Senyum, Air, dan Debu

senyum-air-debu

Pemandangan di Plum Village Thailand

Saya punya tiga pertanyaan buat Anda, tenang saja, gampang kok! Tidak ada tolak ukur lulus atau gagal, Anda cukup menjawab dalam hati saja.

1.Dalam sehari apakah Anda menyediakan waktu untuk menenangkan diri?
2.Dalam sehari Anda mandi berapa kali?
3.Dalam seminggu Anda membersihkan kamar berapa kali?

Saya yakin Anda sudah menjawab tiga pertanyaan di atas, Anda tidak perlu meng-google untuk mencari jawabanyya, juga tidak perlu memutar otak 7 keliling, Anda juga tidak perlu ke tukang ramal atau pergi ciamsi, Anda tidak perlu pakai kalkulator apalagi komputer untuk menjawabnya.

Mari kita bersama-sama menelusuri lebih dalam satu per satu pertanyaan di atas. Saya tidak tahu Anda menyisihkan waktu untuk melakukan relaksasi badan jasmani dan pikiran atau tidak, inilah yang saya sebut dengan menenangkan diri yakni menenangkan fisik dan mental.

Di pusat latihan meditasi Plum Village, kami selalu menyediakan waktu untuk menenangkan diri sepanjang hari lewat berbagai pendekatan dan teknik, contohnya ketika kami mendengar bel atau bunyi lonceng pertanda ganti jadwal, kami selalu berhenti dan bernapas sadar penuh; kemudian ketika kami berjalan juga menerapkan relaksasi badan, ketika kami duduk di ruang makan, di mobil, di aula meditasi, kami selalu menerapkan metode relaksasi fisik dan mental, sehingga mental bisa terkonsentrasi dan melahirkan penyadaran, pengertian, pemahaman, kearifan bijaksana.

Pendekatan seperti ini mengingatkan saya akan sebuah pepatah Indonesia yang berbunyi, “Sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit”. Kami menyebutnya sebagai pencerahan kecil, jadi kami mengumpulkan pencerahan kecil sana-sini yang nantinya akan menjadi pencerahan besar!

Senyum
Pukul 5 pagi ada bel bangun tidur (wake up bell), di luar sana masih gelap, seketika terjaga saya tersenyum, ini merupakan sebuah latihan, walau memang harus saya akui bahwa latihan ini tidak selalu sukses, kadang senyum kecut, namun perlahan-lahan senyum menjadi sesuatu yang indah di pagi hari.

Saya suka bergadang waktu kuliah di Bandung, apalagi mengejar laporan praktikum, dan itu sudah menjadi kebiasaan, setelah bergabung dengan sanggha monastik, kebiasaan begadang juga mulai berubah. Di pusat latihan, kami punya jam malam yakni 9:30 jadwal light off (matikan lampu), dan pukul 10:00 jadwal noble silent (waktu hening), dengan demikian semua monastik sudah siap-siap berkelana di “dunia mimpi”.

Tidur dalam keadaan relaks dan damai, maka dunia mimpi saya juga secara alami menjadi indah, demikian pula sebaliknya. Kondisi ini juga ikut memberi pengaruh pada kesuksesan senyum seketika membuka mata di pagi hari.

Senyum di pagi hari memberi pengaruh besar bagi aktivitas seharian, efeknya juga begitu besar, senyum menghadirkan relaksasi wajah, dan relaksasi ini bahkan terus walaupun di toilet, buang air kecil, cuci muka, dan gosok gigi, ketika menatap cermin saya tersenyum, demikianlah cara saya menghadirkan relaksasi dan kedamaian setiap momen, ini yang disebut memproduksi kebahagiaan dari hati.

Setiap kali ke ruang makan monastik, bertemu dengan para bhante, samanera, samaneri, dan anagarini, saya juga tersenyum kecil, karena saya mensyukuri bahwa kami masih bisa berkumpul untuk makan bersama layaknya sebuah keluarga. Duduk dan beranjali menatap sarapan yang akan segera saya santap, tidak lupa saya bernapas masuk dan keluar untuk menyatakan syukur bahwa masih ada sesuatu yang bisa saya santap hari ini, sungguh suatu keberuntungan, ini kembali membuat saya tersenyum kecil.

Saya menjadi yakin bahwa senyum kecil-kecil inilah yang membuat hidup menjadi lebih indah, senyum-senyum tulus dengan penuh kesadaran ini berlanjut dalam kehidupan, sehingga kualitas hidup menjadi lebih baik, kebahagiaan juga terus menerus tercipta dari aksi sederhana, barangkali Anda juga ingin mencoba saran-saran di atas.

Aksi sederhana dalam kehidupan bisa menjadi momen-momen untuk menenangkan diri, senyum juga merupakan aksi sederhana, cara menenangkan diri, walaupun saya tahu persis ada sesuatu yang masih kurang mengena namun saya tidak hanya terjebak pada sisi kesedihan saja, lewat senyum melahirkan energi baru untuk berhadapan dengan kesedihan.

