Proyektor Proyeksi Pikiran

Engkau tidak bisa memindahkan kearifan kepada orang lain. Benih kearifan sudah ada dalam setiap insan. Guru bijak dapat menyentuh dan membantu benih ini tumbuh dan berkembang. – Thich Nhat Hanh

pppPertama kali saya membaca kutipan bijak itu, saya sangat terinspirasi, apalagi kalau saya melirik kembali karir hidup yang pernah saya tempuh, begitu banyak peristiwa yang menghiasi perjalanan ini bahkan saya sering bersyukur ketika melihat lembaran kehidupan yang sering datang berkunjung dalam sesi meditasi duduk rutin. Sekarang saya tinggal di Wihara Dharmamegha (Awan Dharma) Plum Village, daerah selatan Perancis. Plum Village memiliki beberapa wihara yang masing-masing terpisah untuk monastik pria dan wanita.

Menuju kehidupan monastik
Kehidupan monastik, barangkali istilah ini tidak begitu populer bahkan di KBBI juga belum ada, monastik merupakan istilah umum untuk komunitas yang hidup bersama, ada metode praktik dan aturan yang disepakati bersama, salah satunya adalah hidup selibat, kalau contoh konret di Indonesia adalah para bhiksu dan bhiksuni juga samanera dan samaneri yang hidup membiara. Saya sendiri sama sekali tidak pernah merencanakan untuk hidup membiara, bahkan tidak pernah terbayangkan hidup saya akan seperti ini, rutin cukur rambut, jubah yang hanya ada satu model saja, tiga set jubah luar, satu mangkok, dan satu topi caping, kebutuhan yang paling mendasar bagi kami di sini.

Teringat ketika pulang dari India di awal tahun 2007, inspirasi untuk hidup membiara semakin besar, apalagi setelah berkunjung ke Dharamsala, Varanasi, dan Bodhgaya. Saya menerima penahbisan sramanera dari Bhante Dharmavimala di Wihara Ekayana Arama, setelah upacara penahbisan, seminggu kemudian saya minta izin pulang ke Batam untuk bertemu kakak dan adik, mereka semua “kaget” melihat saya yang sudah berjubah orange, berkepala gundul, saya ingat waktu pergi berkunjung ke rumah kakak ke-2, saya diusir dan dianggap orang bodoh, kakak saya mengancam dengan mengatakan “mulai hari ini jangan panggil saya koko lagi!” Walaupun sedih namun saya sudah memantapkan hati, saya terima apa adanya, walaupun belum sempat memberi penjelasan apa pun. Saya sendiri belum patah semangat walaupun diperlakukan demikian, justru tekad untuk berlatih rajin dan sepenuh hati semakin besar, yakin suatu hari nanti mereka bisa mengerti. Saya ingat 2 tahun kemudian saya pulang menjenguk mereka lagi, suasana sudah berbeda dan hampir semua keluarga menerima keputusan saya tetap hidup membiara, saya sendiri yakin bahwa memilih kehidupan seperti ini akan membawa banyak kebaikan dan manfaat.

Beberapa tahun hidup di dharamsala, sempat ke Library of Tibetan Works and Archives, Institute of Thosamling, dan Institute of Buddhist Dialectic, yang semuanya berkaitan erat dengan aliran Vajrayana Gelugpa, tahun 2008 saya menerima penahbisan ulang sramanera dari Yang Mulia Dalai Lama. Pertengahan tahun 2009 pergi ke Hanoi mengikuti retret Engaged Buddhism bersama monastik dari Plum Village yang dibimbing oleh Bhante Thich Nhat Hanh, dan setelah itu saya pindah dari India ke Perancis, pindah dari Institute of Buddhist Dialetic ke Plum Village.

Plum Village
Bhante Thich Nhat Hanh merupakan guru pembimbing utama kami di sini, seorang bhiksu Zen, penyair, dan tokoh perdamaian, syair pembuka yang saya terjemahkan di atas merupakan ucapan langsung dari beliau, apa yang beliau praktikkan itulah yang diajarkan, dan beliau mengajarkan praktik yang beliau sendiri sudah menerapkannya.

