Menabur Benih Pikiran Kasih

Menabur Benih Pikiran Cinta : Resensi Ringkas

oOo

Sub judul dari buku ini adalah “Praktik melihat secara mendalam berdasarkan tradisi Buddhis Mahayana”. Pemahaman saya atas alasan penulis memilih istilah “Mahayana” di dalam judul itu, berhubungan buku tersebut menjelaskan inti dari sutra-sutra Mahayana seperti Sutra Vimalakirti (Kinh Duy Ma Cat), Sutra Intan (Kinh kim Cang), Sutra Teratai (kinh Phap Hoa) dan Sutra Avatamsaka (Kinh Hoa Nghiem). Saya yakin bahwa ide utama buku ini akan dengan mudah dimengerti dan diterima oleh semua tradisi-tradisi Buddhis.

Pertama-tama, Buku ini menguak beberapa sisi kehidupan pribadi Thich Nhat Hanh (TNH): Bagaimana asal usul beliau bergabung dengan sangha monastik, dan bagaimana beliau jatuh cinta kepada seorang biksuni, kejadian itu terjadi sekitar empat puluh tahun atau lima puluh tahun yang lalu ketika mereka masih belia. Saya benar-benar mengagumi cara Beliau menceritakan kisah pribadinya, kemudian bagaimana beliau mengatasi perasaan-perasaan dan luapan cinta tersebut. Hal yang paling penting adalah bagaimana seseorang bisa melihat secara mendalam ke lubuk hatinya agar sanggup melompat jauh melampaui luapan cinta itu sehingga bisa merubahnya menjadi sebuah tujuan mulia, tujuan yang masih kita kejar terus.

“…di mana aku? Di mana non aku? Siapa cinta pertama anda? Siapa cinta terakhir anda? Apa perbedaan antara cinta pertama dan cinta terakhir kita? Bagaimana sesuatu bisa berakhir?

“…air meluap atau menguap tergantung dari musim. Apakah bulat atau persegi tergantung dari wadahnya. Mengalir di musim semi, membeku di musim dingin, seberapa luasnya air tidak bisa diukur, sumbernya tidak bisa ditemukan. Di sebuah teluk jamrud, seekor raja naga bersembunyi di dalam air. Di sebuah kolam yang dingin, memantulkan sinar rembulan yang terang. Cabang pohon willow yang dipegang oleh para Bodhisatwa, cabang pohon willow tersebut memancarkan nektar belas kasih. Satu tetesan air cukup untuk mempurifikasi dan mentrasformasikan sepuluh penjuru dunia. Dapatkah kamu memahami air melalui bentuknya? Dapatkah kamu menelusuri air hingga ke sumbernya? Apakah kamu tahu di mana air akan berakhir? Air sama dengan cinta pertama anda. Cinta pertama anda tidak memiliki awal dan tidak akan memiliki akhir. Cinta pertama anda masih tetap hidup, dalam arus perjalanan hidupmu. Jangan percaya cinta pertama hanya ada dimasa lalu. Lihat secara mendalam sifat alami cinta pertama, dan anda akan melihat Buddha.”

Buku ini tidak hanya menyangkut cinta pribadi saja, namun juga berkaitan dengan berbagai sutra ternama, khususnya sutra-sutra Mahayana yang dibabarkan dengan baik setelah Buddha Gautama mahaparinirvana. TNH menjelaskan sutra-sutra tersebut dengan begitu indah, seperti penjelasan Sutra “Perumpamaan Ular” dalam Majhima Nikaya, Kitab Pali: Dharma bagaikan sebuah rakit yang dapat kita gunakan untuk menyeberangi sungai dan tiba di pantai seberang, berikutnya:

“…Selalu saja ada orang yang belajar sutra hanya untuk memuaskan rasa ingin tahu atau sekedar untuk memenangkan argumen, dan bukan dengan tujuan untuk pembebasan. Bermodalkan motivasi seperti ini, mereka tidak mengerti semangat sesungguhnya dari ajaran Buddha. Mereka mungkin akan terpeleset ke dalam kesulitan, berjibaku dengan kesulitan yang tampaknya tidak akan memberikan banyak manfaat, dan betul-betul menguras energi mereka.”