Sekarang saya ingin mengajak Anda untuk melihat lebih dalam pertanyaan kedua: Dalam sehari Anda mandi berapa kali? Saya punya beberapa jawaban untuk pertanyaan ini, saya lebih sering mandi sehari sekali. Saya kadang mandi dua kali sehari kalau banyak keringat. Apakah Anda juga demikian?

Air
Waktu saya kecil, saya suka mandi sehari beberapa kali. Dulu waktu sekolah saya jarang mandi pagi, paling hanya cuci muka dan gosok gigi saja, terus langsung cabut ke sekolah. Pulang sekolah sudah siang, dan kebetulan rumah dekat dengan kali, maka saya suka pergi main di kali. Maklum masih anak-anak jadi belum mengerti ajaran Buddha, saya suka pergi mancing di kali, dan kalau sudah gerah mancing ujung-ujungnya pasti jebur ke kali berenang. Lalu pulang ke rumah mandi lagi untuk membersihkan diri, dan kami juga punya kebiasaan mandi sore sebelum makan malam. Apakah Anda ingat kebiasaan mandi masa kecil?

Zaman dahulu, kami punya bak mandi, jadi sebelum mandi harus menimba air dari sumur terlebih dahulu. Zaman sekarang memang sudah serba elektrik, tinggal putar keran maka, air sudah mengucur. Saya masih ingat waktu dulu di desa kami punya sumur yang bening, airnya jernih dan sepanjang tahun hampir tidak pernah kering. Hidup di kota besar seperti Jakarta, saya sudah tidak pernah melihat sumur lagi, dan kadang saya berpikir dari manakah air ini? Air mengalir lewat pipa-pipa ledeng ini berasal dari mana? Kemanakah air ini akan mengalir selanjutnya? Inilah pertanyaan yang kadang muncul.

Setiap kali mandi, saya selalu merenung bahwa air sangatlah berharga, waktu kecil saya tidak pernah berpikir demikian, tidak pernah mensyukuri bahwa air bersih selalu ada, sekarang hidup di kota besar membantu saya merenung lebih dalam agar tidak boros dalam pemakaian air. Dunia ini tidak hanya dalam kondisi kritis yang mengakibatkan efek perubahan iklim namun dunia ini juga berada dalam kondisi krisis air bersih.

Air untuk mandi, air untuk mencuci peralatan makanan, air untuk minum, dan sebagainya. Saya sedih setiap kali melihat kali-kali yang berwarna hitam di sekitar Jakarta, saya selalu membanyangkan betapa asrinya Jakarta jika mundur 100 tahun.

Sebagai wujud kesadaran dan juga sebuah bentuk meditasi, saya ingin mengajak Anda semua untuk mensyukuri air dan membangun kebiasaan baru untuk menghemat air, kemudian menganjurkan saudara-saudari juga teman-teman Anda untuk menghemat air. Namun Anda juga boleh memperluas ruang cakupannya, tidak hanya sebatas air saja, namun bisa berbentuk hemat listrik, hemat makanan, hemat uang.

Sekarang tiba pada pertanyaan ketiga, dalam seminggu Anda membersihkan kamar berapa kali? Tampaknya bukan pertanyaan yang membutuhkan kalkulator, benar kan? Jadi berapa kali? Kalau saya sendiri, em…….. sekitar 1 minggu sekali, lebih kurang. Memang bagus kalau bisa setiap hari membersihkan kamar, namun kenyataanya tidak demikian.

Debu
Anda pasti sudah tahu kalau kamar dibiarkan berhari-hari maka, kamar sudah pasti akan berdebu. Anda punya dua pilihan, pertama membiarkannya begitu saja, hidup bersama debu, atau Anda memilih untuk mulai membersihkan satu per satu sudut sana dan sini.

Saya akan mulai dengan beberapa tarikan napas, dan dalam hati saya akan bilang:

Napas masuk, saya tahu kamar saya sudah berantakan dan berdebu
Napas keluar, kamar berantakan dan berdebu tidaklah nyaman
Napas masuk, saya ingin membersihkan kamar
Napas masuk, kamar akan menjadi lebih nyaman dan bersih

Ini cara saya bermeditasi dan membangkitkan semangat dari dalam diri untuk mulai bersih-bersih, saya akan mulai ambil kemoceng bersih-bersih, kemudian menyapu lantai, dan seterusnya. Barusan kamar kuti (tempat tinggal para biarawan buddhis) saya kosong selama dua minggu karena saya pergi ke Thailand, dua minggu saja sudah cukup bagi debu menebar ke sana-sini, demikian juga ruang tamu dan toilet. Bayangkan sendiri seberapa tebal debu? Daripada sibuk mengurus Capres, mending urus debu di kamar dan sekaligus debu di hati. Anda pernah tahu atau baca syair dari Zen Master Shen Xiu (玉泉神秀, Pin: Yuquan Shenxiu)? Simak kutipan berikut ini:

身是菩提樹,
心如明鏡臺。
時時勤拂拭,
勿使惹塵埃。

Badan Jasmani bagaikan Pohon Bodhi,
Batin sebagaimana cermin tegap berdiri
Bersihkanlah cermin itu dengan rajin setiap hari
Biarkan debu ketidaktahuan tidak menempel lagi.