Bhante Thich Nhat Hanh yang kerap di sapa sebagai Thay, sapaan hormat bagi seorang bhiksu; beliau pernah menerima pertanyaan dari praktisi dari barat, mengapa beliau tertarik untuk hidup membiara? Saya ingat Thay selalu menceritakan kisah dulu ketika Thay membaca majalah yang bagian kovernya ada lukisan Buddha Sakyamuni yang duduk dengan damai dan tenang, Thay bilang, dia juga ingin damai dan tenang seperti Buddha, itulah benih yang muncul kala Thay masih belia, ada benih-benih kebaikan yang tersentuh saat itu, dan itulah yang membawa Thay ke karir monastik yang telah beliau tempuh lebih dari 60 tahun ini.

Koan
Kisah itu juga menyirami benih-benih kebaikan dalam diri saya, ketika merenung kembali mengapa saya juga berjalan di karir monastik? Bagi saya, pertanyaan ini seperti KOAN, dalam tradisi zen (Chan) juga banyak membicarakan KOAN, pertanyaan-pertanyaan atau kondisi yang mendasar kadang tidak bisa dipahami oleh rasionalisasi pikiran, pemahaman atas pertanyaan itu bisa lahir dari intuisi. Kadang saya anggap sebagai teka-teki misterius, semakin saya analisa justru semakin kabur, ketika bisa duduk dengan tenang dengan penuh kesadaran dan tidak menganalisa, kadang intuisi dan jawaban timbul begitu saja, tanpa harus ada upaya apa pun, sungguh menarik sekali, rasanya intuisi ini yang banyak menjawab pertanyaan hidup saya.

Menikmati duduk
Meditasi duduk di pagi hari sangatlah mempengaruhi seluruh kualitas hidup seharian, memulai hari dengan penuh kesadaran, mulai dari bangun tidur, membaca syair bangun tidur, minum air, gosok gigi, mengenakan jubah dan kemudian meditasi jalan menuju aula meditasi, duduk di bantalan meditasi memperhatikan napas sepanjang waktu menghadirkan energi damai dan tenang, saya merasa itulah yang Thay sebut bahwa beliau ingin duduk dengan damai dan tenang seperti Buddha Sakyamuni.

Saya masih ingat beberapa tahun lalu, ketika berlatih meditasi duduk, saya melihat ada proyektor otomatis dalam pikiran menyorotkan begitu banyak kejadian-kejadian lama seperti ketika saya berumur 5 atau 6 tahun saat masih SD, proyeksi itu muncul satu demi satu, serasa sedang menonton film kuno “black and white”. Di awal latihan, saya sering mencoba mencari tombol OFF karena merasa kurang nyaman makanya ingin mematikan proyektor itu, saya menciptakan kegelisahan dan ketakutan baru dan membuat suasana pikiran menjadi galuh, alih-alih setelah 45 menit, saya merasa sangat lelah karena sibuk ingin mematikan proyekor itu, tampaknya saya takut melihat kembali peristiwa pahit yang pernah terjadi semasa kecil.

Thay bilang, meditasi bisa disebut sukses ketika engkau menghasilkan energi baru untuk seharian, kalau setelah selesai meditasi dan engkau merasa kecapaian, tampaknya ada sesuatu yang kurang tepat dalam meditasi, sikap yang tepat adalah tidak menolak maupun tidak mengundang pikiran ketika dia muncul, ketika engkau mencoba menolak maka terjadi perang dalam pikiran, berdamailah dengan pikiran. Pikiran seperti arus sungai, engkau seperti seorang bocah yang duduk di pinggiran sungai menatap air sungai mengalir.