Buku ini menjelaskan pengembangan konsep-konsep Mahayana dari kitab yang muncul lebih awal (yang mana sekarang lebih luas tersedia dalam bahasa Pali), bagaimana sutra tersebut berkaitan dengan sutra Vimalakirti (kinh Duy Ma Cat) dan Sutra intan (Kinh Kim Cang), dan bagaimana Sutra Intan seharusnya dimengerti dalam konsep “kesalingtergantungan”:

“…melihat apa pun, kita bisa melihat sifat kesalingtergantungan. Sang “aku” tidak mungkin ada tanpa elemen-elemen “non aku”. Melihat secara mendalam pada segala sesuatu, kita melihat seluruh alam semesta. Sesuatu hal terbentuk dari banyak hal. Untuk menjaga diri sendiri, kita menjaga semua yang ada disekeliling kita. Kebahagiaan dan stabilitas mereka adalah kebahagiaan dan stabilitas kita. Jika kita bebas dari gagasan akan aku dan non aku, kita tidak akan takut terhadap kata aku dan non aku. Tetapi jika kita melihat aku sebagai musuh kita dan berpikir bahwa non aku sebagai penyelamat, kita terjebak. Kita mencoba untuk menyingkirkan suatu hal dan memeluk hal sebaliknya. Ketika kita menyadari bahwa menjaga aku adalah menjaga non aku, kita bebas dan kita tidak harus menyingkirkian keduanya.”

Bab 9 dari buku ini membahas tiga stempel dharma: ketidakkekalan, non aku, dan nirwana. Hal ini berbeda dari konsep Theravada yaitu: ketidakkekalan, non aku, dan dukkha (Penderitaan). Hal ini mungkin sebuah topik perdebatan antara cendekiawan buddhis yang berbeda tradisi. Bagi seorang praktisi buddhis seperti saya, saya lebih tertarik untuk melihat bagaimana buku ini menjelaskan tiga stempel itu.
Khususnya:

“…jika kamu menderita, itu bukan dikarenakan oleh hal yang tidak kekal, itu dikarenakan kamu percaya sesuatu adalah kekal. Ketika setangkai bunga layu, kamu tidak terlalu menderita, karena kamu mengerti bahwa bunga tidak kekal. Tetapi kamu tidak bisa menerima ketidakkekalan dari mereka yang anda cintai, dan anda menderita secara mendalam ketika pasangan anda meninggal dunia. Jika anda melihat secara mendalam terhadap ketidakkekalan, anda akan melakukan yang terbaik agar membuat pasangan berbahagia saat ini. Menyadari ketidakkekalan, anda menjadi positif, senang, dan bijaksana. Ketidakkekalan adalah berita baik. Tanpa ketidakkekalan, tidak ada yang mungkin terjadi. Dengan ketidakkekalan, setiap pintu terbuka untuk terjadinya perubahan. Daripada mengeluh, kita sebaiknya berkata, “hore tidak kekal!”. Ketidakkekalan merupakan sebuah instrumen untuk pembebasan kita.”

Bab 13 menghadirkan Sutra Avatamsaka (Kinh Hoa Ngiem). Penulis mengungkapkan konsep tubuh dharma (Dharmakaya, Phap Than) yang dimanifestasikan dalam kerajaan Avatamsaka, sebuah kerajaan kesadaran yang telah terjaga bangun.

“…Setiap kali saya menyentuh bunga, saya menyentuh matahari, walaupun demikian saya tetap saja tidak terbakar oleh matahari. Ketika saya menyentuh bunga, saya menyentuh awan tanpa harus terbang ke atas langit. Ketika saya menyentuh bunga, saya menyentuh kesadaran saya, dan kesadaran anda, dan planet bumi yang hebat ini pada saat bersamaan. Ini adalah kerajaan Avatamsaka. Keajaiban ini mungkin dikarenakan oleh pengertian mendalam atas sifat kesalingtergantungan. Jika anda benar-benar menyentuh setangkai bunga secara mendalam, anda menyentuh seluruh alam semesta. Alam semesta bukan satu ataupun banyak. Ketika anda menyentuh satu maka anda menyentuh banyak, ketika anda menyentuh banyak maka anda menyentuh satu…”

Sutra yang terakhir disebut dalam buku ini adalah Sutra Teratai (Kinh Phap Hoa). Menurut penulis, dua ajaran utama dalam Sutra Teratai adalah: (1) Setiap orang mempunyai kapasitas untuk menjadi seorang Buddha yang tercerahkan secara penuh; dan (2) Buddha hadir di setiap tempat, setiap saat. Saya percaya bahwa dua konsep-konsep ini bisa diterima oleh semua tradisi-tradisi buddhis. Penulis merekomendasikan kita untuk membaca bagian 2 dari sutra (“Skillfull Means”, Pham Phuong Tien) dengan hati-hati, karena ini poin penting yang mana banyak penganut ajaran Mahayana sering mengabaikannya: Hanya ada satu kendaraan (ekayana) untuk membawa kita menuju pembebasan. Penulis juga menyebutkan fakta bahwa konsep ini terdiri dari “Satu Kendaraan” (ekayana, Nhat Thua) juga termasuk dalam Sattipathana Sutta (Landasan Perhatian Murni, Kinh Quan Niem) dalam skrip Pali. Penulis melanjutkan dengan penjelasan mengenai pengertian dari semua bagian-bagian utama dari Sutra Teratai, yang mana menolong saya untuk lebih mengerti lebih dalam atas sutra yang cukup populer ini. Penulis merangkum pernyataan sebagai berikut:

