun sudah disusun dengan matang. Siddharta akhirnya menikah dengan Putri Yasodhara. Mereka berdua tidak hanya menikmati kebersamaan dalam romantika namun juga menaruh perhatian besar pada nasib mereka yang kurang beruntung, mereka memiliki kesamaan dalam hal kemanusiaan dan spiritualitas.

Demi membuat pasutri baru ini semakin betah di istana, semua jenis kenikmatan dan kemewahan istana disuguhkan kepada sang pangeran, tampaknya gemerlap istana tidak membuat mereka terlena, justru kenikmatan dan kemewahan istana membantu mereka menemukan niat hati terdalam dalam dirinya, yaitu mencari arti sesungguhnya dari kehidupan ini.

Selang sekian lama, Putri Yasodhara hamil, suasana istana tidak terlalu damai, Siddharta dihantui rasa cemas dan khawatir, atmosfir demikian hadir di semua sudut istana membuat proses kelahiran sang bayi mengalami kesulitan dan kesakitan luar biasa. Akhirnya ibu dan anak selamat, lahirlah sang jabang bayi yang diberi nama Rahula yang berarti belenggu kehidupan.

Semua kondisi baik sudah hadir di depan mata, kemewahan dan kenikmatan istana tiada berujung, lantas kenapa Siddharta pergi berkelana sebagai seorang petapa?

Merasakan kenikmatan dan kemewahan istana kemudian melihat kontras ironis kemiskinan, keperihan akibat sakit, kematian di luar tembok istana, derita dan rasa cemas ketika Yasodhara hendak melahirkan, semua ini menyadarkan Siddharta akan petanda terakhir yaitu hidup mengembara dalam petapaan.

Pergi Untuk Kembali
Siddharta pergi demi istri dan anak, Siddharta pergi demi keluarga istana, Siddharta pergi demi seluruh lapisan masyarakat India, dan Siddharta pergi demi semua makhluk. Kehidupan sederhana dalam pengembaraan memperkokoh penyadaran-penyadaran yang sudah ada dalam dirinya, mematangkan benih-benih cinta kasih, welas asih, dan pengertian.

Kepergian Siddharta tidak bisa dilihat dari satu sisi saja, walaupun banyak kaum ekstrimis dengan dalil bahwa Siddharta tidak bertanggung jawab atas ayahandanya, istri dan anaknya. Ketika melihat lebih dalam di balik kepergian itu, ternyata beliau menyimpan potensi lebih besar untuk memikul tangung jawab maha besar, dan tanggung jawab itu diteruskan oleh murid-muridnya hingga abad sekarang ini.

Selama sekian tahun Siddharta melanglangbuana, yang ia temukan adalah dirinya sendiri, memahami dunia internal dirinya yang terdiri dari batin dan badan jasmani sehingga ia mengerti dunia eksternal yaitu lingkungan sekitarnya.

Kita sungguh beruntung karena Siddharta berhasil dan dijuluki sebagai mata dunia, ia yang telah bangkit, ia yang telah terjaga, ia yang telah sadar sepenuhnya. Perjalanan selanjutnya adalah mewartakan kepada semua orang tentang kearifan yang bisa menyeberangkan semua makhluk ke pantai seberang melalui semadi.

Buddha kembali bertemu dengan teman seperjuangannya, Buddha kembali ke Istana untuk berbagi hasil penemuannya, Buddha kembali untuk melanjutkan perjalanan ke sepuluh penjuru, the path of return continues the journey!

Selama puluhan tahun Buddha berkelana dari satu tempat ke tempat lain untuk mengajarkan bagaimana mengontemplasikan kehidupan, bersentuhan dengan berbagai lapisan masyarakat, tidak membeda-bedakan warna kulit dan jenis kasta, dari petinggi kerajaan, saudagar kaya, tukang bangunan, tukang cukur hingga kaum untouchable (kaum tak tersentuh), semua telah meminum nektar Dharma dan tercerahkan, semua lapisan diterima dalam pesamuhan sanggha monastik tanpa adanya diskriminasi.

Putar Balik
Siddharta meninggalkan semua kenikmatan dan kemewahan istana, meninggalkan harta kekayaan yang berlimpah ruah. Buddha mengajarkan untuk meninggalkan kebencian, rasa takut, curiga, ucapan kasar dan tidak sesuai kebenaran, meninggalkan fanatisme, fitnah, menyebarkan berita palsu, namun apa yang terjadi saat ini? Justru sebagian murid Buddha justru mengakumulasi kebencian, rasa takut, curiga, ucapan tidak sesuai kebenaran. Kita tidak mengikuti jejak teladan Buddha, kita tidak layak disebut murid Buddha.

Kita memuja Buddha yang terbuat dari emas atau perunggu, bahkan meminta-minta agar diberkahi dengan harta kekayaan, sementara Buddha meninggalkan semua itu. Kita memuja Buddha karena cinta kasih universal, sementara kebanyakan dari kita saat ini menebarkan kebencian, fanatisme, bahkan ikut dalam sirkulasi berita palsu yang menyesatkan. Kita memuja Buddha karena selalu hidup damai, namun kebanyakan dari kita tenggelam dalam kegalauan dan membuat diri sendiri semakin hektik tidak karuan.

Kita seringkali berlari mengejar ini dan itu dalam kehidupan, tidak pernah merasa puas, merasa dirugikan ketika meluangkan waktu untuk berhenti sejenak, kita terlalu sibuk dan merasa tidak berdaya walau hanya sekedar mengistirahatkan pikiran dan badan jasmani, untuk melihat apa yang sedang terjadi dalam dunia internal batin dan badan jasmani. Kita tidak punya waktu untuk berhenti melihat dunia eksternal yaitu lingkungan sekitar dan alam, tidak responsif terhadapa peristiwa-peristiwa di sekitar kita.

Praktik devosi sangatlah membantu, namun belumlah cukup jika tidak dibarengi dengan melatih batin lewat praktik meditasi. Kita selalu menunggu momentum waisak untuk kembali meneguhkan tekad berlatih meditasi. Seyogianya tekad demikian bisa kita bangkitkan setiap pagi sesaat membuka mata, sehingga setiap hari adalah hari waisak!

Buddha berpesan “Berupayalah mempelajari, mengerti, dan menerapkan Dharma sehingga Anda mengerti dunia internal dan eksternal yang nantinya bisa mengantarkan Anda ke gerbang kedamaian dan kebahagiaan sejati!”

Creative Commons LicenseArtikel ini boleh dikutip sebagian atau seluruhnya dengan tetap mencantumkan nama penulis dan url, tidak dimodifikasi dan non komersial. Karya ini dilindungi oleh lisensi Creative Commons License, kecuali yang tidak disebutkan demikian.

2 comments on “Waisak Setiap Hari

  1. Daisy Jun 12, 2015 20:11

    Bhante, praktik devosi itu apa dan seperti apa? Anumodana bhante.

    • nyanabhadra Jun 23, 2015 04:18

      Devosi diserap dari istilah devotion, praktik yang mengutamakan bakti. Contoh bersujud di depan altar Buddha, mempersembahkan dupa, bunga, dll. Mendaras mantra, sutra, paritta dan sejenisnya. Dharmayatra. Mungkin masih banyak lagi. Semua praktik bakti demikian sangatlah bagus, dipuji, dan perlu diteruskan ke generasi berikutnya, namun kita hendaknya jangan berhenti sampai di situ saja.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>