Tidak perlu mencari lagi
Setelah sekian tahun menerapkan nasihat beliau, kekaburan dalam koan saya menjadi sedikit lebih jernih, melirik kembali kenapa saya duduk di bantalan meditasi dengan kepala dicukur bersih, berjubah coklat, dan memperhatikan napas keluar dan masuk, duduk dengan penuh ketenangan dan kedamaian, senyum kecil hadir di bibir saya ketika menonton layar proyektor pikiran menyorotkan kejadian-kejadian masa lalu, saya juga tidak sibuk mencari tombol OFF lagi, saya juga tidak pernah menemukan tombol ON, saya mengerti kalau proyektor itu ON secara otomatis dan setelah itu otomatis OFF juga, tidak perlu terlalu gusar untuk mengutak-atik proyektor ajaib itu.

Pernah sekali ketika saya duduk dan memperhatikan proyektor itu ON, kemudian saya perhatikan dengan penuh kesadaran setiap layar yang muncul, saya jadi ingat nasihat Thay yang menceritakan bocah yang menatap sungai, jadi saya tatap proyeksi-proyeksi itu segenap perhatian, ternyata banyak kisah indah yang terjadi waktu kecil, dan begitu juga banyak kisah yang kurang indah, semua proyeksi itu membantu saya mengerti lebih dalam kehidupan semasa kecil, saya juga menjadi lebih berani bertatap muka langsung dengan kejadian masa lalu dan bersahabat dengan dia, ternyata dia adalah sahabat lama yang sering berkunjung dan selama ini tidak pernah saya gubris, semakin dalam pengertian maka semakin mudah untuk menerima apa adanya, pengertianlah membantu saya bisa menerima diri saya apa adanya, menerima sahabat lama saya apa adanya, banyak luka-luka mulai sembuh lewat meditasi, saya menjadi semakin yakin bahwa karir praktisi membawa begitu banyak kebahagiaan, penyembuhan, dan ketenangan.

Awal pertemuan dengan Buddha
Saya juga ingat ketika SD kelas 4, ketika saya mulai bersentuhan dengan ajaran Buddha, saya pernah mendapat buku pelajaran yang berisi kehidupan Siddharta, dari kelahiran hingga mencapai pencerahan, saya masih ingat di dalam buku itu ada lukisan dan bagian bawah ada kalimat yang menjelaskan kejadian dari lukisan itu. Saya senang sekali membaca buku itu, rasanya seperti membaca komik, bahkan saya baca buku itu berulang-ulang dan tidak bosan-bosan, saya yang berumur 10 tahun saat itu tampaknya mulai mengagumi semangat siddharta, beliau seperti seorang super hero, zaman itu sekitar tahun 1988, masa-masa super hero seperti superman, spiderman, dan sebagainya, tentu saja saya juga senang super hero pada masa kanak-kanak, namun saya juga diam-diam menjadikan siddharta sebagai super hero saya.

Saya ingat kisah super hero ini muncul dalam proyektor pikiran saya ketika sedang meditasi duduk rutin, dan mencoba menaruh kembali potongan puzzle yang hilang dan menjawab koan “mengapa saya hidup membiara sebagai bhiksu hingga saat ini?” Buku pelajaran agama Buddha itu memberi inspirasi sangat besar, walaupun waktu itu saya sendiri tidak menyadarinya, namun 20 tahun kemudian ketika dalam meditasi duduk dan melihat proyeksi yang tersorot dalam pikiran, saya menjadi lebih mengerti, saya kadang merasa cukup lugu ketika berhadapan dengan proyektor pikiran, apalagi ketika ingin mencari tombol OFF, kalau saat itu saya menemukan tombol OFF, maka banyak pertanyaan hidup, banyak koan yang akan terus menjadi misteri kehidupan, banyak simpul yang terus tidak bisa di leraikan, juga banyak hal-hal yang akan terus menjadi pertanyaan hidup.