“…kita bisa memasuki sutra teratai melalui 3 pintu. Pintu pertama adalah melalui dimensi historis, dimensi bentuk, tanda, dan fenomena. Pintu kedua adalah melalui dimensi tertinggi, dimensi isi utama, alamiah, dan noumena. Pintu ketiga adalah melalui dimensi aksi, yang mana kita mencoba untuk melayani, dipandu oleh begitu banyak bodhisatwa sebagai panutan.”

Buku ini juga menghadirkan banyak gagasan-gagasan praktis dalam meditasi dan gagasan untuk pengembangan pengertian mendalam, hidup harmonis dalam sebuah komunitas buddhis, pengembangan dari enam kebajikan tanpa batas (enam paramita), dan sebagainya…

“…ketika saya memungut sehelai daun, saya melihat bahwa sehelai daun tersebut seolah-olah sedang tumbuh pada musim semi dan seolah-olah gugur di akhir musim gugur. Kita juga demikian, kita muncul, memanifestasikan diri untuk membantu makhluk hidup lain juga membantu diri kita sendiri, dan kemudian kita menghilang. Kita mempunyai sebuah kekuatan yang unik dalam diri kita. Jika kita hidup dalam keseharian secara berkesadaran, jika kita berjalan dengan sadar, dengan cinta dan kepedulian, kita akan menghasilkan keajaiban dan merubah dunia ini menjadi sebuah tempat yang menakjubkan. Berjalan dengan perlahan-lahan, dengan berkesadaran, adalah sebuah tindakan kebebasan. Anda berjalan dan anda membebaskan diri dari berbagai kekhawatiran, kegelisahan, proyek, dan kemelekatan. Satu langkah seperti itu memiliki kekuatan untuk membebaskan anda dari semua penderitaan. Hanya berada di situ, anda merubah diri anda, dan belas kasih anda akan menjadi saksi.”

Untuk mengakhiri resensi singkat ini, saya ingin mengutip puisi TNH di halaman terakhir buku ini:

Berjalan dengan ceria dalam dimensi tertinggi,
Berjalan dengan kedua kakimu,
Bukan berjalan dengan berjungkal terbalik,
Jika engkau berjalan dengan berjungkal terbalik, engkau akan kalah.

Mengajar dhamma dalam dimensi tertinggi,
guguran dedaunan memenuhi angkasa.
Jalan setapak bertaburan sinar rembulan di musim gugur.
Dharma berlimpah ruah di seluruh penjuru.

Berdiskusi dharma dalam dimensi tertingi,
Kita saling memandang dan tersenyum.
engkau adalah aku, sadarkah kamu?
Berbicara dan mendengarkan adalah satu.

Makan siang yang bergembira dalam dimensi historis,
Saya memberi makan semua generasi leluhur,
Dan juga semua generasi masa depan.
Bersama-sama, kita akan menemukan jalan kita.

Marah dalam dimensi historis,
Kita menutup mata dan melihat secara mendalam.
Dimanakah kita akan berada tiga ratus tahun kemudian?
Kita membuka mata kita dan saling berpelukan.

Beristirahat dalam dimensi tertingi,
menjadikan gunung salju sebagai bantal,
Dan awan pink indah sebagai selimut.
Tidak kurang apa pun.

meditasi berada dalam dimensi tertinggi,
berbagi tahta singa Prabhutaratna
setiap saat merupakan realisasi,
semua buah matang dan lezat.

(Thich Nhat Hanh, 1996)

oOo

Binh Anson,
Perth – Western Australia
August 1996.
anson@saigon.com

sumber: http://www.abuddhistlibrary.com/

Diterjemahkan oleh Aphin Burmansyah

Creative Commons LicenseArtikel ini boleh dikutip sebagian atau seluruhnya dengan tetap mencantumkan nama penulis dan url, tidak dimodifikasi dan non komersial. Karya ini dilindungi oleh lisensi Creative Commons License, kecuali yang tidak disebutkan demikian.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.