Saya sangat tersentuh membaca puisi ini, setiap kali saya melihat kamar, ruang tamu dan toilet di kuti tempat saya tinggal kotor, saya selalu ingat syair puisi dari Zen Master Shen Xiu. Siapakah beliau? Anda boleh coba membaca biografi singkat Zen Master Shen Xiu.

Saya jarang membaca ada yang memuji syair tersebut, karena syair ini di balas oleh Zen Master Hui Neng (sesepuh Chan ke-6 dari Tiongkok), yang menarik perhatian banyak orang. Memang benar syair Hui Neng sangatlah indah, namun keindahan syair Hui Neng juga lahir atas bantuan dari Shen Xiu, kalau bukan syair dari Shen Xiu bagaimana mungkin Hui Neng bisa melahirkan syair indah juga? Syair Hui Neng sebagai berikut:

菩提本無樹,
明鏡亦非臺。
本來無一物,
何處惹塵埃。

Pada dasarnya Bodhi memang tidak memiliki pohon
Demikian pula cermin juga tidak berdiri tegap
Pada dasarnya segala sesuatu tidaklah tunggal
Demikian pula bagaimana mungkin debu menempel di atas cermin?

Kita memang perlu memulai seperti apa yang disampaikan oleh Shenxiu, syair tersebut sesuai dengan ajaran Buddha yakni meditasi menyadari bahwa badan jasmani itu ada, landasan dari “ada” berdasarkan panca indera, yakni bisa di rasakan, diraba, disentuh, dibau, didengar, dikecap.

Berlatih meditasi juga demikian, dalam Satipatthana Sutta menyebutkan menyadari akan kehadiran badan jasmani (身, Pin: Shēn), mulai dari sesuatu yang lebih solid, apakah badan terasa tegang? Apakah badan sedang relaks? Apakah badan sedang sakit? Inilah tahap awal yang perlu kita ketahui tentang apa yang sedang terjadi dalam badan jasmani kita.

Langkah selanjutnya menyadari tentang perasaan (受, Pin: Shòu), perasaan tergolong tidak solid, hanya bisa dirasakan lewat merasakan secara langsung kemudian direspon oleh pikiran apakah itu nyaman atau tidak nyaman, maupun netral.

Penyadaran selanjutnya tentang hati atau pikiran (心, Pin: Xīn), karakter ini berasal dari gambar hati, kadang diterjemahkan hati atau pikiran, menyadari apa yang terjadi dalam proses pemikiran.

Penyadaran selanjutnya tentang objek pikiran (法, Pin: Fǎ), karakter ini memiliki makna ganda, Anda akan menyadari bahwa Dharma juga memiliki karakter yang sama, namun dalam konteks ini diterjemahkan menjadi fenomena atau objek pikiran. Proses meditasi akan perlahan-lahan mendalam untuk menyelediki debu seperti apa yang sudah menempel di cermin kita, seketika terdeteksi maka tugas kita untuk mentransformasi debu itu menjadi makanan kalbu. Seperti petani mahir menggunakan sampah kompos untuk dijadikan sebagai pupuk.

Saya menjadi sangat bersemangat membersihkan cermin setiap hari, membersihkan kamar saya seminggu sekali. Kalau suatu ketika saya merasa kesal dengan debu, mengapa harus ada debu setiap hari? Maka saya akan membaca syair Hui Neng, bahwa sesungguhnya debu itu bukanlah debu itu sendiri, karena debu terbentuk dari berbagai elemen, debu terbentuk dari partikel pasir kecil, kulit halus manusia, komponen molekul kecil dan sebagainya. Kalau saya kesal dengan debu berarti saya juga akan kesal dengan udara, pasir, jendela, pintu, dan sebagainya. Alangkah menyengsarakan hidup saya jika demikian.

Sadarilah bahwa debu hadir lewat kondisi-kondisi yang datang bersama untuk membentuknya, kalau semua kondisi penyebab lengkap maka hadirlah debu. Kamar bisa bersih juga karena saya menciptakan kondisi baru yakni membangkitkan semangat dan mulai membersihkan debu dan menyapu.

Lanjutkan terus membersihkan debu karena debu akan terus datang kembali, seperti main hide and seek. Dua syair di atas sangatlah membantu saya melihat bahwa begitu erat kehidupan dengan meditasi itu sendiri, karena kehidupan itu sendiri adalah meditasi jua.

Creative Commons LicenseArtikel ini boleh dikutip sebagian atau seluruhnya dengan tetap mencantumkan nama penulis dan url, tidak dimodifikasi dan non komersial. Karya ini dilindungi oleh lisensi Creative Commons License, kecuali yang tidak disebutkan demikian.

2 comments on “Senyum, Air, dan Debu

  1. Cen Aug 18, 2014 10:45

    Bhante, tulisannya bagus2…terimakasih sudah menulis…

    • nyanabhadra Aug 18, 2014 10:52

      Hello Acen,

      Sering-sering mampir yah. Semoga keluarga sehat, bahagia dan damai.

      Salam dari sini,
      B. Nyanabhadra

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>