Barangkali demikianlah Siddharta menjawab permasalahan-permasalahan yang dihadapinya lewat bertapa, setelah melakukan perenungan, kemudian bertapa di hutan, kembali lagi ke masyarakat untuk membantu banyak orang dan sambil melanjutkan pertapaan dan membangun komunitas. Zaman sekarang tampaknya tidak banyak orang yang punya waktu untuk melakukan pertapaan, apalagi di era internet, teman saya sering bilang kalau ada pertanyaan hidup yang sulit dijawab, maka tanya saja sama Google, tidak hanya itu saja, tapi zaman sekarang Facebook sudah menjadi bagian dari hidup manusia di abad ini.

Barangkali kita perlu mencari cara agar bisa berlatih bersama komputer dan internet daripada terhanyut dalam dunia maya, kami di plum village wajib membaca syair latihan sebelum menyalakan komputer, dan setiap kali mendengar suara lonceng, kami juga wajib berlatih berhenti dan bernapas dengan penuh kesadaran agar selalu terjaga dan tidak terhanyut dalam pekerjaan, latihan sehari-hari seperti inilah yang membantu kami selalu bersentuhan dengan benih baik dan kondisi-kondisi istimewa yang memang sudah ada dalam diri masing-masing.

Misteri
Tentu saja bukan tujuan saya untuk membuka tabir misteri, namun misteri akan terbuka perlahan-lahan ketika saya semakin tenang, damai, dan siap untuk menerimanya, saya tidak perlu pergi ke ahli supranatural untuk mencari tahu atau pergi ke hipnoterapi untuk meregresi kehidupan lampau, saya cukup puas dengan latihan yang kami terapkan di sini di Plum Village, bagaimana menghadirkan kewaspadaan dan kesadaran dalam setiap momen apakah itu lewat bernapas, berjalan dari satu tempat ke tempat lain, duduk, makan, kerja, mendengar suara lonceng, dan sebagainya.

Bagi kami di sini, meditasi bukanlah hanya terjadi ketika duduk bersila di aula meditasi saja, namun meditasi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, bahkan ketika sedang mengetik di depan komputer juga menjadi bagian dari meditasi, Thay mengajak kami untuk memperluas ruang lingkup meditasi dengan cara mempersatukannya dalam aktivitas sehari-hari, bukan hanya murid monastik yang melakukannya, namun sahabat awam yang berkunjung ke Plum Village juga berlatih metode yang sama persis, oleh karena itu kami menyebut sangha sebagai komunitas monastik pria dan wanita, komunitas praktisi awam pria dan wanita yang kami sebuat sebagai 4 lapisan sangha yang berlatih untuk hidup harmonis dan penuh kesadaran dan kewaspadaan dalam setiap momen.

Komunitas harmonis
Karir perjalanan spiritual tentu saja akan sangat menyenangkan jikalau ada sahabat seperjalanan, bersama-sama menuju ke arah kebangkitan kewaspadaan dan menghadirkan kedamaian, Buddha Sakyamuni juga demikian, setelah beliau sadar sepenuhnya, beliau pergi bertemu dengan sahabat seperjuangannya, berbagi hasil latihan kemudian bersama-sama membangun komunitas yang bergerak menuju kesadaran sepenuhnya. Membangun komunitas yang hidup harmonis merupakan elemen sangat penting, Buddha Sakyamuni seorang pembangun komunitas cemerlang, dalam waktu singkat saja komunitasnya sudah mencapai ribuan orang, kami di sini juga ingin seperti Buddha, meneruskan karirnya membangun komunitas latihan yang hidup harmonis menuju kesadaran penuh, saling mendukung dalam sepanjang jalan ini, kami mengalir bagaikan air sungai, tiada lagi cerai berai pemisah, semoga engkau juga menemukan komunitas latihan yang hidup bersama secara harmonis.

Artikel ini ditulis khusus buat majalah Sinar Dharma.

Creative Commons LicenseArtikel ini boleh dikutip sebagian atau seluruhnya dengan tetap mencantumkan nama penulis dan url, tidak dimodifikasi dan non komersial. Karya ini dilindungi oleh lisensi Creative Commons License, kecuali yang tidak disebutkan demikian.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>